Istilah Sunni-Syiah Itu Politik

Oleh: Erizeli Jely Bandaro

 

Islam radikal khususnya dari kalangan Wahabi dan salafi sangat membenci Iran. Alasannya? Iran itu syiah. Syiah itu sesat. Makanya di Indonesia, Syiah dimusuhi oleh kelompok Tarbiyah PKS dan para Wahabi. 

Dalam konflik Iran-AS, umat islam dalam kelompok ini mendukung AS. Mereka lebih baik berteman dengan AS daripada memberikan empati kepada Iran. Bahkan kebencian mereka kepada China karena China selalu membela Iran dalam politik international. Seakan kalau Iran kalah dalam perang dengan AS, maka kebencian yang dilantunkan dalam doa setiap hari akan menuaikan hasil. Syiah musnah dari muka bumi. 

 

Saya Sunni namun saya berusaha bersikap netral terhadap konflik Iran-AS. Karena saya tahu akar sejarah soal Syiah ini. Bagaimana sejarahnya ?

Ketika Muawiyah wafat, seseorang kepala suku menghunuskan pedang kepada yang lainnya sambil berkata bahwa yang pantas menjadi khalifah berikutnya adalah Yazid, putra Muawiyah. Yang lain terdiam dan akhirnya menerima. 

Pada saat itu, wajah Islam yang mengedepankan musyawarah untuk tercapainya baiat kepemimpinan seperti yang diajarkan oleh khalifah empat tak ada lagi. Yazid, tentu menyadari bahwa tak semua sepakat dengan terpilihnya dia sebagai khalifah. Yang berseberangan dianggapnya pemberontak. 

Sikap paranoid datang, terutama kepada cucu Nabi , putra Ali, Hassan dan Hussien. Sebetulnya saat itu Hassan sudah meninggal. Sementara Hussein sudah menjauh dari hiruk pikuk dunia politik. Tapi tetap saja dianggap Yazid sebagai ancaman akan masa depan kekuasaannya. 

Yazid berencana untuk membunuh Hussein. Berita ini sampai kepada Hussein. Dengan keberanian di luar akal sehat, pada 60 H (680 M) Hussein mendatangi Yazid untuk mengingatkan tentang persaudaraan dan perdamaian dalam islam. Dengan kekuatan yang tak lebih 72 orang, Hussein berangkat. 

Ini tidaklah pantas disebut sebagai kekuatan karena termasuk istri Hussein, anak anaknya dan beberapa kerabat tua yang loyo. Hanya segelintir sahabat yang perkasa siap bertempur. Hussein sadar bahwa keberangkatannya tak lain menjemput sahid. Dia pasti akan terbunuh tapi dia tidak takut karena kematian mengelilingi anak Adam seperti kalung mengelilingi laher gadis muda. 

Setiap orang harus punya keyakinan untuk tampil melawan kezoliman demi tegaknya keadilan. Bagi Hussein, bila cucu Nabi, Anak Ali dan Fatimah tidak berani melawan tiran, maka tidak akan pernah ada keteladanan untuk menegakkan kalamullah. Ini bunuh diri yang sublime. 

Benarlah, ketika mendengar kabar bahwa Hussein dalam perjalanan ke Baghdad, Yazid menyiapkan pasukan kolosal, konon katanya berkekuatan hampir 40,000 pasukan. 

Di padang Karbala pertemuan antara pasukan Yazid dan Hussein terjadi. Ketika itu sedang musin panas, cuaca mendekati 46 derajat celcius. Satu persatu prajurit Hussein maju kedepan melawan pasukan Yazid. Satu persatu mereka gugur. Sementara yang wanita dan anak anak dan orang lanjut usia meninggal karena kehausan dan terbunuh. 

Ketika tersisa hanya Hussein, sang jenderal pasukan mengakhiri perlawanan itu dengan memenggal kepala Hussein dan membawanya kehadapan Yazid. Kelak kemudian hari, sejarah mencatat bila Hussein cucu Rasul mati syahid, Yazid meninggal membusuk di tempat tidurnya karena penyakit levra.

Yazid menganggap dengan terbunuhnya Hussein maka selesailah. Namun dia keliru. Dengan membunuh cucu Nabi, Hussein, dia telah memercikan nyala api yang tak akan pernah kunjung padam. 

Para mereka yang mencintai keluarga Rasul tak sedikit. Lambat namun pasti kumpulan pencinta keluarga Rasul ini berkembang menjadi kelompok tersendiri dan bergerak dengannya caranya sendiri. 

Mereka menyebut dirinya Rafidhah (Syi'ah) dan memastikan mereka berseberangan dengan khalifah. Komunitas itu dari tahun ketahun terus bertambah dan memendam dendam yang tak kunjung padam pada dinasti islam ketika itu. 

Mereka bukan saja mempermasalahkan suksesi kekhalifahan islam tapi mereka juga mempermasalahkan kualitas yang pantas sebagai khalifah. Para pengikut keluarga Rasul ini percaya bahwa ada sesuatu nilai spiritual yang lebih terhadap keluarga Rasul dibandingkan yang lain. 

Mereka tidak pernah mengatakan bahwa Ali adalah utusan Allah kecuali Imam. Pengertian imam bukan seperti imam sholat dalam islam tapi sesuatu yang lebih dimuliakan. Mengapa? Ini berangkat dari premis bahwa Muhammad SAW memiliki beberapa substansi mistis yang nyata diberikan Allah, semacam energy, semacam cahaya.yang mereka sebut barakah Muhammad. 

Ketika Rasul meninggal, cahaya itu diteruskan kepada Ali bin Abi thalib, dan pada saat itulah Ali menjadi imam pertama. Ketika Ali meninggal, cahaya itu diteruskan kepada anaknya Hassan, yang menjadi imam kedua. Kemudian diteruskan kepada Hussein. 

Ketika Hussein syahid di padang Karbala, seluruh gagasan tentang imam berkembang menjadi sebuah konsep teologis yang kaya yang menjawab hasrat religius. Tapi bagi dinasti Ummayah yang berkuasa, mereka anggap Rasul itu manusia biasa. Yang jadi pegangan bukan Rasul tetapi risalahnya. 

Apapun yang memuja kecintaan kepada Rasul dan keluarganya dianggap bida’ah. Belakangan paham ini menjadi paham Sunni. Sementara yang meninggikan keluarga Rasul adalah Rafidhah (Syi’ah). Inilah awal terjadi perpecahan dalam islam. Ya faktor politik sebenarnya. 

Apalagi selama kepemimpinan dinasti Islam yang bermahzab Sunni, akhlak kerakusan terus dipertontonkan oleh para elite. Ini membuat semakin meluasnya paham Syiah, yang diyakini bisa mensejahterakan ummat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul dalam membangun peradaban. Bahwa Rasul cinta dengan orang miskin dan pernah ketika Rasul menyindir orang kaya yang lupa kepada orang miskin dan yatim, Bani Muawiyah termasuk salah satu yang dibicarakannya. Karena Bani Muawiyah termasuk suku yang terkaya ketika itu. Dan Ali bin Thalib dikenal dalam sejarah sebagai pemimpin orang Miskin dan pemberani terhadap musuh Allah. 

Makanya, dalam konteks kini, kita bisa melihat para pemimpin syiah di Iran yang hidup jauh dari kemewahan duniawi dan pemberani terhadap Yahudi/AS/Barat, yang sangat berbeda dengan para raja dan pemimpin dari Negara yang menganut paham Sunni, seperti Arab Saudi, Emirat Arab , Kwait, dll yang hidup mempertontonkan kemewahan duniawi dan akrab dengan Yahudi ( AS/Barat). 

Bagaimanapun, adanya komunitas syiah dan disisi lain Sunni, dipicu oleh Politik kekuasaan. Perebutan siapa yang pantas memimpin Islam paska Rasul Wafat. 

Di luar konteks politik, menurut ulama Syam, Prof Dr Wahbah Zuhaily, antara Syiah dan Sunni tidak ada perbedaan yang besar khususnya pada Syiah Imamiyah yang komunitasnya banyak di Iran. Bahkan Mahzap Syiah Imamiyah ini lebih dekat dengan Mahzab Syafii dan hanya memiliki perbedaan dalam 17 perkara fikih. Sementara Syiah Zaidiah, menurut beliau, adalah Syiah yang paling dekat dengan Sunni. Bahkan penganut Sunni menggunakan beberapa buku rujukan Zaidiyah seperti buku fikih karangan Imam Shonani, dan Kitab Subulussalam. 

Pertemuan OKI (organisasi Konfrensi Islam) pada tahun 2006 yang dihadiri oleh Ulama Syiah dan Sunni telah mengeluarkan deklarasi Makkah (2006) yang intinya bahwa perbedaan Sunni – Syiah merupakan perbedaan alami, sama seperti perbedaan mazhab mazhab dalam fikih islam. Jadi biasa saja. Bukan hal yang dipertentangkan sehingga harus bermusuh.

Andaikan, Hussein tidak dibunuh di padang karbala mungkin Rafidhah (Syi'ah) tidak pernah ada. Andai kekuasaan tidak membuat perpecahan mungkin Islam kini sudah menguasai dunia. Tentu kebaikan, kebenaran, keadilan akan tegak. Tapi semua telah terjadi. Sejarah berkata lain. Ini kehendak Allah. Tugas kita orang beriman harus menerima kenyataan sejarah ini memahami perbedaan untuk tidak saling berbisah hingga bermusuhan. Biarlah perbedaan itu ada. Ditengah perbedaan Sunni dan Rafidhah (Syi'ah), kita harus mengakui kesamaan kita bahwa kita sama sama mencintai Rasul dan bertaqwa kepada Allah, dengan kiblat sama ke Baitulllah. 

Namun mungkinkan ini dipahami oleh Tarbiyah PKS, kaum Wahabi dan Salawi di Indonesia? 

 

(Sumber: Facebook DDB)

Sunday, January 12, 2020 - 16:45
Kategori Rubrik: