Islam Ego Saya

Oleh: Hasanudin Abdurakhman
 

Saya cukup sering dituduh menghina Islam, menyudutkan Islam. Apakah tuduhan itu meresahkan saya? Tidak. Karena saya paham, yang menuduh saya begitu adalah orang-orang yang tidak berakal. Bagaimana kita bisa bilang mereka itu berakal kalau tulisan Arab di panci, atau di baju Agnes Monica pun mereka anggap sebagai pelecehan terhadap Islam?

Bagaimana sih melecehkan Islam itu? Bisakah Islam dilecehkan? Bahkan ada yang sampai bilang, menghina Tuhan. Mungkinkah Tuhan dihina? Islam adalah sesuatu yang abstrak. Bagaimana mungkin sesuatu yang abstrak bisa dilecehkan? Bagi saya, satu-satunya yang bisa dilecehkan adalah manusia. Pelecehan adalah soal rasa, dan satu-satunya yang punya perasaan adalah manusia.

Islam itu agama. Orang boleh mengimaninya, boleh pula tidak. Kalau ada orang yang memilih untuk tidak beriman, apakah itu menghina Islam? Tidak. Kalau ada yang mengatakan bahwa Quran itu keliru, sehingga dia tidak beriman padanya, apakah ia menghina Quran? Tidak. Kalau ada orang menganggap bahwa Muhammad itu bukan nabi, apakah ia menghina Muhammad? Tidak. Mereka hanya menetapkan pilihan atas iman mereka.

Sama saja dengan kita. Kita tidak beriman pada kitab Bible yang dipakai orang Kristen, bukan? Kita juga tidak mengimani bahwa Yesus itu anak Tuhan, bukan? Itu pilihan kita. Kita tidak sedang menghina ajaran agama orang lain. Kita hanya memilih iman kita. Jadi bagi mereka Muhammad itu bukan nabi, bagi kita Yesus itu bukan Tuhan, bukan pula anak Tuhan.

Ada orang berpendapat, Quran itu cocok dengan sains. Saya berpendapat berbeda. Menurut saya banyak bagian dari Quran itu yang tidak cocok dengan sains. Lalu, saya dituduh menghina Quran. Lho, memang ajaran dari siapa yang mengatakan bawa Quran itu harus cocok dengan sains? Tidak ada. Bahkan ketika saya mengejek kabar bohong tentang sesuatu yang diklaim sebagai bukti kecocokan Quran dengan sains, saya dianggap mengejek Quran.

Lalu ada individu muslim, sekelompok muslim, organisasi Islam, mereka ini sering diidentikkan dengan Islam. Kalau kita kritik mereka, kita dianggap memusuhi Islam. Padahal mereka itu manusia biasa, tidak punya otoritas apapun untuk mewakili Islam. Bahkan tidak jarang mereka ini adalah orang-orang yang tak jelas, sedang mempraktekkan Islam atau sekedar menunggangi Islam.

Dalam kajian-kajian, khususnya sejarah, kritik itu sangat biasa. Para khalifah, bahkan sabahat-sahabat nabi biasa dikritik. Maududi, misalnya, saat membahas sejarah kekhalifahan dengan terang benderang mengritik sikap-sikap Khalifah Ustman. Apalagi kalau cuma Muawiyah. Itu hal yang biasa saja, dan tidak menghina.

Lalu, kenapa orang-orang itu marah-marah? Sebab utamanya karena tidak tahu. Orang yang tahu biasanya banyak membaca dan belajar, sehingga menemukan fakta-fakta seperti yang saya tulis di atas, bahwa tokoh-tokoh Islam itu sudah biasa dikritik. Mereka bahkan tidak tahu bahwa tulisan atau bahasa Arab itu tidak ada kait mengaitnya dengan Islam. Orang-orang ini beragama dengan asumsi, persepsi, mitos, hoax, dan sebagainya. Semua itu diramu menjadi satu hal, yaitu ego. Jadi kalau kita sampaikan sesuatu yang berbeda dengan asumsi, atau persepsi, atau dengan hoax yang mereka imani, maka itu adalah serangan terhadap ego mereka. Maka akibatnya bisa sangat fatal.

Tahun 1996 di Situbondo, ada seseorang yang dituduh menghina Islam. Ia diadili. Di pengadilan, para pengunjung marah terhadapnya, dan mencoba memukulinya. Polisi mengamankan dan menyembunyikan orang itu. Kemudian Situbondo rusuh. Gereja-gereja dibakar. Lho, apa hubungannya? Tidak ada. Anda hanya bisa bertanya soal hubungan kepada manusia-manusia berakal. Manusia tak berakal tidak memikirkan soal hubungan-hubungan logis. Mereka bertindak mungkin hanya berdasarkan insting. Yang menyedihkan, mereka ini mengaku muslim, dan sering dipotret mewakili wajah Islam dan muslim.

(Sumber: Abdurakhman.com)

Sunday, February 7, 2016 - 10:30
Kategori Rubrik: