Isu Kalian Tak Laku Tanpa Nyenggol Banser

ilustrasi

Oleh : Jonathan Latumahina

Sebuah kajian dari peristiwa Papua dan bangkitnya anasir khilafah HTI.

Yang paling utama adalah tentang fakta kejadian, harapan Sahabat Papua dan narasi gagal anasir HTI yang tentu saja harus nyenggol Banser supaya narasi mereka meriah.

Fakta lapangan adalah adanya tindakan opresif dari alat negara (TNI/Polri dan Satpol PP) dan preman yang dipakai untuk aksi terhadap beberapa asrama Papua di beberapa titik kota di Jawa. Mulai dari Jogja, Semarang, Malang kemudian Surabaya (hal ini selalu meningkat ketika jelang 17 Agustus pas hari kemerdekaan).

Dan puncaknya ada di asrama Papua Surabaya dimana insiden terjadi dan sangat masif terdengar makian "monyet" kepada sesama anak bangsa. Saya pernah tulis bahwa untuk urusan pro kemerdekaan atau pro NKRI adalah ranah debat yang masih sangat layak dibicarakan sebagai negara demokrasi, tapi memaki adalah hal lain yang tidak perlu harus pro NKRI atau pro kemerdekaan.

Tidak ada yang bisa diperdebatkan dari memaki kecuali meminta maaf, karena hal itu melukai anak bangsa yang lahir dari seorang ibu. Yang paling sederhana kita bisa memaki tapi apakah bisa menerima makian? Dari situ dulu pola berfikir ditumbuhkan.

Kemudian meledak, kota vital di Papua dan Papua Barat lumpuh karena aksi masyarakat yang tidak terima. Saya bukan Papua tapi merasakan apa yang dirasakan sahabat di Papua, dan sejak awal kejadian kita dari Ansor Cyber menyebarkan narasi damai dan #KitaIniSama kepada Sahabat Papua dimana medsos penuh dengan provokasi dan hoax. Tujuan kita adalah satu, Indonesia yang utuh dan manunggal sebagai satu rumah besar dari Sabang sampai Merauke.

Syukur Alhamdulillah 2 hari berangsur kondusif dan Sahabat Papua menyalurkan rasa yang mereka pendam dan tahan selama ini. Sebuah teriakan moral yang sangat dalam dan harus didengar elit Negeri ini supaya Indonesia bisa adil sejak dalam pikiran dan tentu saja demi menjaga kebersamaan kita semua sebagai bagian dari Indonesia.

Badut kilafah curi moment.

Paska suasana yang suhunya sempat tinggi tersebut, muncul banyak narasi tentang Banser dan Papua.

Narasinya basi, tapi diulang sedemikian rupa tentu saja ditambah dengan skrinsot berita hoax seperti biasanya. Tujuannya apa? Masih sama, tujuan utamanya supaya kondisi tetap rusuh dan bonus bagi mereka adalah bisa "ejakulasi" dengan menghina Banser.

Mereka (badut khilafah dan anasir HTI) sepertinya bete karena narasi apapun untuk mendiskreditkan Banser dan menghina tidak pernah menghasilkan apapun kecuali depresi diri yang makin menjadi. Contoh meningkatnya depresi itu ya dengan memunculkan portal abal abal yang isinya fitnah.

Kenapa demikian? Naluri alami manusia memang seperti itu, jika kamu sudah melawan dengan maksimal tapi lawanmu tidak bergeser atau terluka ya tambahi pake hoax dan narasi narasi pujangga yang ndakik ndakik tapi ya namanya tai dibungkus tetep tai juga.

Faktanya gini jon...

1. Kamu minta Banser ke Papua? Banser sejak dulu sudah ada di Papua, menjadi bagian dari Papua dan Indonesia sejak lahir (bisa lihat foto kalo hatimu tahan)
2. Kamu mau kecilkan Banser melalui narasi harianmu? Faktanya setelah kejadian, Gubernur Jatim dan Papua telfonan kemudian permintaan Gubernut Papua apa? Liat video dibawah kalo hatimu tahan.
3. Respon Ketua Umum GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas just in time ketika Gubernur minta Banser dampingi dan jaga asrama Papua. Ketum langaung instruksikan silaturahmi dan jaga asrama Papua di wilayah Indonesia manapun.

Tidak perlu hati yang bersih untuk melihat itu, cukup matamu sehat dan paket internetmu ada maka fakta keliatan semua.

Jadi monggo silakan aja senggol Banser untuk popularitasmu, InsyaAllah Banser dan Ansor akan biasa biasa saja tentang hal itu karena hati dan jiwa Banser sama seperti brevetnya "Yaa Illahi"

Selalu sama dari dulu dilahirkan sampe detik ini tidak pernah geser sedikitpun.

Sumber : Status Facebook Jonathan Latumahina

Friday, August 23, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: