Islam Cingkrang nan Emosional

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Saya kecewa sekali pada kelompok Islam cingkrang itu, menghadapi semua masalah ko pakai otot, emosi, caci maki, gelut, perang tauran. Kalau cara menyelesaikan semua masalah seperti itu buat apa agama?

Akhirnya mengaburkan masalah, banyak sebenarnya yang menarik didiskusikan, misalnya ; apa batasan 'arad basyariyah Rasul yang ditolelir dalam akidah? Apakah Waraqah itu seorang pendeta ataukah pendeta juga merangkap dukun, ataukah hanya dukun?

Apakah Muhammad saw baru mengenal dan baru tahu tuhan itu adalah Allah bukan Lata, Uza dan Manat setelah menjadi Nabi ataukah sejak bayi dan balita sudah mengenal Allah seperti Nabi Isa ketika masih dipangkuan Maryam?

Apakah Nabi tidak tahu bahwa dirinya diangkat menjadi Nabi, dan apakah Nabi tidak tahu bahwa yang menyampaikan wahyu kepadanya digua Hira adalah Jibril?

Apakah mencuri jambu atau ikut-ikutan menyembah berhala mungkin dilakukan Nabi ketika masih anak-anak dan setelah remaja? Berapa usia Nabi dan berapa usia Sayidah Aisyah ketika dinikahi dan hubungan suami istri dengan Nabi? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Pernyataan-pernyataan GM itu menarik sebenarnya membuka lanskap yang luas untuk mendiskusikan tema-tema menarik itu. Walaupun bagi mereka yang matang mempelajari tauhid atau pembaca serius sirah Nabawiyah akan tahu bahwa persoalan itu semua sudah selesai oleh Ahli Tahqiq.

Sayang seribu sayang, ada kelompok Islam yang menyelesaikan dengan dengkul, otot, batu, parang, pedang dan senjata lainnya. Akhinya semaraknya diskusi ilmiah tertutup rapat oleh semangat membela ormas masing-masing dan saling melindungi diri dari kemungkinan baku hantam dan pertumpahan darah.

Seharusnya tema-tema itu, seperti dahulu kemunculan JILnya Kiyai Ulil dan Kiyai Muqshit menyemarakan diskusi di pondok pesantren dan aula kampus dengan seminar-seminar, ini malah saling caci, saling umpat dan saling lempar batu. Bagaimana umat ini mau pinter.

Kelompok yang satu membela mati-matian tidak ada yang salah, bahkan para proresor, ini yang mengherankan. Sementara kelompok lainnya menghina, mengejek, mempolisikan (baku?) bahkan jika mereka berkuasa mungkin ingin GM mereka hukum mati. Kebablasan. Masa akhlak pembela Nabi seperti pengikut Namrudz.

Dari awal saya mengatakan ini hanya masalah konsep, tidak ada sama sekali maksud menghina (تحقير), merendahkan (تنقيص), apalagi menistakan (تذليل). Masa ia ada penceramah 60 juta umat sengaja merendahkan Nabi. Mikir. Sama juga ketika Pak Somad dan Evi Evendi mengatakan Nabi gagal membawa misi rahmatan lil alamin. Keduanya hanya masalah konsep. Ada yang keliru dalam pemahaman.

Kalaulah GM dianggap merendahkan dan menghina Nabi, dan harus dipolisikan, maka perlakuan yang sama harus ditegakan kepada Pak Somad, dengan cara menggantungnya dialun-alun. Harus fair dong. Jangan hanya karena ustadz Somad dari kelompoknya pura-pura tuli tidak mendengar.

Dari tulisan awal hingga sekarang saya sendiri tidak ada maksud apa-apa, selain mendudukan permasalahan ini secara proporsional. Misalnya karena pernyataan itu viral di media sosial, dan pembelaan-pembelaan yang menyesatkan juga viral di medsos, maka upaya meluruskan adalah di medsos. Kecuali dari awal masalah ini dari obrolan pribadi dikamar GM. Masyarakat perlu mendapatkan info yang jujur dan berimbang.

Tidak ada tujuan untuk memperbanyak follower, kalau tujuannya itu saya bela mati-matian GM dengan teks-teks palsu, wong kebanyakan dari netizen tidak mengerti bahasa Arab fusha. Maka pasti folliwer saya nambah 1000 sampai 5000 orang. Tapi saya tidak melakukan itu, karena itu bukan tujuan saya.

Sama juga ketika saya mendukung Jokowi, saya mendukung visi dan misi, bukan sosok, ketika Jokowi menurut saya ada kebijakan yang gak beres, seperti mempertahankan Rini Sumarno, ya saya tulis apa adanya.

Walaupun waktu itu pendukung fanatik Jokowi mencaci saya, sekarang nyatanya setelah kelakuan Ari Askhara terbongkar, betapa kacaunya dia mengelola Garuda. Pendukung Jokowi mingkem semua. Kemana saja selama ini Rini, ko baru ketahuan? Ada apa dengan Pak Jokowi, takut bu Mega karena Rini anak emas Mega seperti Budi Gunawan.

Sama juga dalam kasus ini, saya hanya ingin mendudukan masalah secara proporsional. Sayangnya saat orang-orang Gurun abad 15 lampau bermedsos, kehidupan di dunia maya dan nyata menjadi barbar.

Saya mengalami hidup tanpa listrik dikampung, listrik baru ada saat saya kelas 3 SD, ngaji bangun jam 4 pagi masih pakai lampu tempel, lilin, petromak, dll. Sampai saya 2009, di pesantren kalau mau opini kita nangkrig di mading pondok, perlu waktu satu bulan, itupun kalau lolos sortir pimrednya.

Jadi media sosial ini sebuah kemewahan bagi saya, nulis opini, gagasan atau sejenisnya bisa nulis di wall, bukan dikertas bukan di microsoff world, langsung aplod. Kemewahan luar biasa.

Rasanya saya tidak mungkin menulis untuk kepentingan yang oportunistik, oprtunis paling kerdil untuk memperbanyak follower misalnya, tidak mungkin. Kalau begitu, sungguh saya bukan orang bersyukur atas nikmat Allah berupa kemewahan bermedsos seperti sekarang.

Saya nyalakan tombol follow karena saya membatasi pertemanan, agar kawan-kawan yang tidak berteman tetap bisa mengakses postingan saya maka saya nyalakan tombol follow. Sesederhana itu.

Jadi bagaimana, mau ribut dijalanan? Atau mau menghidupkan ruang-ruang diskusi?

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Monday, December 9, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: