Islam Textbook

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Jum'at-an kemaren berjalan seperti biasa. Artinya saya 'lumayan' tertib. Tidak seperti dulu, datang setelah 'qomat' terdengar. Mesjid memang berjarak cukup dekat dengan rumah. Sepelemparan batu, istilahnya.

Waktu sebelum 'Pilpres', pernah satu ketika, di satu mesjid, saya sempat berantem mulut dengan khotib. Tentu saja usai sembahyang dan doa2. Lha wong ceramah isinya hoax. Saya tampilkan 'data', beliaunya cuma 'kata' WA. Ramai sampai dipisah takmir mesjid . . .

Setelah peristiwa itu, untuk jaga2 jangan sampai ada 'gègèran', saya datang setelah qomat disuarakan. Ada yg omong ndak sah. Tapi saya mikir cuma azas 'manfaat-mudharat' saja. Ada ndak dalilnya ? Suka2, sak karep2 saya . . .

Yang kemaren, khotib angkat tema 'membaca' Quran. Harus mengerti juga artinya, dawuh-nya. Macêm2 uraiannya. Cuma, dari intonasi, cara bicara, busana, dari sang khotib, saya sudah 'buruk sangka' duluan. Kayaknya . . .

Dengan suaranya yang keras lantang, ndak lama kemudian beliau kutip kata 'dolam-dolim'. Berkali-kali. Nah kan ?! Waduh kan ?! Karena saya ingat benar, kelompok mana yang suka dan sering ucap 'dolam-dolim' di luaran sana . . .

Sebelum nantinya terjadi 'insiden', seperti yang lalu, segera saya 'tutup' telinga, mata, dan pikiran, pada semua suara dan kata yang terlontar dari atas mimbar di depan saya . . .

Saya sibukkan pikiran saya dengan segala tanya tentang apa saja. Saya jawab sendiri. Saya tanya lagi. Saya coba cari jawab lagi. Seterusnya. Sampai 'lamat2', samar2, saya dengar doa dan lalu iqomat, saya segera berhenti dari 'menyibukkan' diri. Berdiri, coba ikut 'tegakkan' sholat. Ushalli . . .

Sah sholat Jumat saya. Karena saya telah ikut mendengar khutbah. Ndak bercakap pula saat khutbah berlangsung. Wudhu saya pun tetap sah karena saya ndak tidur atau bahkan untuk sekedar nglamun. Ini nurut text-book . . .

Dulu waktu 'kemunculan' mereka, kaum 'text-book', para 'letterlijk', sering bicara, 'Ini Quran yang bicara lho !', sambil merujuk dan buka tunjuk ayat dalam 'kitab'.

'Jangan taqlid saja,' Sindir pada yang 'sami'na wa atho'na'. 'Jangan suka baca2 buku filsafat'. 'Jangan artikan suka2 dan pakai hadits dengan sembarangan' . . .

Pokoknya jangan dan jangan pada yang lain, nyatanya mereka sendiri lakukan. Ngustat-nya njêngking ikut njêngking. Ngustat menghujat mereka mengumpat. Hadits pun dicari yang cocok dgn 'nafsu kuasa' mereka . . .

Apakah agama masih 'berguna' ? Agama Islam maksud saya. Itulah yang saya lakukan, tanya-jawab sendiri dalam hati, disela, diantara, 'gelegar' suara sang khatib . . .

Waktu Islam belum masuk, negeri ini telah bisa bangun Borobudur, Prambanan, kerajaan kuno bikin saluran air Candrabhaga, candi2 kuno di dataran tinggi yang dingin, macam Dieng. Telah punya armada laut yang kuat, perguruan tinggi yang terkenal. Sekarang ? Setelah Islam masuk ? Ya segitu2 saja. Kalau ndak menurun prestasinya, ya begitulah . . .

Mesir kuno, sebuah kerajaan yang besar, telah mampu buat Pyramida yang kokoh dan rumit. Setelah Islam masuk . . . ?

Demikian juga Syria, Iraq, Palestina, di masa2 kuno, mereka negeri yang makmur dan perkasa. Apalagi Yaman, negeri tua yang sekarang seakan masih tetap hidup di jaman batu . . .

Dinasti Ottoman di Turki, Abbasiyah, dan lain-lain pernah berjaya. Sekarang . . . ?

China, yang dari.dulu sudah digdaya, tanpa 'campur tangan' Islam pun sekarang tetap saja perkasa. Jepang, Eropa, Amerika, juga.

Ah, itu kan masalah dunia, materi, kekayaan, dan teknologi. Kita bisa berkilah . . .

Dalam 'muamalah' pun, Orang Eropa, Korea, Jepang, jauh lebih sopan dan jujur dari kita. Tas saya ketinggalan dalam bus kota di negeri sodara tua, bisa ketemu dan kembali. Topi saya terjatuh waktu di 'scanner' masuk bandara Soetta, sekejap hilang lenyap tanpa bisa diharap kembali.

Bahkan New Zealand disebut sebagai negeri paling 'Islami'. Lebih dari negeri Islam yang manapun di bumi ini . . .

Mau berbantah data apalagi . . . ?!

Mungkin, ada satu diantara banyak jawaban. Yakni kita telah salah 'baca' . . .

Kulit luar lebih menarik bagi kita. Tak mau susah payah menilik lebih dalam. Garang lebih disukai daripada tegas. Lemah lembut pun dihindari karena dianggap kelemahan. Tak apa 'bodoh' asal ber'iman'. Padahal seharusnya jika ber-iman tentu diliputi 'kebijaksanaan' bukan 'ke-dungu-an' . . .

Dzalim hanya pantas untuk 'musuh' kita. Jika kita bertindak keras se-wenang2, kita sebut 'membela' Islam . . .

Tak apa mencuri, merampok, asal milik 'toghut', padahal cuma untuk tutupi nafsu serakah. Tak apa juga 'menfitnah', toh cuma kepada kaum 'dzalim' lagi 'kafir' . . .

Salah 'baca', salah 'definisi', berujung salah 'langkah'.

Salah ? He eh. Salah. Karena umat Muslim terbukti cuma menjadi 'kaum papa' di segenap penjuru dunia. Terpinggirkan. Tak mampu nikmati 'rahmat' yang Empu-nya bagikan. Cuma karena tak mampu 'baca', malas bekerja dan berpikir . . .

Kalau ndak ngaku salah 'baca', berarti tuding 'agama'-nya yang salah. Mau dituding sebagai 'Penista Agama' ?!

Tidak itu saja, ndak mampu baca bikin tak pernah mau alih-alih mampu menilik, meneliti, menelisik, lebih dalam, bisa 'melihat' apa saja dibalik yang 'tertulis', yang bukan sekedar rangkaian kata-kata . . .

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka mereka diam di tempatnya, padahal mereka berjalan sebagaimana jalannya awan . . . (An-Naml : 88).

Allah telah pesankan . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Sunday, December 8, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: