Jadilah Penceramah Pendamai

ilustrasi

Oleh : Ahmad Mustain

ni menjadi catatan, bukan saja untuk "pendakwah" itu, melainkan juga panitia yang akan mengundangnya. "Pendakwah" semestinya introspeksi mengapa ditolak oleh masyarakat yang sama-sama umat Islam. Jangan merasa diri seperti Kanjeng Nabi saw yang dakwahnya ditolak dan ditentang bangsa Quraisy yang musyrik. Begitu juga panitia atau event organizer-nya seyogyanya mempertimbangkan perasaan mayoritas masyarakat di sekitarnya yang berpaham Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) dan mengikuti mazhab Syafi'i. Jangan mengundang "pendakwah" yang suka mencaci maki praktik/amaliah dan konsep teologis serta simbol-simbol keagamaan mereka.

Kata "pendakwah" sengaja ditulis di antara tanda kutip, karena sebenarnya bukanlah orang-orang yang mengajak untuk berbuat kebaikan, melainkan praktik ceramahnya lebih kental dengan nuansa kebencian. Mungkin yang lebih tepat bukanlah pendakwah, melainkan pendengki (kepada Kanjeng Nabi saw, keluarganya dan para ulama atau kiai yang sudah terlebih dulu dipercaya masyarakat sebagai pemuka mereka).

Kanjeng Nabi saw pernah dawuh, "Berpidatolah dengan bahasa yang sesuai kadar pemahaman pendengar!" Bahasa yang digunakan saja disuruh disesuaikan dengan kadar akal para audiens, apalagi soal mazhab dan teologi!

Kalau mayoritas masyarakat di sekitarmu berpaham Aswaja dan bermazhab Syafi'i, ya jangan mengajarkan paham lain yang bertentangan dengannya. Bahkan ba'dul ulama melarang seseorang mempelajari dan mengikuti mazhab lain yang berbeda dari mereka yang diikuti oleh mayoritas masyarakat di sekitarnya. 
(Silakan dibaca : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214421885684899&id=1351344566)

Sumber : Status Facebook Ahmad Mustain

Sunday, June 30, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: