Islamnya Soeharto

Ilustrasi

Oleh : Riza Iqbal

Bagi yg pernah merasakan hidup di era Orde Baru, yg terekam dalam benak adalah kesewenangan dan otoriternya kekuasaan Soeharto saat itu. Dua hal yg terjadi adalah represi keamanan terhadap rakyat dan korupsi yg dilakukan keluarga dan kroninya.

Yang menyanjungnya hanyalah kelompok yg menjadi kroninya atau yang tidak merasakan hidup disaat itu. Mengenal Soeharto hanya dari bualan orang2 yg diuntungkan oleh Orba.

Kelompok yg berteriak tentang kekuatan Islam tapi menjadikan Soeharto sebagai idola juga buta dan tuli dalam memberi penilaian. Soeharto jauh dari representasi seorang pemimpin muslim yg memberikan ruang kebebasan pada umat muslim di Indonesia.

Sangat menarik membaca buku “Dari Gestapu ke Reformasi, Serangkaian Kesaksian” tulisan Prof Salim Said tentang bagaimana Soeharto memandang Islam. Dibuku tersebut dijelaskan bagaimana Soeharto sangat alergi terhadap Islam. Dia melarang penggunaan Syariat Islam sebagai asas Partai Politik dan Organisasi Kemasyarakatan.

Pada halaman lain diceritakan bagaimana mata Soeharto mendelik saat seorang santri wanita menyarankan agar demonstrasi dukungan terhadap ABRI dalam menumpas PKI ditutup dengan doa. Saat itu Soeharto memperlihatkan sikap tidak suka.

Dilain waktu, dalam sebuah rapat di Makostrad, Ketua PBNU Subchan ZE mengucap kata “Insyaallah” saat Soeharto menanyakan kesiapan NU. Soeharto memprotes, “Mengapa harus pakai Insyaallah? Ujarnya dgn kesal.

Jika Soekarno tidak menyetujui Piagam Jakarta karena ingin memupuk rasa nasionalisme dengan tidak menjadikan satu kelompok menjadi ekslusif, Soeharto tidak menyetujui Piagam Jakarta karena menganggap Hukum Agama yang dimasukkan kedalam Hukum Negara akan memperlihatkan kemampuannya dlm menjalankan keyakinan itu.

Islamnya Soeharto adalah Islam abangan. Baginya menjalankan ibadah agama adalah urusan individu masing2. Tidak perlu mengadaptasi hukum agama kedalam hukum negara jika nantinya mengikat para pemeluk agama itu. Negara tidak perlu mengatur seorang umat muslim harus shalat, berpuasa atau ibadah2 lainya.

Selain itu banyak yang mengetahui bahwa Soeharto juga menjalankan ritual2 kejawen, kepercayaan turun menurun yang juga dianutnya. Dan kadang ritual kepercayaannya itu bertentangan dengan syariat Islam.

Bukan hanya itu, bagi Soeharto partai politik yg berlandaskan ideologi syariat Islam adalah sebuah ancaman terhadap kekuasaannya.

Pada pemilu 1955, partai yg berideologi Islam yaitu Masyumi dan NU menempati urutan ke 2 & 3 dalam peraihan suara. Sedangkan partai nasionalis (PNI) berada diperingkat pertama. Pada pemilu 1971, saat awal Soeharto berkuasa, partai NU berada diposisi kedua sedangkan PNI diposisi ke 3. Golkar sebagai pendukung Soeharto menjadi pemenangnya.

Melihat kenyataan tersebut, rezim orba mengeluarkan peraturan bahwa semua partai peserta pemilu harus mengusung ideologi yg sama yaitu Pancasila. Partai2 yg sebelumnya berideologi Islam dilebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan partai2 nasionalis dilebur menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Nafas partai bercirikan Islam pun dihilangkan, jika pada awalnya PPP berlambang Ka'bah, tidak lama kemudian lambang partai ini dirubah menjadi gambar Bintang. Tujuannya hanya agar ciri "Islam" tidak ada di partai ini.

Kehidupan sosial keagamaan di masyarakat juga dikekang, jilbab pernah dilarang disekolah, acara pengajian harus mendapat izin dari pihak keamanan setempat dan ceramah2 di Masjid akan diawasi oleh intel-intel.

Gerakan2 atau protes yg bercirikan Islam pun diberangus tanpa ampun, korban nyawa tidak dipikirkan oleh Soeharto, yg penting gerakan itu tidak menjadi besar dan akan mengancam kekuasaannya nanti. Sebab itulah terjadi tragedi Tanjung Priuk dan Talangsari Lampung yg menimbulkan banyak korban nyawa.

Tapi itulah kekuatan Soeharto, dia tidak akan berlemah lembut dengan kelompok anti Pancasila meski Pancasila itu pun banyak dimanipulasi berdasarkan keinginannya.

Jadi bagaimana Islam Soeharto....??

Tyva -

Sumber : Status Facebook Riza Iqbal

Friday, November 23, 2018 - 22:30
Kategori Rubrik: