Jadilah Negarawan Jangan Jadi Preman

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Saya pernah digeruduk oleh Kokam gegara menulis ttg Pak Din yg waktu itu dlm ceramahnya di Sby menyampaikan gap ekonomi antara pri dan non pri, walau statementnya samar, tp arahnya jelas kesana. Saya hanya bertanya waktu dia jadi ketua tim riset ekonomi zaman orba, dia adalah pentolan Golkar, kalau akhirnya orba salah arah meletakkan pondasi ekonomi, Pak Din, ngeriset apa, apa nggak belajar dari Malaysia.

Saya tidak pernah punya urusan dgn Pak Din, dia public figur, ex Ketum Muhammadiyah, dan sampai skrg msh menjabat entah apalah di MUI, ormas islam yg belakangan juga agak gimana gitu isi dan fatwanya. Banyak hal yg selalu di celotehkannya kepada negara, seolah dia gerah kepada Indonesia, apa karena dia gak pernah dpt jabatan yg bs di banggakan sampai seolah pemerintah ini semua salah.

 

Sekarang dia membela Said Didu, kalau saja dia waras, cermatilah ucapan Said Didu dari pikiran seorang public figur dan seorang Profesor yg kesohor, masaklah pikirannya longsor.

Gampang kok kalau Pak Din mau berfikir jernih, apa pantas ucapan Said Didu, tapi kan semua kita tau apa kepentingannya dan kemana arahnya, Said ini kan salah satu orang pecatan dari jabatan di pemerintahan, sama dgn Anies, lihat gesturnya, mimiknya, lirik matanya, semua memendam ketidak sukaan kepada langkah pemerintah. Mereka adalah orangnya Pak JK yg seolah sengaja dibiarkan menyalak dlm semua hal yg sedang di lakukan pemerintah. Sekarang pribadi LBP di serang, besok entah siapa lagi, terus saja begini, sampai mereka mati tak pernah henti.

Pak Din, anda adalah tokoh islam, berprilakulah scr islami, bukan malah memgompori urusan yg harusnya sangat tdk berarti yg mulanya krn mulut usil Said Didu yg du***, bukannya Bapak mendinginkan, malah membangun front keributan. Maaf jangan Bapak benturkan kepentingan pribadi Said Didu dgn membawa nama islam ya, krn saya membaca bisa kesana, sebab LBP adalah penganut kristen taat seperti Ahok, jgn dikotomi lagi islam-non islam, capek kita, negeri ini sdg menanggung derita jangan pula ditambah hal yg tak berguna.

Kalian mau berpolitik silakan, tapi jgn bawa rakyat ini ke pusaran yg makin menyakitkan. Nanti saja kalau mau berpolitik, mau pakai akal cerdik atau licik, asal jgn rakyat di utak atik di jadikan pemantik kerusuhan karena perut yg hampir kelaparan ini mudah di jerumuskan. Berhentilah Pak, jadilah negarawan berkelas, bukan orang culas. Tidak usah cari contoh yg jauh, di pelupuk mata Bapak ada Buya Syafii Maarif, yg sangat arif. Dialah orang tua kita yg bisa jadi panutan, karena prilakunya tdk pernah menjengkelkan, maaf seperti yg Bapak perankan.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, April 7, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: