Islam Kaku dan Teror Teologis

Ilustrasi

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

ISLAM KAKU TIDAK LAKU
Dimana-mana, “Islam kaku” itu tidak laku. Maksudnya apa?

Yang saya maksud dengan "Islam kaku” disini adalah jenis, pemahaman, tafsir, wacana, dan praktik keislaman yang leterlek, tekstualis, rigid, tidak lentur, anti-kemajemukan, berorientasi masa silam, serta tidak adaptif dengan perubahan zaman.

Bukan hanya Islam saja, agama apapun kalau mengikuti model seperti ini susah berkembang atau tidak akan laku di pasaran. Hanya segelintir orang fanatik saja yang mengikutinya. Lihatlah sejarah kaum radikal Islamis di berbagai negara di dunia ini. Tidak ada satupun yang mendapatkan respons luas dari kaum Muslim.

Karena merasa tidak laku di pasaran itulah sebabnya para pendukung Islam kaku tadi menyebarkan berbagai "teror teologis” kepada umat Islam dan masyarakat luas. Bentuk "teror teologis” ini bermacam-macam: dari yang lunak seperti ancaman tidak masuk surga dan masuk neraka kalau tidak mengikuti kelompok mereka sampai yang ekstrim seperti tindakan kekerasan dan terorisme.

Dengan kata lain "teror teologis” itu dijadikan sebagai medium, jalan atau alat penyebaran Islam kaku karena tidak laku di kalangan umat Islam. Kalau merasa konsep, pemikiran, dan ide-idenya bagus dan bermanfaat untuk publik Muslim, maka tidak perlu repot-repot menggunakan teror dan ancaman. Kaum Muslim pasti akan suka-rela mengikuti mereka.

Selain itu, teror, pemaksaan dan kekerasan yang mereka praktikkan juga sebetulnya lantaran mereka menyadari bahwa gerakan Islam kaku yang mereka propagandakan itu tidak mempunyai fondasi intelektual memadai alias rapuh dari sisi metodologi. Karena merasa lemah dari aspek metodologi keislaman, kelompok ini selalu menghindari diskusi akademik dan dialog intelektual.

Hal lain yang perlu dicatat kenapa Islam kaku itu tidak laku adalah karena para elit kelompok Islam kaku sebenarnya menyembunyikan "kepentingan sekuler-duniawi” yang dibungkus dengan jargon-jargon sakral-ukhrawi. "Perjuangan Islam” yang mereka serukan hanyalah bungkus, strategi, taktik, dan jargon kosong belaka untuk menarik minat sebanyak-banyaknya para "konsumen” Muslim. Bagi para petinggi Islam kaku, ideologi Islam hanya dijadikan sebagai jalan untuk meraup keuntungan material-politik-ekonomi sebanyak-banyaknya.

Ini persis seperti kaum kapitalis, dan memang para pendukung (khususnya kelompok elitnya) adalah para kapitalis sejati yang menggunakan modal sekecil-kecilnya (misalnya iming-iming surga dan ancaman siksa neraka atau jargon-jargon keislaman) untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Bacalah sejarah dan perkembangan keislaman di Afganistan, Irak, Suriah, Aljazair, Mesir, Sudan, Libya dan sebagainya, termasuk di Indonesia, tentang bagaimana tingkah-polah para suporter Islam kaku ini yang rajin menebar "teror teologis” dan kekerasan di masyarakat.

Sebagian kecil umat Islam berhasil diperdaya menjadi anggota militan kelompok Islam kaku dengan harapan atau khayalan meraih kebahagiaan di alam akhirat, sementara yang lain berpura-pura mengikuti seruan mereka karena takut dengan teror, pemaksaan dan ancaman kekerasan.

Yang lain lagi melakukan perlawanan terhadap pemikiran dan tindakan kelompok Islam kaku yang intoleran, kontra kemajemukan, dan anti-kemanusiaan. Perlawanan kultural-politis itu dilakukan karena mereka menganggap kelompok Islam kaku berpotensi membahayakan tatanan kehidupan sosial masyarakat yang plural sekaligus memandang kelompok ini telah melakukan penyimpangan serius atas etika profetis, pesan kenabian, dan spirit universal Al-Qur'an yang menjunjung tinggi keragaman, keadaban, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Berpotensi menghancurkan sendi kebangsaan

Dalam konteks Indonesia, perlawanan terhadap kelompok Islam kaku itu juga dilakukan lantaran mereka dinilai berpotensi menghancurkan sendi-sendi kebangsaan dan ideologi negara yang sudah susah-payah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa.

Saya sendiri berpendapat bahwa Islam kaku secara intrinsik memang bertentangandengan spirit universal keislaman,pesan moral A-Qur'an dan cita-cita kenabian. Selain itu, Islam kaku juga bisa membahayakan masa depan kehidupan bangsa dan negara serta mengkhawatirkan prospek hubungan antaretnis, antaragama, antarkelompok, dan antarumat manusia di bumi pertiwi ini.

Watak dan praktik Islam kaku yang intoleran serta melegalkan kekerasan dan "teror teologis” sangat membahayakan struktur sosial, fondasi kebangsaan, sistem kenegaraan, bangunan adat-istiadat, dan tatanan kehidupan masyarakat di Indonesia.

Perlu wadah keagamaan

Indonesia adalah negara-bangsa yang sangat plural dan karena itu perlu wadah keagamaan dan ideologi yang menjunjung tinggi pluralitas, bukan malah menegasikan pluralitas itu seperti yang dilakukan oleh kelompok Islam kaku. Pluralitas adalah sesuatu yang bersifat "given”, dan karena itu manusia tidak bisa menghindar dan menampiknya. Upaya menghilangkan kemajemukan hanya akan membuahkan tragedi, kerugian, kegetiran, dan kehancuran umat manusia.

Simaklah sejarah kaum rasis, etnosentris, dan "supremasis” yang sangat mengerikan. Didorong oleh nafsu untuk menyeragamkan kebudayaan manusia, mereka rela membunuh dan memusnahkan sesama umat manusia hanya karena berbeda ras, suku-bangsa, warna kulit, dan ekspresi kebudayaan.

Tentu saja manusia yang waras dan normal tidak ingin kebiadaban dan kehancuran peradaban manusia itu itu terjadi. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, saya juga tidak menginginkan negara yang sudah dengan susah payah diperjuangkan dan didirikan oleh para bapak bangsa dari berbagai etnis dan agama dengan darah, tenaga dan harta tak terhingga nilainya itu kemudian tiba-tiba mau "dibajak” oleh kelompok Islam kaku. Menjadi tanggung jawab kita semua untuk merawat, menjaga, mempertahankan sekaligus memperjuangkan negara-bangsa yang indah ini dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Kita harus banyak belajar dari sejarah umat manusia yang tenggelam dalam limbo sejarah akibat ulah sejumput orang dan kelompok yang tidak menghargai kemajemukan. Dengan demikian, demi kelangsungan peradaban manusia dan keberlanjutan relasi harmonis antarsuku-bangsa di Indonesia, kita harus melawan sekuat tenaga, baik perlawanan politis maupun kultural, terhadap berbagai kelompok Islam kaku yang mulai merasuk dan menyusup di tengah-tengah masyarakat dan umat Islam. Tentu saja perlawanan itu tidak boleh dilakukan dengan kekerasan (apapun bentuknya). Perlawanan harus dilakukan secara beradab, intelektual dan manusiawi sesuai dengan karakter Islam sebagai "agama rahmat bagi alam semesta”. Semoga bermanfaat.

Sumber : DW.com

Thursday, January 4, 2018 - 13:45
Kategori Rubrik: