Islam dan Polisi

ilustrasi

Oleh : Lalu Agus Firad Wirawan

Seorang sahabat yang saya anggap kakak, Irjen Polisi (Purn) AJ Benny Mokalu pernah pernah bertutur tentang citra kepolisian Republik yang tengah terpuruk oleh kelamnya sejarah masa lalu pada orde Suharto. Saat itu ia menjawab pertanyaan sederhana saya; “Bilamana Polisi itu bisa dikatakan BAIK?”. Dan dengan singkat ia menjawab; “Polisi dapat dikatakan baik bilamana orang yang berada di dekatnya merasa aman dan nyaman...,”

Saya terpukau dengan jawabannya, merenung beberapa belas menit. Tak lagi memikirkan Polisi Republik dan kata-kata Jenderal bintang dua yang saat itu memimpin Kepolisian Daerah Bali, 27 November 2013, jam 12.30 WITA, saya ingat betul. Yang ada di otak saya adalah kesedihan, seketika menyeruak, terbayang masa-masa kecil yang getir namun indah, ditengah eloknya bertetangga dengan sahabat Nasrani, Hindu, Budha dan Konghucu yang ada di lingkungan tempat saya tumbuh remaja, Mentaram (kini Mataram). Saat Om Thomas yang asli Flores NTT meminjamkan sepeda pancalnya pada kami untuk dipakai ke acara pengajian Masjid Raya At-Taqwa, saat Bli Mang Etak memetikkan kami mangga madu di halaman rumahnya untuk kami buka puasa, saat Meilani Fong membawa sekeranjang duku untuk bekal kami Tadarus di Mushalla Al Ikhtiar di kampung saya, saat Bante Sekardep menimbakan air dari sumur untuk membasuh lengan Ustad Zuhri yang sedang berwudhu.

“Mana keindahan itu kini, brader?” saya bergumam pada Jenderal Benny. Ia tak menjawab, cuma menggeleng pelan, wajahnya datar memandang teduh kearah mata saya. Makinlah malu saya dibuat, karena tiba-tiba lagi otak liar saya menyadari bahwa orang di hadapan saya inilah yang berhasil mendamaikan pertikaian berdarah antar dua kampung Muslim di Lombok, saat itu brader Benny, demikian saya memanggilnya, adalah Kapolres Lombok Barat, beragama non-Muslim, asli Kawanua, berani pasang badan berdiri ditengah ribuan massa beringas dan bersenjata tajam, siap saling bacok baku bunuh! Di depan sebuah masjid ia berdiri gagah sembari berujar; “Jika kalian sesama Sasak dan Islam mau saling bunuh, langkahi dulu mayat saya!!!” Mengingat itu saya tertunduk, makin jatuh malu semalu-malunya!

Berkecamuk hati saya, pengakuan polos teman-teman non-Muslim yang bilang “aku senang banget dengar ceramah KH Zainudin MZ, addeeemmm Gus! Lelucon-leluconnya tentang kehidupan Nabi di jaman Jahiliyah membuat kami yang tadinya tak terbiasa bangun subuh jadi menyetel waker jam 4.30 ! biar dapet dengerin dakwah pak Da’i!” Subhanallah! Mulialah engkau ya Kyai... Jangankan saya yang seorang Muslim, Meilani, Komang, Om Thomas, dan banyak lagi kau buat terpesona keindahan agama Allah ini!

Tapi... Yai, kemanakah indahnya takbir yang dulu sanggup mempesona mereka itu? Azab apakah yang telah Allah timpakan pada ummat-Nya ini sampai-sampai Meilani, Bli Komang, Om Thomas, sekarang merasa ngeri mendengar teriakan Allahu Akbar sambil melempar batu hingga molotov atau bahkan saat ISIS menggorok leher tawanan tak berdaya! Begitu keji para pendusta memakai kata DEMI ALLAH, LILLAHI TAALA, ketika menipu calon korbannya! Sungguh memalukan saat mimbar dakwah dan masjid dijadikan ajang mencacimaki lawan politik!

Teringat lagi saya kata-kata tegar brader Benny menghadapi hujatan dan kritikan pada polisi di awal reformasi, “Indikator keberhasilan polisi adalah saat orang merasa aman dan nyaman berada di dekatnya...,”
Kiranya demikian pula dengan Islam, agama ini akan benar-benar indah jika ummat lain merasa aman dan nyaman berada di dekatnya. Itu harus, karena Islam adalah rahmat bagi segala alam.

Maka... Bismillah!
Saya harus mengambil peran untuk mengembalikan senyum bahagia Meilani, Om Thomas, Bli Komang dan Bante Sekardep yang dulu pernah ‘mampir’ pada masa kecil saya. Saya harus melawan siapapun yang telah dan sedang memperkosa agama saya, merusak budaya adat istiadat indah Nusantara, untuk memenuhi syahwat politiknya! Dengan atau tanpa bantuan siapapun! Hatta hidup ini adalah taruhannya! Karena dengan ini sajalah saya sanggup membayar dosa-dosa masa lalu saya!

Sumber : Status Facebook Lalu Agus Firad Wirawan

Wednesday, August 12, 2020 - 13:45
Kategori Rubrik: