Jacky Manuputty, Sang Provokator Perdamaian

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Nama lengkapnya Jacklevyn Frits Manuputty. Tapi saya biasa menyapanya Bung Jacky. Kadang-kadang saya panggil "Bapen" (Bapa Pendeta). Bung Jacky memang seorang pendeta, tepatnya "pendeta biasa yang luar biasa" dari Gereja Protestan Maluku (GPM). Bukan hanya "pendeta luar biasa" tapi juga "biasa diluar" karena sering keluyuran ke berbagai daerah dan pelosok Tanah Air, dan bahkan mancanegara untuk menebarkan spirit perdamaian global.

Luar biasa karena Bung Jacky sudah banyak berjasa untuk proses-proses rekonsiliasi, toleransi, dan perdamaian Kristen-Muslim di Maluku khususnya dan Indonesia pada umumnya dengan aksi-aksi nyatanya yang melintas batas-batas agama, etnis dan budaya.

 

 

Jika Maluku dan Ambon khususnya kini bisa menjelma menjadi kawasan yang cukup damai dan toleran, itu, antara lain, karena hasil dari kerja kerasnya yang sangat telaten dalam merajut hubungan persaudaraan Kristen-Muslim yang sempat terkoyak dan hancur-lebur gegara didera oleh kerusuhan sektarian sejak Januari 1999 hingga sekitar lima tahun ke depan, sebuah kekerasan komunal yang menyebabkan korban ribuan jiwa dan harta-benda tak terhingga nilainya.

Bung Jacky tentu saja tidak sendirian. Ada cukup banyak para pegiat perdamaian di Amboina dan Maluku, baik Kristen maupun Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, baik tokoh agama maupun tokoh adat, baik tua maupun muda, dan seterusnya.

Sejak detik pertama kerusuhan Ambon/Maluku meletus, Bung Jacky sudah terlibat proses-proses perdamaian. Setelah kekerasan mereda, spirit menciptakan perdamaian bukan surut dan mereda tapi kian membara karena kekerasan bisa meletus kapan saja. Maka, untuk mengantisipanya perlu menciptakan masyarakat yang cerdas dan dewasa supaya kebal dari provokasi kebencian dan hasutan.

Ia, bersama sejumlah rekan Muslim dan Katolik, kemudian mendirikan Lembaga Antariman Maluku, dimana ia sendiri pernah menjadi direkturnya. Bung Jacky juga mendirikan sebuah "lembaga informal" lintasagama bernama "Peace Provocateurs" atau "Provokator Perdamaian". Berbeda dengan sejumlah lembaga keagamaan di Indonesia yang gigih memproduksi ujaran kebencian dan intoleransi, "Provokator Perdamaian" gigih memproduksi ujaran cinta-kasih dan toleransi.

***

Kerja keras Bung Jacky dalam merajut perdamaian dan toleransi itu diganjar dengan sejumlah penghargaan. Ia pernah menerima "Ma'arif Award" untuk kategori Pekerja Perdamaian. Ma'arif Award disponsori oleh Ma'arif Institute, sebuah lembaga yang didirikan oleh Buya Syafii Maarif, salah satu tokoh Muhamamdiyah yang saya kagumi intelektualitas, komitmen, dedikasi, semangat nasionalisme, dan spirit juangnya dalam membela keanekaragaman bangsa.

Bung Jacky juga pernah memperoleh penghargaan bergengsi dari Tanenbaum Center for Interreligious Understanding, sebuah lembaga yang berbasis di New York, untuk kategori "Peacemakers in Action". Dengan penghargaan ini, Bung Jacky bergabung dengan para tokoh perdamaian dari berbagai negara dan berbagai agama untuk bersama-sama berbagi kisah dan sekaligus berjuang untuk perdamaian kemanusiaan (silakan lihat disini: https://tanenbaum.org/peacemakers-in-…/meet-the-peacemakers/).

Belum lama ini saya lihat Bung Jacky tampak sibuk menyambut rekan-rekannya sesama penerima penghargaan dari Tanenbaum Center yang berkunjung ke berbagai kota di Indonesia untuk mengisi diskusi dan berbagi kisah tentang toleransi dan perdamaian antaragama, yaitu Imam Muhammad Ashafa dan Pdt. James Wuye, dua tokoh perdamaian dari Nigeria.

Karena sepak terjangnya dalam perjuangan perdamaian dan toleransi antaragama inilah, Bung Kacky belakangan ditunjuk menjadi salah satu anggota Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antariman dan Antarperadaban.

***

Saya kenal Bung Jacky sejak di Amerika. Kebetulan, kala itu, ia sedang mengambil studi master di Hartford Seminary di bidang Pluralism and Interreligious Dialogue. Sementara saya sedang merencanakan riset disertasi di Boston University tentang kekerasan dan perdamaian di Maluku. Disertasi ini kelak menjadi sebuah buku yang diterbitkan oleh Routledge yang berbasis di London dan New York.

Selama riset disertasi, Bung Jacky banyak membantu saya: mengsuplai tulisan dan memperkenalkan saya ke para tokoh dan aktor di Maluku, baik aktor perdamaian" maupun mereka yang sempat terlibat menjadi "komandan perang" (baik Kristen maupun Muslim), untuk diwawancarai. Saya sendiri banyak melakukan wawancara dan ngobrol dengan Bung Jacky, yang kemudian menjadi sumber informasi penting di disertasi, tulisan dan buku.

Dalam konteks Indonesia yang sangat plural, baik dari segi agama maupun etnis, sehingga sangat rentan terhadap konflik, kekerasan, dan intoleransi, perlu tokoh-tokoh agama (dari agama manapun, baik agama lokal maupun "agama impor") seperti Bung Jacky ini yang bervisi toleran-pluralis-humanis dan mampu menjabarkan, mengtransformasi, dan menerapkan doktrin-doktrin agama untuk membangun dan mewujudkan toleransi, pluralisme, dan kemanusiaan universal.

Bung Jacky, kapan katong bisa makan bareng lai? Nanti beta yang traktir ale ee? Ikan cakalang, baronang, atau bubur Manado? he he

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Sunday, January 21, 2018 - 23:45
Kategori Rubrik: