Islam Tidak Mengajarkan Merusak Tempat Ibadah Agama Lain

Oleh: Muhammad Jawy
 

Pasca kemenangan Khilafah Rashidah melawan tentara Romawi di Yarmuk, Yerusalem di Palestina kemudian dikepung oleh pasukan khilafah. Petinggi Yerusalem, waktu itu Pendeta Sophronius memutuskan untuk menyerahkan kota Yerusalem, asalkan pemimpin tertinggi, yaitu khalifah, yang datang sendiri mengambil kuncinya.

Waktu itu yang menjadi khalifah adalah Umar bin Khattab ra, salah satu sahabat terbaik Rasulullah SAW, sekaligus salah satu sahabat terdekatnya. Menempuh berhari-hari perjalanan menuju Yerusalem, sampailah Umar bersama seorang pembantunya.

Umar diterima dengan baik oleh pendeta Sophronius. Setelah Umar bersama pasukannya membersihkan lokasi Al Aqsa dan menyiapkan menjadi masjid, beliau diajak ke Gereja Makam Kudus (Church of Holy Sepulcher). Umar ditawari untuk shalat disana. Namun beliau menolak, karena takut muslimin sesudahnya akan sholat disana dan ujungnya memaksa gereja tersebut diubah menjadi masjid. Gereja tersebut hingga kini masih utuh meskipun sejak jaman Umar hingga sebelum penjajahan Israel, mayoritas waktu dikuasai oleh pemerintahan Islam, kecuali ketika diduduki oleh tentara Salib Eropa.

Dalam kondisi perang pun, umat Islam dilarang menghancurkan tempat ibadah umat agama lain. Apalagi kalau damai. Sehingga kita tidak tahu mereka yang melakukan pembakaran terhadap Vihara dan kelenteng di Tanjung Balai ini sebenarnya mengikuti ajaran siapa?

Sangat mungkin Ibu yang protes bab Adzan ke imam masjid itu salah. Bisa salah dari cara penyampaian. Atau memang secara substansi salah. Saya kurang paham. Tapi kalau sampai ada polisi yang menengahi, memang ada bibit masalah.

Namun sangat disayangkan, ketika ada muslimin yang dengan mudahnya terhasut oleh berita hoax di media sosial, mereka kemudian melakukan tindakan yang jauh dari ajaran Islam, yaitu membakar tempat ibadah agama lain. Kalau enggan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, ya jangan mengaku Islam, atau jangan menggunakan simbol Islam. Itu hanya menjauhkan Islam.

Bahwa kaum 2D tidak hanya ada di kalangan umat Islam, itu jelas. Dari agama lain, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, termasuk yang tidak percaya agama, alias cuma agama KTP juga ada. Merekalah ini yang harus diedukasi, dan kalau memang melanggar hukum, harus dihukum sesuai dengan kejahatannya.

Nah yang saya kuatirkan sebenarnya kalau ada isu di bawahnya yang belum terekspose, misalnya masalah kesenjangan ekonomi. Karena di kabupaten orangtua saya pun dulu pernah ada kerusuhan rasial, motif utamanya adalah kesenjangan ekonomi, namun pemicunya waktu itu ada pemerkosaan terhadap wanita Jawa oleh warga etnis Tionghoa.

Sehingga dibutuhkan ketelitian dari pemerintah dan masyarakat yang waras untuk melihat persoalannya dan mencari solusinya.

Semoga pembakaran seperti kemarin merupakan yang terakhir di negeri (yang seharusnya selalu) damai ini.

Wallahua'lam.

 

(Sumber: Status Facebook Muhammad Jawy)

Saturday, July 30, 2016 - 23:00
Kategori Rubrik: