Islam, Kristen dan Lainnya (Catatan tentang Lebanon)

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Di antara negara-negara lain di Timur Tengah, Lebanon tergolong sangat unik karena menjadi rumah bagi aneka ragam pemeluk agama. Lebanon juga menarik karena menjadi satu-satunya wilayah di Timur Tengah dengan populasi "umat Kristen lokal" yang beraneka ragam dan cukup banyak jumlahnya. 

Di negara-negara Arab Teluk, memang banyak umat Kristen tetapi kebanyakan dari mereka adalah kaum ekspat: dari Sri Lanka, Filipina, India, negara-negara di Afrika atau Eropa dan lainnya, dlsb. Meskipun tentu saja ada komunitas Kristen Arab, baik Arab Teluk maupun kawasan Arab lain. 

 

Mesir, Yordania, Palestina, atau Irak memang banyak populasi Kristen Arab lokal tetapi tidak semajemuk di Lebanon. Di negara yang nama resminya Republik Lebanon (al-jumhuriyyah al-lubnaniyyah) ini ada sejumlah denominasi Kristen seperti Katolik Maronite (21%), Ortodoks Yunani (8%), Katolik Melkite (5%), Ortodoks Armenia (4%), Protestan (1%), dan sejumlah kelompok Kristen lainnya seperti Katolik Armenia, Ortodoks Syria, Katolik Roma, Koptik dan lain-lain (total sekitar 1,5%). Ini data dari International Religious Freedom Report tahun 2017. 

Mayoritas umat Krsten Lebanon tentu saja beretnik Arab dan dengan demikian menggunakan Bahasa Arab (selain Perancis dan Inggris) untuk berkomunikasi. Sebagai "bangsa Arab" acara-acara ibadah dan khotbah juga dilakukan dengan Bahasa Arab. Teks-teks Kekristenan (termasuk Injil) juga ditulis dengan Bahasa dan huruf Arab (meskipun tentu saja ada yang memakai bahasa dan huruf non-Arab). 

Sementara umat Islam terpecah menjadi Sunni dan Syiah yang prosentasenya kurang lebih sama (masing-masing sekitar 27%). Sementara Druze (sekitar 5%) berada di antara Sunni dan Syiah. Jika Sunni cukup homogen di Lebanon, Syiah cukup bervariasi. Ada sejumlah denominasi Syiah disini: Itsna Asyariyah, Ismailiyah, Zaidiyah, Alawi. Druze sebetulnya bisa digolongkan ke Syiah karena pecahan dari Ismaili. 

Mayoritas kelompok Syiah di Lebanon adalah beretnik Arab. Tetapi tidak semua kelompok Syiah Lebanon adalah "pro-Arab" (seperti kelompok Amal). Ada pula yang "pro-Iran" (seperti Hizbullah). Ada lagi kelompok Syiah "Abu Ja'far" yang tidak kesana-kemari, menurut sejumlah informan. 

Meskipun populasinya kecil, Lebanon yang berbatasan dengan Israel dan Suriah ini juga menjadi rumah untuk umat Yahudi, Baha'i, Hindu, Budha, Mormon, dlsb. Menurut World Values Survey bahkan ada sekitar 3% kaum ateis di Lebanon. 

Masing-masing kelompok agama ini, khususnya Sunni, Syiah, Maronite dan sejumlah kelompok Kristen lain memiliki "daerah atau basis kekuasaan" masing-masing. Umat Sunni terkonsentrasi di Lebanon utara, Beirut barat, dan Tripoli. Umat Syiah di Lebanon selatan, Lembah Biqa, dan Beirut Tenggara. Sedangkan umat Maronite sebagai "Kristen mayoritas" terkonsentrasi di daerah-daerah gunung dan Beirut timur. 

Kompleksnya penyebaran atau distribusi demografi agama di Lebanon menyebabkan peta koalisi antar kelompok agama pun terpecah-pecah dan sangat dinamis. Masing-masing tergantung pada kepentingan kelompok atau kepentingan nasional. Misalnya, umat Kristen Lebanon hampir bisa dipastikan bergabung dengan umat Islam Lebanon ketika terjadi konflik dan perang dengan Israel. 

Ketika perang meletus antara Palestina-Israel, umat Kristen Lebanon cenderung netral. Umat Islam Lebanon pun demikian. Mereka tidak tertarik membela Palestina karena, menurut mereka, banyak para pengungsi Palestina yang tinggal di Lebanon sejak Perang Arab-Israrel dulu (akhir 1940-an maupun pertengahan 1960-an) menimbulkan sejumlah problem sosial di negara mereka. 

Kini problem sosial tersebut bertambah dengan datangnya gelombang pengungsi Suriah di Lebanon yang menimbulkan "kelas sosial" sendiri dan rasa tidak nyaman di kalangan warga Lebanon, baik yang Muslim maupun bukan (bersambung).

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Tuesday, June 11, 2019 - 14:45
Kategori Rubrik: