Islam, Bom Polrestabes Medan dan Logika

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Bom nyaris tiap bulan meledak, ditanah air jelas 100% pelakunya umat Islam. Tapi ada saja kelompok, bahkan profesor, mantan ketum MUI, mantan ketum ormas besar, mengatakan tidak ada terorisme, tidak ada radikalisme, malah merestui para dai pengasong khilafah untuk mempromosikan sistem itu, karena menurutnya bagian dari syariat Islam. Padahal sekarang, paham khilafah, bidah membidahkan satu paket dengan fundamentaisme dan radikalisme agama.

Berfikir dan berpendapat hak setiap orang, tapi jika cara berfikirnya seperti itu jangan berharap bom bunuh diri hilang sama sekali, terorisme tidak ada lagi, jangan pula tersinggung dengan predikat Islam Radikal. Karena dengan demikian diam-diam menyetujui aksi teror yang memakan korban sesama muslim itu.

Jangan pula merasa islam didiskreditkan, jangan playing victim karena aksi bom dan kekerasan itu memang didasari atas motif pemahaman Islam yang keliru. Dan diam-diam kalian kembang biakan. Terorisme tidak memilih kaya miskin tidak juga memilih intelek atau awam. Terorisme murni karena pemahaman agama yang keliru.

Ingin sekali saya melihat bagaimana raut muka seorang tokoh yang disebut oleh lembaga asing sebagai bagian dari jaringan terorisme itu, ingin melihat seprti apa air mukanya ketika dia melihat media memberitakan ledakan demi ledakan bom, khususnya yang terjadi tadi pagi di medan.

Mereka malah sibuk membahas istilah, terorisme, radikalisme, dan keberatan dengan istilah-istilah itu, interest dan kegelisahan mereka soal teknis bahasa melampui empati dan simpati mereka terhadap korban dan peristiwanya itu sendiri.

Jadi jangan bermimpi aksi teror dan radikalisme itu hilang, karena banyak pihak yang diam-diam senang dan menyuburkannya. Karena mereka anggap para pelaku teror itu melaksanakan fardu kifayah, kewajiban kolektif, yaitu membunuh orang kafir/ musyrik seperti kita, ia kita ini selain kelompoknya mereka anggap kafir/musyrik, kewajiban yang mereka rasa tidak dapat mereka lakukan sendiri, tapi ditunaikan oleh anak-anak ideologis mereka.

Itu realitanya.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri
 
Friday, November 15, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: