Istiqlal Katedral

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

MESKI ditentang Bung Hatta, kenapa Bung Karno tetap ngotot menghendaki agar pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan di dekat sekitar Pasar Baru, tepatnya di Taman Wilhelmina dan dekat benteng kuno Belanda?

Karena Bung Karno ingin menyampaikan pesan bahwa bangsa ini memiliki semangat persatuan dan toleransi beragama yang sangat kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Aura toleransi sudah langsung terasa karena Masjid Istiqlal kebetulan dibangun oleh arsitek Kristen bernama Friedrich Silaban. Silaban merupakan arsitek yang memenangkan sayembara rancang bangun Masjid Istiqlal yang digelar oleh pemerintah RI kala itu. Arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyisihkan 27 peserta.

Apakah ada orang muslim yang kemudian punya inisiatif balik membangun gereja? Ada. Di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, ada rumah ibadah bernama Gereja Ismail. Sebuah nama gereja yang gak lazim, karena mengambil nama pembuatnya, Ismail. Dan sampai hari ini gak pernah ada persoalan.

tu baru namanya toleransi. Tapi baru seperti sebutir pasir di pantai.

Sayangnya cita-cita Bung Karno gak berjalan mulus. Makin ke sini intoleransi makin menjadi-jadi. Boro-boro ada muslim mau membantu membangunkan gereja, mereka mau bangun sendiri aja dipersulit. Bukan cuma dipersulit malah dilarang.

Kalo kemarin saat meninjau renovasi Masjid Istiqlal Presiden Joko Widodo mengungkapkan rencananya membangun terowongan bawah tanah antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, sebagai simbol adanya silaturahim antara jemaah Masjid Istiqlal dengan umat di Gereja Katedral, ini sih lebay, mubazir, dan kata temen Kristen gue NORAK.

Jujur, kali ini gue bersebrangan soal yang satu ini. Kalau mau membangun toleransi yang sesuai dengan semangat Bung Karno mendirikan Masjid Istiqlal di samping Gereja Katedral, bukan dengan membangun terowongan. Kenapa gak mencabut peraturan diskriminatif Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006, misalnya. Di mana dalam peraturan tersebut mensyaratkan harus ada KTP dari 90 orang pengguna Rumah Ibadah dan 60 orang persetujuan masyarakat setempat.

Minoritas minta persetujuan mayoritas itu enggak gampang. Bahkan yang sudah mengantongi IMB aja, bangunannya sudah berjalan, begitu digugat warga bisa dicabut ijinnya kayak di Bantul sana.

Sebagai pendukung orang baik, gue kecewa Jokowi sangat kurang perhatian di soal intoleransi ini. Sebuah persoalan yang jauh lebih penting demi tetap tegaknya NKRI daripada sekedar membuat terowongan silaturahim gak berguna di sebuah kota rawan banjir.

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Thursday, February 13, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: