Islam Apa Yang Kau Fahami Bahar Smith?

Ilustrasi

Oleh : Jessica

Viralnya pemberitaan Bahar Bin Smith yang menjadi tersangka penghinaan kepala Negara dilanjutkan dengan tersangka penganiayaan tidak aneh. Polisi layak memberikan status tersangka pada yang bersangkutan. Bahar jelas-jelas telah menghina kepala Negara dengan sebutan “Banci” dan menyebut presiden “haid”. Jelas-jelas bahwa presiden adalah laki-laki tulen dan sebagai warga negara yang baik harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.

Belum selesai penyidikan tentang kasus penghinaan, kembali viral video penganiayaan seorang anak yang jelas-jelas dilakukan oleh Bahar. Sesalah apapun seseorang, tidak diperbolehkan seseorang menganiaya. Jika memang merugikan, ada hukum yang memang menjadi perangkat penentuan seseorang salah atau tidak. Akhirnya pada Rabu (19/12) Bahar resmi menyandang status tersangka. Bahkan polisi menduga Bahar berniat kabur dengan memakai nama Rizal.

Sungguh sangat disayangkan seorang muslim apalagi sudah dianggap tokoh panutan meski masih muda perilakunya bar bar. Sifatnya sangat arogan, kasar, bahkan siapapun dihinanya. Jika sebagian masyarakat Indonesia menganggap masih mengalir darah Rasulullah, tidak bisa itu melegalkan segala perbuatannya.

Kita tahu justru membawa nama Rasulullah harus sangat dijaga. Ibaratnya bila kita anak lurah, bupati, gubernur, menteri atau presiden sekalipun apakah boleh kita mencaci maki orang? Tidak bisa.

Bahkan Rasulullah sendiri sangat tegas bahwa hukum harus tegak pada siapapun. Nabi bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya aku memotong tangannya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hal ini menandakan Beliau pun patuh pada hukum. Maka dari itu, perdebatannya bukan siapa orangnya namun apapun yang dilakukannya. Kasus Bahar sendiri sudah masuk ranah politis ketika dilaporkan menghina kepala Negara. Para pengacara dan pendukung Prabowo beralasan perkataan Bahar adalah kritik.

Jika para pembela Bahar tetap bersikukuh bahwa ucapannya adalah kritik, coba kata “Jokowi” dalam perkataan Bahar diganti dengan “Prabowo”, “Sandiaga”, “Hidayat Nur Wahid”, “Amien Rais” bahkan “Habib Rizieq”. Silahkan anda resapi. Jadi yang dilakukan Polri murni penegakan hukum bukan soal diskriminasi hukum pada lawan politik, benci oposisi apalagi ada yang menuding sebagai anti Islam. Jargon-jargon ini sunggguh sangat berbahaya dan menggerus nalar sehat kita sebagai masyarakat. Pun jika perilaku Bahar dibiarkan, maka akan merembet kemana-mana atau masyarakat akan menirunya.

Sudah jelas persoalannya?

Friday, December 21, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: