Islam Pribumi Tumbuh Subur di Asmat

Ilustrasi

Oleh : Agus Setyabudi

Sudah dua tahun yang lalu saya berada di Asmat. Dan saya merasa sangat beruntung sudah pernah menginjakkan papan-papan jalanan di kota rawa itu. Sebab, ada satu hal yang paling membekas pada diri saya dan pasti tidak akan terlupakan hingga akhir hayat. Yaitu mengenai rasa syukur.

Ya, rasa syukur saya melejit membubung sangat tinggi ketika selama berada di sana. Saya sangat bersyukur tidak terlahir di kota rawa itu. Saya sangat bersyukur terlahir di salah satu kota di pulau Jawa kendati hanya kota kecil.

Meski kota kecil, di kota kelahiran saya segalanya sangat mudah bisa diperoleh. Listrik 24 jam. Sumber mata air dari tanah melimpah. Sms tinggal sekali pencet tombol sebagaimana bila ingin bertelepon. Bila ingin bepergian ke kecamatan atau kota lain bisa dengan mudah mencari dan menggunakan moda transportasi.

Kemudahan-kemudahan yang saya dapat selama hidup di Jawa inilah yang melejitkan rasa syukur saya selama berada di Asmat hingga tak terhingga tingginya. Di Asmat, ketika awal-awal saya tiba di sana, nyala listrik tidak full 24 jam, baik malam maupun siang. Tapi 2 atau 3 bulan kemudian sudah bisa full selama 24 jam.

Untuk air, tidak ada sumber mata air yang layak untuk dikonsumsi. Maklum, rawa. Kendati demikian, Allah memang Maha Adil dan Maha Pemurah. Di daerah yang keadaan airnya sedemikian rupa, hujan yang menjadi satu-satunya sumber penyangga kebutuhan air di sana sepertinya diberi kepahaman oleh-Nya akan kebutuhan manusia di sana. Jadi, ia menumpahkan airnya tanpa mengenal musim. Di sini pulalah saya mempertanyakan keshohihan pelajaran IPA saya sewaktu duduk di SD yang menyatakan bahwa di Indonesia ini terdapat 2 musim; penghujan dan kemarau.

Di Asmat, dua tahun yang lalu, bila ingin mengirim sms atau bertelepon, saya pasti mengulang-ulang. Sering pula hingga belasan kali baru kemudian berhasil. Dan saya jarang internetan di sana. Sms dan telepon saja sulitnya seperti itu, apalagi internet. Ada memang orang-orang yang jualan voucher wifi. Sepuluh ribu dapat satu jam. Tapi speednya sungguh melatih kesabaran. Kendati demikian, terakhir saya komunikasi dengan orang sana, sinyal disana sudah 3G kini. Syukur walhamduliLlah kalau memang benar demikian.

Dan selama di Asmat, saya tidak pernah bepergian ke distrik lain. Bukannya tidak ingin jalan-jalan mumpung berada disana, bukan. Melainkan kondisi antar distrik yang satu dengan yang lainnya sudah berbeda pulau. Untuk bisa sampai ke distrik lain, tentu mustahil bila berenang. Sementara ongkos perahu atau speedboad, mungkin bisa untuk membeli beberapa tiket bis dari kota saya menuju Jakarta.

Selama di Asmat, saya berada di distrik Agats. Salah satu distrik yang sekaligus menjadi ibu kota Kabupaten Asmat. Kalau ibukotanya saja kondisi dan keadaannya seperti ini, bagaimana dengan distrik-distrik lain?

Dan insya Allah, minggu depan saya akan kembali menginjakkan kaki saya lagi di kota "berjuta jembatan" ini. Bukan dalam rangka piknik. Bukan dalan rangka menyalurkan bantuan epidemi gizi buruk. Bukan. Melainkan untuk mengantar salah satu aktifis muda NU yang hendak melatih hadroh di sana. Mohon do'anya. Dan tidak akan lama saya berada disana. Mungkin seminggu, kalau ada kapal datang bersandar, saya balik ke Sorong lagi. Kalau berhari-hari disana, nanti siapa yang mengajar anak-anak Kokoda?

Akhirnya, siapa saja yang tidak pernah bersyukur atau merasa tingkat rasa syukurnya masih rendah, datanglah ke Asmat. Meski penduduknya banyak yang non-muslim, kota ini bisa menjadi terapi untuk meningkatkan rasa syukur Anda. Silakan dibuktikan saja. Salam.

Sumber : Status Facebook Agus Setyabudi

Thursday, February 8, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: