Istana Terbuka Seperti Jaman Gus Dur, Kenapa Jokowi Dituduh Anti Islam?

Ilustrasi

Oleh : Sahir Nopri

Saya tidak tahu bagaimana bisa sebagian kecil masyarakat masih tertutup hatinya melihat siapa sebenarnya Presiden Jokowi. Utamanya terkait isu komunis, turunan PKI, pro China, antek aseng, sholat untuk pencitraan dan lain sebagainya. Atau dibilang musuh Islam, menista agama, mengkriminalisasi ulama? Apakah mereka-mereka itu tidak baca tv, melihat radio, mendengar Koran atau medsos? (Salah kalimatnya? Emang sengaja).

Apanya yang musuh Islam kalau Presiden Jokowi sangat luar biasa terbuka kepada semua kelompok Islam. Bukan hanya NU dan Muhammadiyah, 2 ormas Islam besar di Indonesia dengan jamaah puluhan juta. Anda tahu yang namanya ormas Al Wasliyah? Pengurus pusat mereka pernah diterima Presiden di Istana. Anda tahu MTA (Majelis Tafsir Al Qur’an)? Presiden pernah membuka Silatnas MTA 17 Nopember 2017. Kemungkinan kedua ormas itu anggotanya tidak mencapai jutaan.

Presiden sendiri membuka pintu istana untuk siapapun bahkan termasuk didalamnya para Ulama, Habaib, Kyai, Pimpinan pondok pesantren dan lain sebagainya. Tidak hanya Ulama dalam negeri namun juga ulama luar negeri. Silahkan cek, bagaimana kakek Jan Ethes Srinarendro ini sangat concern pada agama. Setiap pemeluk agama harus mendapat perlindungan dan bebas menjalankan keyakinannya termasuk tentunya Islam. Jokowi lah yang menetapkan hari Santri Nasional setiap 22 Oktober. Belum lagi bantuan APBN untuk pesantren, membuka acara nasional dan internasional agama Islam bahkan dirinya masuk dalam jajaran 500 muslim dunia yang berpengaruh baik 2017 maupun 2018. Orang Indonesia sendiri hanya ada 4 yakni Prof Din Syamsuddin, KH Said Aqil Siradj, Habib Lutfi Bin Ali Yahya dan Joko Widodo.

Dalam sejarah Presiden Indonesia, hingga 7 presiden yang menempati istana hanya ada 2 Presiden yang sangat terbuka bagi kehadiran rakyat. Pertama, KH Abdurrahman Wahid dan kedua Joko Widodo. Saat era Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) mayoritas yang datang memang kalangan ulama atau pesantren.  Mereka bahkan bisa masuk istana hanya dengan memakai sarung dan sandal jepit! Sisanya harus melalui protokoler yang ketat dan sangat kaku. Memang beberapa presiden tidak tinggal di istana namun tetap saja jarang menerima kalangan santri atau ulama.

Dalam catatan saya, Presiden Joko Widodo tidak pernah putus dalam membangun komunikasi dengan berbagai kalangan termasuk tentunya pada kalangan umat Islam. Dan membangun komunikasi itu tidak selalu saat berada di Jakarta, bahkan ketika di daerah beliau tak lupa membuka komunikasi. Saya mencoba mentracking berapa kali beliau mengadakan pertemuan dengan kyai, ulama, pimpinan pondok pesantren dan lain sebagainya yang dilakukan di Istana Negara baik Jakarta maupun Bogor.

Tahun 2015, saat beliau mulai memegang tampuk pemerintahan dalam catatan saya ada 5 pertemuan yang dilakukan Presiden.  Yaitu menemui Pengurus PBNU (26 Februari), bertemu 60 ulama jatim doa dan dzikir jelang ramadhan (7 juni), menemui Din Syamsudin Ketua Umum Muhammadiyah dan MUI (15 Juli), kembali bertemu pengurus PBNU (28 Agustus) serta  berdialog dengan PP Muhammadiyah (22 September)

Kemudian pada 2016 2 pertemuan menggelar dialog dengan para ulama, kyai, ustadz, dan pimpinan pondok pesantren se-Jawa Barat dan Banten (10 september), bertemu dengan pemimpinan Lembaga Fatwa Darul Ifta Mesir Syeikh Mustofa Ahmad Wardhani (14 Nopember)

Di tahun 2017, setidaknya ada 9 komunikasi dengan kelompok Islam di istana negara. Pertama menjamu Pengurus Muhammadiyah (13 Februari), menerima kunjungan Raja Salman Arab Saudi (1 Maret), bersilaturrahmi dengan pimpinan PB Al Wasliyah (4 april), bertemu tokoh dan ulama jelang pilkada DKI (17 April), Bertemu ulama GNPF MUI (25 Juni), bertemu 9 ulama panitian Halaqah Nasional (13 Juli), berkomunikasi dengan Ulama se Kalbar (27 Juli), menggelar Dzikir kebangsaan 1000 Ulama (1 Agustus), dan menemui 40 kyai dan ulama jateng (13 September).

Lantas di tahun ini setidaknya Presiden sudah bertemu setidaknya 7 kelompok maupun individu ulama baik daerah, nasional maupun internasional. Bertemu ulama se Kepri (27 Februari), kemudian berdialog dengan 39 ulama Tabagsel (6 maret), bertatap muka dengan Ulama se Banten (22 Maret). Kemudian silaturrahim bersama 100 Ulama dan kyai se Jabar (3 April) diteruskan menerima Ulama dari Persaudaraan Alumni 212 (22 April), berdialog dengan  Imam Besar dan Grand Syeikh Al Azzhar Ahmad Muhammad Ath Thayeb (30 April) serta berjumpa Wapres Iran (1 Mei).

Data diatas Itu diluar kunjungan presiden ke pondok pesantren, membuka acara ormas Islam, sowan ke kyai di daerah, pertemuan dengan ulama setempat di penginapan presiden dan momentum lain. Tentu jumlahnya bila dicatat akan jauh lebih banyak. Dan satu hal yang hanya dilakukan di jaman Jokowi adalah pembagian sertifikat tanah wakaf gratis untuk tempat ibadah, pondok pesantren maupun yayasan Islam. Belum pernah ada di rejim sebelumnya.

Melihat fakta-fakta diatas, apakah tidak malu masih menyinggung soal keIslaman beliau? Masih menuduh ada sangkut pautnya dengan komunisme? Masih menganggap ada kriminalisasi ulama? Masih terbersit bahwa ada hidden agenda menyingkirkan Islam? Jika hati nurani anda saat membaca ini semua masih menyisakan itu semua, ambil wudlu untuk melakukan Sholat Taubat.

 

NYANG PENTING MESTI  DI INGAT

#2019BubarkanPKS,

#2019TenggelamkanPKS

#2019JanganPilihPKS

#2019BubarkanFPI,

#AwasBahayaLatenHTI

Thursday, June 7, 2018 - 18:45
Kategori Rubrik: