Islam Indonesia hari Ini

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Saya menjalani masa kecil di sekolah dasar yang diasuh ibu-ibu perwira: SD Persit Kartika Chandra. Sebagian besar teman-teman saya beragama Islam. Di bulan Ramadhan saya ikut berpuasa, gak mungkin tega mengunyah bekal dari rumah.

Saya hafal doa Basmallah. Itu diajarkan di sekolah. Saya haus mereguk kebaruan, ikut memamerkan keterampilan melafazkannya, termasuk menghapal rukun iman. Tentu saja saya hapal dua kalimat syahadat yang singkat itu termasuk pernah beberapa kali mengucapkannya. Apakah dengan itu saya menjadi seorang muslimin? Mungkin, tapi sebetulnya tidak.

Guru agama Islam di bangku SMA menyebut mental seperti itu "mental pemenang". Ia begitu kagum melihat keikhlasan saya bersepenanggungan dengan kaum muslim dalam ibadah-ibadah mereka tanpa takut "terbius" olehnya.

Tak bermaksud bergurau, saya pernah membawakan doa Basmallah dalam format instrumentalia dengan gitar. Semua orang bertepuk tangan. Padahal permainan saya cuma padan untuk duduk di sebelah pengamen di bilangan Pecenongan (saban Sabtu malam ayah saya membawa kami ke sana menikmati jamuan malam di kawasan sohor itu).

Di bangku SMA, ketika kegilaan akan musik menjadi-jadi, saya sering bertengkar dengan Ayah, beberapa kali minggat. Di mana saya tinggal? Di rumah teman-teman, semuanya muslim, termasuk di rumah seorang gadis di kompleks Siliwangi, Lapangan Banteng.

Mamanya begitu sayang pada saya. Setiap pagi berangkat ke sekolah, saya ikut antri menerima uang jajan. Ketika Ibu saya datang menjemput, Mama teman saya itu mencegahnya, meminta Ibu merelakan saya tinggal di sana beberapa hari lagi hingga pertengkaran dengan Ayah reda.

Saya begitu disayang kaum muslim. Sekali lagi, mereka bilang saya punya mental pemenang. Itu separuh benar karena sebetulnya mereka juga kaum pemenang. Emangnya gampang membiarkan seorang remaja Kristen tinggal di rumah mereka, yang tak lupa pergi ke gereja di Minggu pagi sehingga dengan demikian mereka harus secara khusus berpesan kepada sopir untuk masuk kerja di hari libur demi mengantar saya ke sana.

Para orangtua pemenang itu sekarang sudah tiada, pergi ke keabadian. Tinggallah anak-anak mereka, teman-teman di masa kecil saya. Apa yang lalu terjadi?

Sebagian besar berubah. Mereka beragama Islam sebagaimana orangtua mereka, tapi bersikap tertutup, menjaga Islam dengan kekakuan super glue, membuat agama itu tak lagi ramah kepada dunia. Saya jengkel, kecewa, marah, dan merasa dipermalukan.

Saban hari saya baca status-status Kyai Mohammad Monib (alm), menyimak kegelisahan dan tangisnya terhadap sikap umat Islam di Indonesia. Semula saya tak suka. Sebagai "sesama muslim" saya kadang tersinggung oleh bunyi kalimat-kalimat Cak Monib. Tapi, ketika kemudian tone "nyinyir" di dalamnya berubah menjadi rintih dan ratapan, saya terdiam, termangu, mengenang kembali orangtua-orangtua saya yang sudah lama pergi.

Papi, Mami, Abi, Umi, Papa, Mama, Ayah, Ibu..., aku kangen. Aku merindu keagungan Islam yang kalian pancarkan. Aku meratap atas mental pecundang yang dengan tolol dipamerkan anak-anak kalian. Mereka masih teman-temanku, tapi asing.

Berkati aku agar tetap kokoh, berdiri sebagai pemenang. Di sana, saat kita jumpa, kita bakal nyanyi bareng, mengumandangkan Shalawat Nabi dan Amazing Grace sambil dengan meriah mendaraskan Gending Sriwijaya.

Aku kangen.

***

"Assalamualaikum, Ya Akhi, Ya Ukhti," demikian didaraskan para pemenang dalam nyanyiannya di bawah ini. Suara mereka meninju semua jantung yang kadung membeku. Mereka ingatkan saudara-saudari muslim bahwa "Sedekah lapangkan harta", dan "Ampunan Tuhan slalu terbuka".

Kalau sudah begitu, kalau sudah saling mengakui iman-percaya satu sama lain, kenapa kita masih terus merasa berbeda?

Di Ambon perang pecah,
di Ambon cinta bermadah.

https://www.youtube.com/watch?v=160E1VWAg8Y

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, May 26, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: