Jaga Akal Warasmu

ilustrasi

Oleh : Fauzan Mukrim

#dearRiver
Hari ini saya masih mengikuti perkembangan sebuah kasus kriminal di Surabaya. Karena cekcok, seorang perempuan bernama Putri Narulita dibakar oleh Maspuriyanto, suaminya. Putri dibakar saat sedang tidur. Sedihnya lagi, itu terjadi saat ibunya sedang menginap di rumah sewaan mereka. Putri mengalami luka bakar parah, dan kabarnya ibunya sendiri yang mengantarkannya ke rumah sakit dengan menumpang becak.
Maspuryanto kabur setelah itu. Polisi masih mengejarnya dan diduga ia kabur ke Pati.

Nak, berita semacam ini selalu menggores hati lebih dalam. Karena rasanya sangat jauh sekaligus sangat dekat. Apalagi setelah punya anak perempuan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang ibu melihat putrinya disakiti begitu rupa, dibakar oleh seseorang yang ia percayakan hidupnya. Putri yang ia serahkan di prosesi akad nikah untuk dijaga.

...
Salah satu doa yang selalu saya panjatkan adalah semoga saya selalu diberi akal sehat sehingga tak pernah menyakiti ibumu, juga kalian anak-anakku, fisik maupun psikis.

Itu pun kadang saya merasa gagal juga.

Setidaknya dua kali saya membuat ibumu menangis. Yang pertama, saya ingat betul, pada suatu malam ia minta dipijit. Karena minyak GPU entah ditaro di mana, saya balurkan krim Salonpas di badannya. Tapi saya salah ambil, yang saya pakai ternyata Salonpas Hot yang panasnya luar biasa itu. Ia beneran menangis.

Menangis kedua terjadi minggu lalu. Pagi-pagi sekali ia sudah sibuk mengurusi keperluan kalian. Adik Rain juga minta dibuatkan telor dadar. Lalu saya mengingatkannya kepada sesuatu. "Ma, kamu belum sepedaan pagi ini."

Dan ia tiba-tiba meledak.
"Ya udah, Ayah sana yang masak!" Ia meletakkan tiga butir telur di tanganku, dan menuju ke sepeda statisnya. Ia menggenjot sambil menangis.
Kaget dong saya. Saya tidak tahu suasana batinnya ketika itu. Tapi yang jelas saya tiba-tiba merasa bersalah. Mungkin ia berpikir saya memaksanya untuk kembali ke bentuk tertentu. Padahal tidak sama sekali. Seperti ia terhadap saya, saya pun akan selalu menerimanya apa adanya. Itu hanya semacam dukungan agar kami tetap dalam situasi terbaik sesuai umur.

Malam sebelumnya, saya menemukan sebuah CD berisi foto-foto waktu ibumu muda, sebelum kami menikah. Ada foto-foto perjalanannya ke berbagai pelosok Nusantara, dari Sabang sampai Rote. Ia terlihat energik dan gembira. Saya jadi merenung, setelah kami menikah, seberapa banyak kegembiraannya hilang. Seberapa banyak langkahnya hilang. Saya tidak bilang padanya soal CD itu. Ketika pagi itu saya mengingatkannya untuk olahraga lagi, saya hanya ingin kegembiraannya tidak terlalu cepat pudar karena "terkungkung" rutinitas rumah tangga.

Pun hari ini, Facebook mengingatkan bahwa 5 tahun lalu, ia pernah menempuh jarak terjauh yang bahkan saya pun tak mampu melakukannya sejauh ini. Rekorku belum sampai di situ.
Kalau kamu ingat, Nak, kita mengantarnya di garis Start, dan kita lihat betapa bahagianya ia ketika sampai di garis Finish.

Seperti dulu, Nak, saya hanya ingin ia terus bahagia, baik dengan berlari, berjalan, atau sekadar berdiam memandangi bunga-bunga.

Ingatkan bila saya lupa.
Kamu anaknya, darah dagingnya, datang dari dirinya. Sedangkan saya hanya orang luar yang datang kemudian di kehidupannya. Tapi dalam hal siapa yang lebih mencintai perempuan itu, kita boleh bertarung.

#selfreminder
#masihmalamKamis

Sumber : Status Facebook Fauzan Mukrim

Thursday, October 17, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: