Itu Karena Saya, Bukan Cadarnya (Testimoni Pemakai Cadar)

Oleh: Novianty Ipeh Syarif Saleh

 

Hidup itu pilihan..
Apa yang dipilih punya konsekwensi logis yang menyertai..

Perihal larangan untuk bercadar dan celana cingkrang di instansi/lembaga/perusahaan (jika mmg ada ya) yang lagi heboh bbrp waktu itu tidak begitu menarik buat saya bahas sebenarnya (laaah kok gtu, dasar Islam liberal, Islam ngga sunnah, palsu cadarmu itu Nov! You name it deh, aku: BODO AMAT)

 

 

 

 

Saya cuma ingin kita sama sama menyadari bahwa kita hidup di Indonesia yang beragam sekali, dengan pemahaman agama yang berbeda. Jangankan beda agama, Islam saja dipahami dengan cara yang beda beda. Is it a problem? HARUSNYA TIDAK. Harusnya perbedaan cara pandang dalam beragama tidak menjadi permasalahan jika kita sama sama legowo untuk menerima perbedaan. 

Begitu pula dengan Cadar dan Celana Cingkrang ada yang begitu gegap gempita bereaksi keras sampai menghujat terhadap larangan pemakaiannya di instansi/perusahaan. Ada juga yang kalem biasa saja dalam menghadapi malah cenderung tidak perduli. Novi masuk yang mana? Jujur saya masuk yang kalem dan biasa saja. Karena menurut saya ya jika itu sudah aturan ya ikuti saja, kalau mmg bisa diperjuangkan diubah silahkan dilakukan dengan cara cara konstitusional serta beradab. Bagaimana jika tidak bisa? Pilihannya cuma 2: Ikuti atau Ajukan Pensiun Dini. Sesimpel itu! Tapi pasti ada yang bilang Ya ngga simpel lah, ntr pensiun dini kerjaan gmana, mau ngasi nafkah gmana? Laaahh, kalau sudah siap hidup dengan syariat masa masih khawatir perkara perut?kerjaan kan dmana aja bisa asal ikhtiarnya halal PASTI Allah berikan rejekinya, bukan begituuu ajaran Tauhidnya

Jangan bikin rusuh karena Islam tidak mengajarkan demikian, jika memang kita mengklaim diri sebagai pengikut sunnah maka lakukanlah dengan cara cara Nabi dalam menasehati penguasa/pembuat aturannya. Jika tidak bisa ya tunjukkanlah dengan sikap dan akhlak kita dalam menjalankan nilai nilai agama. Tak perlu memaksakan karena Islam TIDAK PERNAH MEMAKSA. 

Pelarangan cadar/celana cingkrang sebenarnya jadi pelajaran buat saya pribadi sebagai pemakai cadar bahwa ada sesuatu yang salah mungkin dari sikap saya. Penolakan terhadap hal ini bukan tanpa dasar tapi karena adanya ketakutan ketakutan yang mungkin diciptakan oleh saya sebagai pemakainya tanpa sengaja maupun mungkin disengaja.

Mungkin saya kurang bergaul dengan tetangga bahkan kurang bersikap baik kepada tetangga, atau dengan teman teman saya yang lain, mungkin saya kurang ramah banyakan juteknya, mungkin saya cenderung merasa eksklusif sendiri karena mendoktrin diri sebagai pengikut sunnah (golongan yang masuk surga) sehingga merasa yang berbeda dengan saya bukan pengikut sunnah nabi melainkan kaum Bid'ah dan bla bla bla. Mungkin saya yang kurang bisa membawa diri dilingkungan atau mungkin saya yang buruk dalam akhlak. Jadi siapa yang harus berubah ya? Ternyata SAYA! loh kok gtu? Ya iyalah, sebelum saya merubah sesuatu SAYA lah yang harus berubah, karena telah salah dalam membawa pakaian saya dalam sikap dan perilaku saya sehari hari. 

Semoga pelarangan cadar dan cingkrang bisa dimaknai positif oleh para pemakainya, something harus dirubah bro and sist, bukan cadar dan cingkrangnya tapi KITA nya. 

Selamat merenungi bagi yang ingin
Silahkan mencaci bagi yang ingin
Kalau aq lagi KEPINGIN! Jangan ngereeess, kepingin MAKAAAAAANNN...apeee kitak nih

Sarangeyoooo manusieeeeee

 

(Sumber: Facebook Novianty Ipeh)

Wednesday, November 13, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: