Isra' Mi'raj : Islam dan Yahudi

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Tidak sampai setahun dari peristiwa Isra' Mi'raj, Nabi SAW hijrah ke Yatsrib alias Madinah Al-Munawwarah, dimana sebagian penduduknya Yahudi. 

Mereka berpuasa tiap 10 Muharram. Ternyata menurut mereka, puasa itu dalam rangka merayakan kemenangan Nabi Musa alaihissalam ketika diselamatkan dari kejaran balatentara Firaun di masa kehidupannya sekian abad yang lalu. 
Reaksi Nabi Muhammad SAW kala itu menarik untuk dibahas dan dianalisa secara kritis. Beberapa poin diantaranya sebagai berikut :

Pertama, Nabi SAW mengaku kenal langsung dengan Nabi Musa. Ya iyalah, kan baru saja ketemu orangnya langsung. Dan ketemunya sampai 6 kali, baik di Masjidil Ashqa sebelum mi'raj, ataupun ketika naik ke langit ke-enam, ataupun ketika pulangnya. 

Yang terakhir inilah yang paling mengesankan.  Saat itu Nabi Musa banyak memberi bantuan dan bimbingan. Salah satunya jadi dapat keringanan waktu shalat jadi tinggal 5 waktu. Padahal tadinya 50 waktu. 
Maklumlah, umat Nabi Musa ini kan terkenal paling badung, sehingga Allah hukum mereka dengan beban taklif yang teramat berat. Ingatkan bagaimana nyaris mereka gagal menyembelih sapi betina karena kebanyakan tingkah. 

Kedua, Melihat orang yahudi pada puasa ritual ibadah, ternyata Nabi Muhammad SAW ikutan puasa juga bersama para Yahudi itu. Padahal ini puasa khas agama yahudi lho. Bukannya berlaku aturan : Lakum dinukum waliyadin? Agamu agamamu agamaku agamaku?

Lha kok Nabi SAW malah ikut-ikutan ibadah milik agama lain? Ini gimana ceritanya?
Nah ini penting sekali digaris-bawahi. Begini penjelasannya : 
1. Ayat terkait Lakum dinukum itu turun di Mekkah, ketika berhadapan dengan para musyrikin penyembah berhala. 
Sedangkan ketika Nabi SAW ikut puasa 10 Muharram, meski yang menjalankannya Yahudi, namun masih dalam koridor sesama agama samawi. Tuhannya sama, sumber risalahnya sama. 

2. Inisiatif ikutan puasa Asyura itu tentu saja bukan sekedar ikut-ikutan atau spontanitas. Pastinya memang perintah resmi dari Allah SWT juga. 
Perintah resmi? Mana dalilnya?
Dalilnya adalah ayat yang sudah kita hafal bersama :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah : 183)

Sebagian mufassir dalam salah satu versi penafsiran menjelaskan bahwa perintah puasa dalam Al-Baqarah 183 itu justru perintah untuk berpuasa seperti umat sebelum kamu, yaitu puasa 10 Muharram khas orang Yahudi. Kemudian nantinya disempurnakan  menjadi puasa Ramadhan di ayat 185-nya.

Ketiga, Meski pada periode berikutnya puasa 10 Muharram ditiadakan kewajibannya, namun kita tetap disunnahkan untuk melakukannya, bahkan sampai kiamat tetap dipertahankan. Kita masih tetap disunnahkan puasa 10 Muharram (Asyuro).

Artinya bahwa ibadah yang aslinya bawaan Yahudi itu sampai sekarang masih kita jalankan, meski statusnya jadi ibadah Sunnah. 

Jangan lupa kita juga disunnahkan berpuasa dengan puasa Nabi Daud alaihissalam, yang sehari puasa dan sehari tidak. Padahal Nabi Daud itu bukan nabi buat kita, Beliau itu orang  Yahudi. 

Masih ingat kan bintang segi enam itu? Itu kan bintang Daud yang kemudian menjadi lambang agama Yahudi. Entah resmi atau tidak, pokoknya segi enam itu lambang yahudi dan itu bintang Daud. Tapi kita disuruh puasa ala Nabi Daud meski bukan puasa wajib.

Keempat, Bukan hanya dalam puasa saja kita disuruh 'ikut' Yahudi, tapi dalam beberapa syariah termasuk shalat.
Janga lupa bahwa Nabi SAW awalnya diperintahkan shalat ke kiblatnya orang Yahudi yaitu Baitul Maqdis, sebelum akhirnya dipindahkan arahnya ke Ka'bah.

Sebelum Isra' Mi'raj ataupun setelah Isra' Mi'rah, kiblatnya Nabi SAW waktu itu bukan Ka'bah tapi malah Baitul Maqdis. Jadi cerita isra' mi'raj itu kira-kira Beliau diajak menuju ke kiblat shalatnya selama ini. Mirip kita sekarang ibadah haji umrah, kita ziarahi kiblat kita.

Satu catatan yang menarik, ternyata kalau dibandingkan secara durasi waktu, ujung-ujungnya lebih lama menghadap Baitul Maqdis ketimbang langsung ke Ka'bah. 

Hitung-hitungannya begini : Selama 13 tahun periode Mekkah, Nabi sepenuhnya diperintahkan shalat menghadap Baitul Maqdis. Bahkan meski sudah hijrah pun masih diperintahkan kesana, setidaknya sampai dua tahun kemudian. 

Jadi totalnya 13 tahun plus 2 tahun yaitu 15 tahun menghadap Baitul Maqdis. Baru sisanya yaitu 8 tahun (23 tahun dikurangi 15 tahun) yang menghadap Ka'bah langsung. 

Bayangkan, 15 berbanding 8 tahun. Lebih lama shalat ke kiblatnya Yahudi ketimbang Ka'bah sendiri. Silahkan cek ke kitab tafsir kapan turunnya ayat berikut ini.
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS. Al-Baqarah : 144)

Kelima, Nabi SAW meski diangkat menjadi hakim di Madinah, namun kalau menghadapi Yahudi, Beliau SAW tidak pakai Al-Quran. Tapi pakai Taurat sebagai hukum dan syariah yang Allah turunkan kepada mereka.
Namun berhubung Nabi SAW itu ummi atas Taurat (maksudnya Beliau tidak mengerti bahasa Ibrani baik lisan atau pun tulisan), maka Beliau meminta para ulama (pendeta) Bani Israil untuk membantu. 

Misalnya ketika ada Yahudi berzina, dalam sidang Nabi SAW minta ulama (pendeta) Yahudi membacakan ayat-ayat zina dalam Taurat, khusus terkait hukuman apa yang Allah SWT tetapkan. Bukan sesuai Qur'an tapi sesuai Taurat. 
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Saturday, March 13, 2021 - 18:45
Kategori Rubrik: