Islam dan Tiongkok

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Sejak tahun 90-an..., Gus Dur sudah memprediski kekuatan Negara China.

Saat anak bungsunya Inayah konsultasi mau pilih jurusan kuliah di UI..., Gus Dur menyarankan masuk 'Sastra China'.

Kenapa China...?

Gus Dur menjawab...: "China akan menjadi negara besar dengan kekuatan ekonominya...".

Prediksi Gus Dur benar..., seperti halnya prediksi beliau bahwa Jokowi akan menjadi Presiden.

Kini China menjadi negara besar..., dengan pertumbuhan ekonominya.yang begitu pesat.

Bahkan..., China sudah 'tos-tosan' dengan Amerika Serikat dalam Perang Dagang.

Kalau Rusia hanya mampu melayani Amerika Serikat dalam perlombaan yang tidak produktif...; lomba senjata..., maka China mendesak AS dalam perang ekonomi.

AS terpojok menghadapi serbuan ekonomi China..., yang dihadapi dengan jurus-jurus bertahan saja...: proteksi pasar dalam negeri..., naikkan pajak impor..., boikot..., hingga tuduhan yang menyeret dunia intelejen.

Misalnya...: tuduhan AS pada produk Huawei..., yang dianggap alat pengintai dari Negara China..., karena sebenarnya produk Apple mulai tersingkir oleh kecanggihan Huawei..., sekaligus harganya.

Meskipun juga..., Apple memiliki pabrik di China untuk menekan harga..., karena biaya buruh di AS sangat mahal.

Jangankan AS..., dunia sudah lama mengalami ketergantungan dengan produk-produk China..., mulai barang-barang murahan...; dari mainan anak-anak..., alat-alat rumah tangga..., hingga yang paling canggih seperti satelit dan pesawat ruang angkasa.

Produk makanan yang murah hingga perkembangan pengobatan yang paling canggih...; cangkok organ hingga rekayasa genetika.

Bagaimana dengan kita...?

Sudah lama Gus Dur mengingatkan kebangkitan China..., semestinya kita bisa saling belajar.

Produk-produk China dianggap murahan (betul yang abal-abal dan murahan..., tapi tahukah anda berapa banyak perusahaan..., khususnya telekomunikasi dan IT yang membutuhkan produksi massal..., pabrik-pabrik mereka dibangun di China untuk menekan harga dengan biaya buruh yang murah).

Tapi yang aneh..., tetap ada beberapa golongan di antara kita..., yang masih bersikap munafik terhadap Negara China.

Dari tuduhan Komunis..., Atheis (China memang dikuasai satu parpol saja: Partai Komunis, dan elit-elit politik China tidak peduli pada konsep Tuhan dan Agama)..., hingga impor dari China yang dianggap sebagai momok yang menakutkan..., tapi di sisi lain tetap tergantung pada Negara China.

Misalnya ada kelompok radikal yang teriak-teriak Komunis..., Atheis..., Pro Aseng..., dan lain+lain ternyata mereka menggunakan barang-barang buatan China juga..., entah itu barang elektronik atau sekedar korek api.

Impor dari China itu hanya solusi sementara..., untuk jangka panjangnya hadits itu masih menemukan relevansinya...: Belajarlah walaupun sampai ke Negeri China.

Kalau kita mau jadi produktif dan kreatif tentu saja harus belajar...; kalau cuma mau jadi konsumen dan pasif..., yaa dengan membeli dan impor dari China saja selama ini dengan bersikap munafik...: teriak-teriak anti Aseng..., tapi sangat tergantung bahkan menjual produk Aseng itu.

Rahayu

Buyung Kaneka Waluya

Wednesday, December 11, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: