Islam, Sekuler Dan Rocky Gerung

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Salah satu fokus studi di Unida adalah mengkaji sekularisasi ilmu pengetahuan, mengungkap kekeliruan Syiah dan aliran lain dalam berbagai studi Islam.

Pentingnya membongkar sekularisasi ilmu karena ada postulat (asumsi atau postulat?) Bahwa pengetahuan tidak bebas nilai. Ilmu seperti senjata otomatis bisa menjadi alat untuk menjajah.

Setelah gagal total menginvasi Bangsa Timur secara fisik, dengan ilmu pengetahuan, Barat masih bisa menjajah kita melalui pendudukan imajinasi. Ilmu pengetahuan bisa melakukan tugas ini dengan baik.

Nah. Hasil penelitian mahasiswa Pascanya itu di presentasikan ke berbagai kampus. Dalam satu kesempatan saya berdebat sengit dengam mereka.

Ihwalnya dalam sebuah presentasi kelompok, seingat saya ada 7 orang. Presentator mendiskreditkan faham agama kelompok tertentu dan mengkritik berdasarkan asumsi-asumsi tanpa didukung literatur yang memadai. Saya kira memang tidak ada data yang mendukung asumsinya.

Saya dikeroyok oleh tim mereka dan situasi cukup panas, pak Rektor IAIN, dulu STAIN Pekalongan, dan para kajur/dekan hadir. Kami semua menahan diri, seperti ada serombongan dari negeri asing menginfasi kedaulatan kami dalam berfikir, harus tunduk pada pemahaman mereka, tanpa argumen yang jelas.

"Ini salah, yang benar begini", tanpa argument-argumen yang runut. Tapi buah dari kejadian itu, secara langsung saya ditawari beasiswa oleh Doktor HFZ di Pasca di UNIDA.

Salah seorang anggota rombongan itu kemudian melanjutkan kuliah di UIN Jogja, dia masih ingat saya, dari awal studi sampai akhir, dia sering bilang ke saya, katanya, "Doktor H menanyakan Ada terus".

Saya mengagumi gontor, menghormati UNIDA, tapi mengundang RG, saya kira perbuatan yang mengencingi idealisme akademik yang di junjung UNIDA. Apalagi misi akademik mereka membongkar ragam bentuk sekularisasi ilmu pengetahuan.

Lah bagaimana mau menguliti lapisan-lapisan ilmu pengetahuan demi membongkar hantu yang bernama sekularisasi ilmu, melawan mbahnya sekuler, mbahnya Liberal, yaitu atheisme Rocky Gerung yang kasat mata saja tidak berdaya.

Saya masih ingat pak Rektor dan jajaran juga kena semprot oleh Pak HFZ, tapi mengapa terhadap atheis yang gak beragama sampai diundang dan dielu-elukan. Seperti ini keberagamaan macam apa. Muslim dihajar disesat-sesatkan seorang atheis disanjung-sanjung.

Berarti bukan soal idealisme ilmu pengetahuan, tapi studi-studi dilakukan guna menemukan formulasi tepat ilmu pengetahuan untuk mencengkramkan kekuasaan agama dalam bentuknya yang lain.

Buktinya, atheis sekalipun jika memiliki kesamaan target politik mereka jadikan sekutu yang sangat mesra.

Rocky Gerung adalah ironi kemusliman kita, ironi ke Indonesiaan kita. Tragedi "akal sehat ala Rocky Gerung yang disimak dengan seksama dilembaga-lembaga Islam saja, tanpa Hoax yang lain, cukup menjadi cacat nalar kolektif kita selaku bangsa. Miris buanget.

(Unek-unek yang baru sempat saya tuliskan).

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Tuesday, March 26, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: