Isu Ahok Masuk BUMN dan Ketakutan Orang-orang Jadul

ilustrasi

Oleh : Aldie El Kaezzar

Belum sah Ahok menjabat sebagai petinggi BUMN, belum jelas juga di BUMN mana dia bakal berlabuh, bahkan belum tahu apakah dia lulus seleksi, tapi kegaduhan sudah timbul.

Tak kurang penolakan dari Serikat Pekerja Pertamina FSPPB yg dikomando Arie Gumilar dengan segudang alasan klasik nan retorik. Ditambah lagi dari Rizal Ramli dengan alasan semisal kurang pengalaman ikut meramaikan lini masa.

Di sini saya tak akan melabeli mereka pro koruptor, radikal atau apapun itu. Hanya saja ada 1 fenomena menarik yg bisa dipetik. Bahwa era disrupsi tampaknya makin menjalar. Era dimana terjadi pergeseran dan perubahan yg begitu cepat di segala bidang, baik ekonomi atau teknologi, sehingga berujung kehancuran bagi mereka yg tak siap.

Dan tampaknya era ini tengah merasuk ke dalam dunia politik Indonesia. Ya, sejak awal kabinet diumumkan, sudah begitu banyak disrupsi terjadi. Perubahan revolusioner terjadi di banyak pos. Tidak ada lagi agamawan di pos Menag, ia kini dikomando oleh militer. Sebaliknya, bukan lagi perwira yg berdiri sebagai Menkopolhukam, tapi seorang sipil yg menggawangi. Tak ada akademisi di pos Mendikbud, melainkan wirausaha yg duduk di kursi kemudi. Semua pola lama ditabrak, ditinggal, "dihancurkan". Era disrupsi.

Sepertinya, ini jg yg bakal terjadi di BUMN. Terlepas dr siapapun nanti yg memimpin Pertamina, sudah waktunya pola-pola lama diubah. Revolusi. Jika dalam IGnya, ketua serikat pekerja berujar bahwa mereka menolak Ahok karena dianggap kontroversial dan Rizal Ramli menyebut minim pengalaman, maka izinkan saya bertanya,

Apa yg sudah dicapai petinggi "kalem" dan "berpengalaman" selama ini?

Sudah mampu menumpas mafia migas?
Sudah mampu melakukan efisiensi menyeluruh?
Sudah mampu "menerbangkan" Pertamina?
Sudah mampu menekan impor migas?
Sudah mampu menemukan banyak cadangan baru?

Terlepas dari kemajuan yg sudah diperoleh, maaf, saya pikir masih sangat jauh dari kata "berhasil". Suka atau tidak, itulah faktanya. Benar kan @arie gumilar & Pak @rizal ramli?

Seolah menjawab kritik atas semua kontroversi kabinet termasuk hiruk pikuk soal Ahok, Jokowi dalam akun medsosnya berpesan sebuah hal,

"Kalau pakai cara yang lama selalu gagal, pakai cara yang baru. Harus berani berubah."

Sederhana. Tapi tak ada logika yg mampu membantah. Karena kalau kita kerja dengan pola yang itu-itu lagi, cara yg lama lagi, tipe orang "lama" lagi, nanti hasilnya akan begini-begini lagi. Jangan pernah berharap hasil baru dari cara-cara lama. Semudah itu. Pertamina, PLN dan BUMN lain sejak dulu selalu diisi tokoh yg "gitu-gitu" aja. Soal sosok "tenang", pengalaman, apa yg kurang? Lihat Bu Karen, Pak Dwi Soetjipto, Pak Elia Manik. Tapi apa? Semua "mentok".

Memang ada perbaikan, tp belum sampai tahap yg revolusioner dan signifikan. Tentu butuh waktu. Tapi sudah sejak era reformasi sampai saat ini, mau berapa lama lagi? Masih mau pakai (lagi) cara lama dan konvensional?

Ahok mungkin minim pengalaman korporasi, tp 1 hal jelas sudah ia buktikan. Bahwa ia mampu merevolusi Jakarta mulai dari tahapan dasar. Mulai dari pelayanan publik dengan terobosan semisal pasukan pelangi, aduan balaikota, LRT/MRT. Soal transparansi dengan web eAPBD. Sampai ke soal efektivitas dengan inovasi teknologi semisal Qlue & SmartCity.

Ya, ini yg dimiliki Ahok. Bukti dan rekam jejak bahwa ia mampu mengubah secara total. Kinerja institusi pemerintah daerah yg dikenal lambat, berbelit dan konvensional menjadi lebih melayani, efisien dan modern. Bukti keras yg bahkan tak akan sanggup dibantah sekalipun oleh pembencinya. Siapa yg bisa menyanggah adanya KJP, KJS, PTSP, eAPBD, pasukan pelangi, QLUE atau aduan balaikota yg sangat dirasakan manfaatnya? Tidak ada!

Jadi, terlepas apakah Ahok nanti akan lulus atau tidak, ditempatkan di Pertamina, PLN atau manapun, memang sudah waktunya petinggi BUMN diisi oleh orang berkarakter seperti Ahok. Seorang revolusioner yg mampu menggebrak dan tak segan "merusak" pola-pola lama yg menghambat.

Biarlah orang-orang "kuno" dan berpikiran sempit macam Arie Gumilar atau Rizal Ramli berteriak atau menjerit. Karena toh selama ini faktanya BUMN kita masih seperti jalan di tempat. Di era yg begerak cepat ini, yg tak siap menghadapi perubahan, maka bersiaplah hancur ditelan perubahan.

Lihat bagaimana DKI berubah di tangan Ahok, atau KAI di bawah Jonan. Jokowi perlu orang berkarakter "perusak" dan bermental baja untuk merombak dan mengalahkan mafia BUMN. Tak ada jalan lain.

Jika hasil dari cara lama masih minimalis, maka tinggalkan. Jangan pakai lagi. Ganti. Tinggalkan pola konvensional nan jadul. Cari inovasi baru. Berubahlah. Pakai pendekatan baru dengan orang "baru". Orang yg terbukti telah mampu melakukan revolusi dan mereformasi sebuah institusi.

Pedekate, caranya gitu lagi, gitu lagi. Old school. Modal chat, "hai", "kenalan dong", "udah makan?". Tapi ngarep status berubah? Huh, mimpi!

Sumber : Status Faacebook Aldie El Kaezzar

Tuesday, November 19, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: