Islam Nusantara Sudah Menyebar ke 72 Negara

Ilustrasi

Oleh : Iik Fikri Mubarok

Membaca kabar ini, tak terasa Air mataku menetes. 
Ingat aku mendidiknya waktu dulu. Setiap hari dia memijit kaki dan punggungku, melakukan teraphi tanpa aku minta, dia juga selalu menyediakan makan setiap kali waktunya aku makan, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumahku daripada dirumahnya, sampai-sampai orang tuanya sering Dateng ke rumah sekadar untuk memastikan keberadaannya, semua tugas hafalan yang aku berikan selalu dihafalnya dengan baik, memang semua muruidku sering memijitku, namun mereka tidak sering dirumahku, berbeda dengan muridku yg satu ini, setiap hari standbuy dirumahku, tidurpun bareng denganku, memang waktu itu aku sedang mengidap penyakit mag akut, jadi muridku yg satu ini tidak pernah tega meninggalkanku, tiap kali mag ku kumat parah, maka dialah yang memberikan teraphi sesuai petunjukku.

Setelah tiga tahun aku didik dia, kemudian aku titipkan dia ke salah satu Guruku, Almaghfurlah Alhafidzh KH Masduqi Amin. 
Entah kenapa waktu itu batinku begitu kuat bahwa muridku ini kelak bakal jadi orang Alim.

Abah, Kaulo titipkan murid kaulo Niki Dateng panjengan, silahkan Abah mau melakukan apapun terhadap murid saya ini. Abah hanya mengangguk sambil tersenyum melihat wajahku. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, aku pun permisi pamit pulang, setelah keluar dari dalem Abah, aku menarik tangan muridku, dan dengan suara lirih aku pesan padanya " Layani Abah sebagaimana kamu melayaniku" . 
Enggih kang, jawabnya.

Singkat cerita, muridku ini sangat di sayang oleh Abah, bahkan oleh Kyai-kyai yang lain, dan muridku ini selesai menghafal Alqurannya, hingga pada akhirnya Kyai Taufiq Alumnus Iraq menggembleng muridku ini dengan Ilmu musthalahul Hadits, Ushul Fiqh dan beberapa Fan Lainnya.
Dan yang membuatku terharu adalah, setiap kali dia pulang liburan pesantren, pasti selalu datang ke rumahku dan yg pertama kali dipegang adalah kakiku, untuk dipijitnya sambil selalu minta untuk selalu dibimbing.

Tahun 2014 dia sowan kerumah, mohon izin untuk berangkat ke Maroko, sambil menahan air mata karena bahagia, aku mengiyakan dan sangat mendukungnya. Dua bulan kemudian dia meneleponku dari Maroko, katanya mau pulang lagi ke Indonesia karena S2 di Maroko tidak menyediakan Beasiswa. Aku mencegahnya. " Jangan pulang, perbanyaklah bershalawat dan berziarahlah kepada Wali yg ada di Maroko. Bertawassullah dengan mereka, jikapun tetep tidak merubah keadaan, maka tetep jangan pulang mengajilah pada Ulama yg ada disitu. Diapun nurut. Singkat cerita aku ditelpon lagi, katanya minta doanya, agar mengerjakan semesternya lancar. Aku kaget, kok gak tahu kabar masuknya, tiba2 dapat kabar sedang semester. 
Setiap kali ada kesulitan apapun di Maroko, dia selalu menelponku, bahkan ngobrol hanya sekadar sharing pengetahuan sambil selalu minta bimbingan. Sampai pada hendak menulis tesis pun ia meminta bimbingan tentang bahasan apa yg kira-kira baik. Aku pun mengarahkannya untuk menulis perbandingan madzhab teologi atau humanisme antar umat beragama, rupanya pilihan yg kedua yg dia ambil, dan sekarang tesis sudah selesai ditulis, tinggal menunggu sidang, namun ada kendala, karena ada 7 orang yg menolaknya dan cuma 3 orang yang mendukungnya, terlebih Rais Lajnah Munaqasyah belum ada nama yg ditentukan, sedangkan sidang rencananya akan dilakukan pada hari sabtu besok.

Murid saya ini melakukan penelitian tentang hubungan baik antara Yahudi dan Islam di Maroko sangat luar biasa, karena dia sampai bisa ngobrol dengan penasihat Raja Maroko Muhammad Sadis. Dan tesis muridku ini telah didukung oleh ketua persatuan Umat beragama, bahkan konon, beliau mau mendampingi dan melindungi muridku ini disaat sidang Minaqasyah.

Muridku ini juga sedang menjadi ketua dari penyebaran Islam Nusantara ke 72 Negara yg diadakan oleh LDNU. Katanya Alhamdulillah sudah Ratusan kitab Ulama Nusantara yg sudah terkumpul ditangannya.

Saya mewakili muridku, mohon doa restunya agar semua yg dicita-citakan bisa terwujud dan terlaksana dengan baik, khususnya sidang Munaqasyah dan penyebaran Islam Nusantara.

Sumber : Status Facebook Iik Fikri Mubarok

Wednesday, December 27, 2017 - 14:30
Kategori Rubrik: