Islam Dan Beda Partai

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Selama saya hidup sejak 1969, saya mengalami pemilu berkali-kali. Sejak masih zaman PPP adalah Islam dan Islam adalah PPP, saya sudah mengalaminya.

Zaman segitu, gara-gara Golkar kalah, listrik dan aspal di daerah Pedurenan Masjid tempat saya tinggal ini masuknya paling belakang.

Lalu pemilu-pemilu berikutnya giliran PPP ditinggalkan orang. Muncul generasi floating mass, masa mengambang yabg kurang peduli dengan pemilu. Lebih konsen dakwah di kampus, masjid dan masyarakat.

Terus reformasi 98 terjadi, status quo tumbang lalu muncul lusinan partai mengaku Islam bermunculan. Sejak itu pemilu jadi laris manis lagi meski suara umat terpecah.

2019 masih tahun depan. Tapi gemuruhnya sudah terdengar dari sini. Umat pecah dua lagi. Fitnah dan tuduhan kali ini lebih dahsyat mengingat kita berada di zaman sosmed.

Saya cuma pesan, tetap jaga ukhuwah. Kan semua itu tetap saudara kita juga. Yang beda pilihan itu boleh jadi malah ayah ibu kita sendiri, atau mertua sendiri, atau kakak adik sendiri, atau guru, dosen, ustadz, kiyai, pak RT, pak RW dsr.

Masak mereka mau dikafir-kafirkan juga?

Orang tua dan anak beda pilihan, terus anaknya dituduh durhaka gitu? Suami istri beda pilihan, terus kudu dicerai gitu? Majikan dan pegawai beda pilihan, terus mau dipecat saja gitu?

Ya nggak usah gitu-gitu amat lah. Habis pemilu nanti lain lagi ceritanya. Santai saja, gak usah grasa grusu juga.

Kita tetap saudara. Dan itu jauh lebih berharga ketimbang kemenangan salah satu kandidat.

Percaya deh, saya sudah ikut pemilu berkali-kali.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Sunday, October 7, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: