Islam Tetap Memuliakan Anak yang Lahir diluar Nikah

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Pertanyaan: "Pak Ustadz, apa hukumnya nikah tapi sudah hamil?"

Jawaban: "Nikahnya sah, yang jadi masalah adalah ketika anak lahir."

Pertanyaan: "Apa masalahnya Pak Ustadz?

Jawaban: "Masalahnya itu ada 4 perkara. Satu, anak itu kalau lahir tidak bisa pakai "bin" dari Bapaknya. Dua, kalau anak pertama lahir laki-laki, lahir anak kedua perempuan, nanti anak pertama itu tidak bisa mewalikan adiknya. Tiga, kalau si Bapak mati, si anak tidak dapat harta warisan karena tidak ada hubungan nasab. Empat, kalau si anak pertama anak perempuan dipinang oleh laki-laki, si Bapak tidak boleh jadi wali, lalu walinya siapa? Yang menjadi wali adalah wali hakim, Pak KUA.

Saya sendiri tidak tahu tanya-jawab di atas itu yang nanya siapa, Ustadz yang jawab siapa. Tetapi saya meyakini jika pemahaman fikih Islam tentang pernikahan saat posisi perempuan telah hamil, ini menjadi pemahaman yang dipraktikan oleh kebanyakan Muslim di Indonesia. Termasuk 4 konsekuensi yang "ujug-ujug" ditanggung oleh bayi yang telah lahir, hanya karena pas hamil (lalu terpaksa menikah) dan atau sengaja lahir di luar nikah. Menurut saya pemahaman seperti ini mesti dikaji ulang. Sebab 4 konsekuensi tersebut sama sekali tidak adil bagi bayi yang baru lahir sampai kemudian nanti menginjak dewasa.

Saya malah meyakini jika anak yang lahir dengan pernikahan (sebagaimana umumnya menikah lalu melahirkan), lahir di luar nikah atau pun mendadak (terpaksa, dipaksa) menikah karena "kecelakaan" (sampai kemudian bayi lahir), adalah kedudukan dan derajatnya sama. Ia sama-sama bayi yang suci. Allah memuliakan siapapun bayi yang lahir, dari rahim ibu dengan latar belakang apapun. Apalagi di sini, saya tidak mau terlibat saling menyalahkan. Para remaja yang mengalami "kecelakaan" pergaulan, itu sebetulnya tidak murni kesalahan mereka. Ia bisa disebabkan karena kurang perhatian dari orang tua, pola pendidikan di sekolah yang kurang tepat, termasuk kepedulian sosial kita sebagai masyarakat.

Saya mengajak kepada para ulama, cendekiawan, dan siapapun untuk bisa mengkaji ulang persoalan ini. Jangan sampai sekarang dan ke depan akan terus terulang, bayi yang lahir di luar nikah atau menikah karena "kecelakaan", sampai kemudian bayi tersebut dewasa otomatis tetap mendapat 4 konsekuensi--semacam hukuman atau kutukan bawaan orang dewasa.

Wallahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Sunday, August 9, 2020 - 16:30
Kategori Rubrik: