Isu PKI Bangkit Saat Sohartois Terjepit

ilustrasi
Oleh : Riza Iqbal
 
Twit fadli Zon Inilah sasaran tembak isue PKI yg sebenarnya. Jokowi berasal dari PDI-P >PDI-P dipimpin Megawati > Megawati adalah anak Soekarno yg di akhir kepemimpinannya PKI menjadi besar. Mereka menyudutkan Soekarno dengan narasi "Era Nasakom", yg artinya bahwa era Soekarno adalah era PKI.
Disisi lain, kelompok ini berusaha membesarkan kembali nama Soeharto yg dianggap sebagai pahlawan karena sudah membubarkan PKI. Isue PKI sangat gencar di era Jokowi ketika satu-satu harta warisan milik penguasa orba mulai dipreteli. Melalui jalur hukum sangat sulit karena harta itu memang diperoleh dengan cara tidak wajar. Satu2nya jalan, lemparkan isue yg sangat ditakuti dalam sejarah, yaitu PKI.
Selama Soeharto berkuasa, kekuatan loyalis Soekarno disingkirkan, anak2nya diawasi dalam berpolitik bahkan harus dihancurkan jika bibit Soekarnois mulai membesar. Kita runut saja dari akhir tragedi 1965 awal kebangkitan Orba. Semua tokoh PKI, baik pengurus partai sampai yang hanya sekedar pendukung saja disingkirkan baik dengan cara dibunuh, dipenjara atau diisolasi kehidupan sosialnya.
Jauh daripada itu, Soeharto bukan hanya menenggelamkan PKI tapi juga menyingkirkan loyalis Bung Karno, baik sipil maupun militer. Soeharto sangat paham jika hanya menenggelamkan PKI tanpa menyingkirkan Soekarnois akan menjadi api dalam sekam yang akan membakar dirinya.
Salah satunya adalah Letjen KKo R Hartono yang secara terang2an membela Soekarno namun oleh Soeharto dijadikan duta besar dan diakhiri dengan kematian yang tragis dan misterius. Begitu juga Letjen Marinir Ali Sadikin yang meski masih menjabat sebagai Gubernur DKI hingga 1977, akhirnya dijadikan orang yang harus diawasi oleh rezim Orba setelah tidak menjabat di pemerintahan. Kehidupan politik sosialnya dibatasi bahkan anak2nya pun dibatasi. Omar Dhani yang dituduh terlibat G30S/PKI sebenarnya adalah seorang Soekarnois.
Bahkan Letjen Ibrahim Adji yang sama2 dari TNI-AD dan ikut serta membersihkan PKI. disingkirkan juga oleh Soeharto karena mantan Pangdam Siliwangi ini adalah loyalis Soekarno.
Keluarga Soekarno sendiri tidak lepas dari represi penguasa Orba. Pendidikan anak2 Soekarno dipersulit, Sukmawati dan Guntur Soekarno diawasi agar tidak ikut terjun ke politik dan baru tahun 1987 lah Megawati Soekarnoputri dan Guruh Sukarno hadir dalam kancah perpolitikan.
Saat kongres luar biasa PDI pada Desember 1993 di Surabaya, penguasa orba ingin menggembosi pencalonan Megawati menjadi ketua umum meski akhirnya Mega berhasil menjadi ketua umun periode 1993-1998. Namun pada tahun 1996, kepemimpinan Mega di PDI kembali diguncang oleh penguasa hingga timbul perpecahan yang kemudian menimbulkan kerusuhan yang dikenal dengan Peristiwa 27 Juli.
Setelah Soeharto tumbang, kekuatan Soekarnois kembali bangkit, itu bisa terlihat saat PDI Megawati yang berubah menjadi PDI-P mampu menjadi pemenang Pemilu di tahun 1999 namun hanya sebatas penguasaan kursi di Parlemen, sementara, Presiden dan Wakil Presiden masih dipilih oleh MPR.
Kekuatan Soehartois terhenyak dengan kenyataan ini, meski 32 tahun loyalis Soekarno dibungkam dan ditekan ternyata loyalis Soekarno masih ada dan mampu bertahan.
Kekuatan Soeharto yg dibantu oleh sengkuni politik dan para oportunis berhasil menyingkirkan PDI-P pada Pemilu 2004 menjadi urutan kedua di Parlemen dan turun menjadi urutan ke 3 di Pemilu 2009. Sementara Presiden yang sudah dipilih secara langsung dijabat oleh S.B Yudhoyono, murid daripada Soeharto.
Dengan soliditas yg cukup tinggi, PDI-P keluar sebagai pemenang pada Pemilu 2014 dan mampu menguasai Parlemen hingga 109 kursi. Kemenangan ini ditambah dengan keluarnya Joko Widodo sebagai Presiden Terpilih yang juga adalah kader PDI-P. Dari sinilah awal signal waspada bagi pendukung orde baru.
Kemenangan PDI-P pada Pemilu 2019 dan Jokowi pada Pilpres adalah pukulan telak untuk kelompok Soehartois, apalagi PDI-P mampu menambah kursi di Parlemen menjadi 128 kursi. Sebuah pembuktian bahwa loyalis Bung Karno tetap ada dan mulai terlihat eksistensinya.
Banyaknya kebijakan2 Jokowi yg merugikan mereka membuat loyalis Soeharto seperti duduk di kursi panas. Dibubarkannya Petral, pengambil alihan saham Freeport adalah kesalahan Jokowi dimata mereka. Dua nama itu adalah bagian warisan cawe2 dimasa orba yang membuat kantung mereka tidak pernah tipis. Komposisi kepemilikan saham awal Petral dimiliki oleh Pertamina 40 persen, Tommy Soeharto 20 persen, Bob Hasan 20 persen, dan Yayasan Karyawan Pertamina 20.
Ketika Jokowi mulai bergerak ke harta milik putra2 Soeharto, kemarahan semakin memuncak. Melawan dengan gerakan politik secara elegan tidak mungkin. Golkar yang merupakan partai tunggangan Soeharto selama berkuasa, telah menjadi bagian pendukung Jokowi. Sedangkan partai besutan anak2 Soeharto, hanya menjadi partai gurem tanpa kursi di Parlemen. Akhirnya cara paling liciklah yang diambil, kebangkitan PKI.
Bukan PKI yang bangkit, tapi Soehartois yang terjepit
~TYVa~
 
Sumber : Status Facebook Riza Iqbal
Monday, September 28, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: