Isu Baru Yang "Digoreng" Untuk Incumbent

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Tradisi Jawa menempatkan yang tua dibelakang dan muda di depan. Itulah sebabnya, dalam hukum pembagian tanah waris adat Jawa , yang tua mendapat bagian dibelakang yang muda didepan. Yang tua ngemong yang muda. Yang muda melayani dan menghormati yang tua sambil menggapai ambisinya. Demikianlah agaknya falsafah mengapa KH Ma’ruf Amin dipilih Presiden Jokowi.

Rois Am PBNU itu dipandang tidak neko-neko karena sudah sepuh (75 tahun) dan karena itu Jokowi sangat menaruh hormat kepada kiyai ini. Sama hormatnya Jokowi dengan Jusuf Kalla, tokoh besar yang menemukan dia di kota kecil kemudian menghantarnya sampai ke singgasana Istana Merdeka.

Ma’ruf Amin adalah personifikasi pragmatisme politik Jokowi. Dia dihadapkan pada kenyataan bahwa isu siapa yang paling Islami adalah tolok ukur utama merebut massa. Karena itu dia harus ambil "orang dalam." Jokowi gagal memadamkan gerakan radikalisme Islam meskipun berjuang keras melembutkan bahkan menindas gerakan ini. Barisan penceramah dobol didengar tausiyahnya oleh jutaan orang dan ini bisa mempengaruhi perolehan suaranya di Pilpres 2019. Semua partai pendukung Jokowi menyadari hal ini. Meski harus keluar ongkos besar karena Ma’ruf Amin hanya mengandalkan nama.

Karena itu peran penting Ma’ruf Amin adalah untuk meredam arus radikalisme Islam yang belakangan makin ngawur disuarakan oleh penceramah kacangan bermodalkan label ustad gaul. Atau para penceramah gaek yang dalam berbagai acara langsung atau tidak langsung mengkampanyekan Indonesia Bersyariah.

Masuknya Ma’ruf Amin dalam pelataran politik perebutan kursi dalam derajat tertentu sama dengan ditunjuknya Ngabalin sebagai juru bicara khusus mengkonter komentar sinis yang dialamatkan ke Istana. Ma’ruf Amin diharapkan bisa mengerem muncratan ludah dari mulut bau para peceramah yang berteriak khilafah atau pernyataan “ kompor mleduk” kopar kapir. Atau setidaknya, memberi rasa sungkan kepada pihak-pihak yang menggunakan isu islam.

Rois Am PBNU ini juga menunjukkan niatan tulus dia secara pribadi untuk terjun ke politik sambil berdakwah. Bukan seperti orang yang sudah dipilih payah-payah tapi ngeles, tidak punya keberanian untuk tampil didepan. Tidak ingin tangannya kotor karena hanya ingin pakai tangan orang lain lewat mulut dia. Ini ciri khas gerombolan orang-orang itu yang suka lempar batu sembunyi tangan lengkap dengan segala kemunafikannya.

Bahkan bukannya tidak mungkin, Ma’ruf Amin akan juga merangkul Ahok ketika bebas nanti untuk memperlebar dukungan kepada Jokowi. Dia seolah menebus “dosa”nya dalam upaya memenjarakan mantan gubernur DKI ini. Merangkul Ahok sangat penting untuk menggalang suara pendukungnya yang saat ini galau karena kiyai dari Tanjung Priok itu terpilih sebagai cawapres.

Meski diatas kertas Jokowi-Ma’ruf Amin punya kans menang lebih besar, namun tetap bukan jaminan.

Tampilnya Prabowo- Sandi membuka jalan bagi para dalang yang kepalanya terinjak-injak oleh kebijakan pemberantasan mafia disegala bidang untuk mengucurkan dana. Tanpa diminta karena ruang mereka semakin sempit mencari duit.

Para dalang tidak mau lagi menggunakan dan membiayai para wayang yang agar berjoget pakai jubah Islam. Wayang yang cerdas tahu itu. Karenanya ada kita lihat yang sang wayang sekarang jadi kutu loncat. Komandan wayang juga tidak bisa berbuat banyak karena jika dia pastinya sungkan untuk membidas Jokowi dan pasangannya. Jadi mereka merelakan barisannya ditendang kepalanya oleh yang punya uang untuk keluar gelanggang,

Para dalang akan mengucurkan uang dengan isu-isu ekonomi dan isu Cinaisasi. Bukan isu Islam. Maruf Amin sudah memberikan Jokowi perlindungan. Dan untuk mengkonter isu diluar Islam, Jokowi sudah punya pentungan.

Karena , seperti adat Jawa. Yang tua mangku yang muda. Seperti yang dilakukan Pak Jusuf Kalla.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan dengan judul asli Ma'ruf Amien Pangku Jokowi

Saturday, August 18, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: