Islam Nusantara dan Budaya Arab

Ilustrasi

Oleh : Aldinsyah Vijayabwana

Beberapa hari lalu saya menerima kiriman tentang Islam Nusantara yang menurut kiriman itu disebut Jemaah Islam Nusantara (JIN). Kiriman itu disumberkan pada Habib Rizieq Shihab, menyebutkan bahwa JIN berupaya untuk mempreteli syariat Islam dengan dalih bahwa itu budaya Arab. Artikel itu mengesankan bahwa Islam Nusantara melarang segala bentuk budaya Arab dalam praktik Islam di Indonesia.

Bukan hal baru bagi saya menerima beginian. Awal-awal istilah Islam Nusantara muncul, ada seorang kawan mengirimkan meme. Isinya mempertanyakan, mengapa Islam Nusantara ribut dengan budaya Arab, namun tidak ribut ketika ada budaya Barat, Korea, Jepang, dsb? Pernah juga ada yang mengirimkan foto orang Jepang berbaju gamis dan berpeci, caption-nya “Orang Jepang saja bangga berpakaian Islami, masa’ kita malu dan berdalih ‘tidak sesuai budaya Nusantara’ sih?”

Sebenarnya jawabannya simpel. Akhir-akhir ini muncul fenomena mengidentikkan Islam dengan budaya Arab. Secara gampang, saat ini banyak orang yang mengenakan jubah, gamis, surban, berjenggot, bercelana cingkrang, berkerudung lebar, bercadar, merasa lebih Islam daripada mereka yang berpeci hitam, berbatik, bersarung, berkebaya. Merasa lebih Islam ketika memanggil saudaranya dengan ‘akhi’ daripada ‘lur’. Merasa lebih hebat ketika sering menggunakan istilah-istilah Arab daripada istilah-istilah bahasa Indonesia atau bahasa daerah ketika berinteraksi dengan orang lain.

Islam Nusantara hadir untuk menegaskan bahwa budaya-budaya tersebut tidaklah bertentangan dengan syariat Islam. Islam Nusantara menegaskan bahwa pelaksanaan syariat dapat disesuaikan dengan budaya lokal. Anda tetap sah salat mengenakan sarung, kemeja batik atau baju koko, dan peci hitam, selama itu memenuhi syarat pakaian salat. Anda tetap orang Islam meskipun Anda sehari-hari pakai blangkon bukan surban. Anda tetap orang Islam meskipun Anda lebih sering menggunakan istilah bahasa daerah, bukan bahasa Arab, dalam keseharian Anda.

Bukan berarti Islam Nusantara melarang menggunakan budaya Arab atau budaya lain. Saya ini kerap salat mengenakan setelan jas lengkap (berdasi pula!), atau berjubah ala Arab (minus surban, susah ngiketnya), dan sering juga mengenakan sarung dan baju koko. Budaya mana pun dapat digunakan, selama memenuhi kaidah syariat. Hanya saja, jangan sampai Anda menganggap penggunaan budaya itu sebagai lebih memenuhi syariat daripada budaya yang lain.

(mungkin itu juga kenapa yang disindir adalah budaya Arab melulu. Ya, karena yang sering merasa lebih Islam itu orang yang berpenampilan ala Arab. Coba kalau saya yang berpakaian setelan jas yang merasa lebih Islami dibanding yang lain, pasti yang disindirin budaya Eropa)

Pesan lain yang disampaikan oleh Islam Nusantara adalah, mari kita lestarikan budaya lokal kita. Jangan malu berbudaya lokal. Cintailah budaya lokal kita. Jangan takut tidak sesuai syariat, karena budaya lokal kita tidak bertentangan dengan syariat.

Sumber : Status Facebook Aldinsyah Vijayabwana

Saturday, July 28, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: