Jaga Diri, Jaga Anies

Oleh: Iyyas Subiakto
Energi kita habis ngurusi orang yg memang bengal dan sedang melawan pemerintah utk mengatasi wabah yg sedang ada. Lupakan dia, kembali kediri kita saja.
Pertama pemerintah hrs lebih jelas menyatakan sejauh mana masker bisa menjamin perlindungan, apakah hrs ganti setiap dua jam, dst. Jenis masker seperti apa yg paling aman karena sekarang tukang dawetpun jualan masker.
 
Andai masker tidak ckp apalagi yg hrs disiapkan. Selain drop let apakah penularan yg paling mungkin, jaga jarak itu sebenarnya utk apa, menghindari sentuhan atau drop let, Kalau bersentuhan dan desakan tdk apa-apa ya masker ckp utk melindungi diri.
Sekarang ini kan pada bingung, seolah berdesakan yg membuat penularan besar, padahal bisa saja karena rapid test tambah masal yg menandakan keterjangkitan sdh lama banyak, tp kalau di bandingkan yg terpapar dan sembuh serta kematian, sebenarnya ya % tasenya kecil, artinya dari setiap yg terpapar apakah 14 hari sdh sembuh atau aman, imun tubuh jenis apa yg lebih kuat, karena secara nyata banyak yg terpapar yg tinggal dlm satu rumah tak semua terkena imbasnya.
Ini sdh banyak contoh, terakhir di Kaban Jahe Sumut. Suaminya kena COVID dan meninggal, diurus oleh keluarga dan tetangga, serta anak istrinya, berjalan dua Minggu tidak ada satupun yg tertular, terus gimana kl begitu kasusnya. Walau tdk boleh menggampangkan dan hrs waspada, tapi standar kewaspadaan yg mana yg benar-benar hrs di jalankan. Sehingga kalau PSBB nya Anis yg tak masuk diakal bisa dilawan.
Kalau lihat statistiknya kan susah dirumuskan, seperti angka per tgl. 10 Sept 20.
Wil kasus smbh wafat
Nas 207rb 71,4% 4%
JKT 51rb 74% 2,6%
Jatim 37rb 78% 7,2%
Jatng 16rb 64% 6,8%
Jabar 13rb 50% 2%
Sulsel13rb 76% 2,8%
Bila dilihat angka diatas JKT adalah daerah yg tdk menakutkan seperti yg diberitakan. Tingkat sembuhnya diatas nasional dan meninggal dibawah nasional. Justru Jatim dan Jateng yg mengkhawatirkan walau sembuhnya diatas JKT tp meninggalnya tertinggi di Indonesia.
Pertanyaannya, apakah mau menekan penularan atau memacu penyembuhan. Artinya sebanyak apapun yg terpapar selama bisa sembuh why not. Hanya saja bila penyembuhan itu hrs diisolasi di RS menjadi persoalan lain, tapi kalau sembuh dari isolasi mandiri kan tinggal dibuat juklak yg jelas, skrg ini kan tidak, malah yg ada yg terpapar seolah kena kutukan.
Jakarta persoalan yg kebetulan dikelola oleh orang gila, tapi pemerintah harus segera membuat standar baru dlm penanganan mandiri, tidak melulu menghitung jumlah bed RS yg pasti tdk cukup.
MARI SADAR DIRI, MENJAGA DIRI KARENA ANIS ITU CUMA KUDIS SOSIAL YG TAK LAYAK DISOAL.
 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Friday, September 11, 2020 - 23:00
Kategori Rubrik: