ISIS Versus Pak Djaja

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Jangan Sampai Membanting Pintu . . .)

Jika sempat nonton film 'Surat dari Praha', tentu tahu siapa pak Djaja. Beliau bukan tokoh rekaan, tapi memang ada, cuma nama saja yang disamarkan. Dan tokoh macam pak Djaja ini berjumlah puluhan kalau ndak ratusan dan ribuan. Nyata semua. Mereka 'produk samping politik 'Orde Baru' . . .

Mereka adalah para pemuda yang dikirim oleh Pemerintahan Soekarno, untuk belajar ke negeri2 blok Uni Soviet, seperti Rusia, Ukraina, Cekoslovakia, dan lain-lain.

Belum selesai belajar, Soekarno terguling. Soeharto naik. Nasib anak2 muda ini jadi ter-abaikan, jika tak boleh tercatat sebagai sengaja ditelantarkan.

Nyatanya memang demikian, dengan sangkaan sebagai komunis, mereka tak boleh pulang. Paspor mereka pun dicabut. Dan mereka pun bertahun menggelandang dan stateless, tak punya kewarganegaraan.

Nasib mereka, kala itu, persis dengan eks ISIS, yang 'mengaku" warga Republik Indonesia. Namun banyak sekali perbedaannya. Dan ini membuat type respon yang berbeda pula atas nasib yang menimpa mereka.

Para pemuda ini kelompok 'terpelajar', ke luar negeri pun niat nambah ilmu. Paspor mereka 'dibuat' tak berlaku, sehinggga mereka jadi terbuang. Sedang eks ISIS, dulu ke luar negeri mau ikut sebuah negeri 'sarngi', dan sengaja 'membuang' diri, dengan membakar paspornya.

Para pemuda tetap cinta negeri, eks ISIS sebut pemerintah RI sebagai'toghut' tak layak diikuti. Mereka hanya mau jadi warga negara ISIS. Dan ba'iat diri setia pada 'khalifah' mereka. Dulu bernama bapak Baghdadi . . .

Bekal kepandaian, semangat, dan harga diri memicu para pemuda untuk bisa hidup keras, seadanya di negeri yang jauh. Dan tak sudi merengek-rengek minta pulang pada Jendral Soeharto.

Eks ISIS, kelompok yang ndak pernah 'belajar' dan 'membaca', termasuk 'baca' jaman. Hanya berharap dan mengira pasti menang. Ndak tau-nya kalah. Bukannya bertahan dengan 'prinsip' terus 'berjihad', malah termehek-mehek minta dipulangkan.

Sorga yang dijanjikan 'tuhan' jika 'berjihad', ternyata dikalahkan. Kalah cuma oleh keinginan untuk bisa hidup dan tidur tenang, merasa aman, di negeri 'thogut' yang mereka pitenah dan 'dzalimi', Indonesia.

Tuhan dan ayat2 yang selama ini mereka pahami dan percayai, tega ditanggal dan tinggalkan. Apalagi orang dan negeri yang mereka benci, kita dan Indonesia.

Mereka memang begitu, licik. Garang ketika menang, meringkuk memelas ketika kalah. Masih pula mampu menipu diri sendiri.

Berkata dalam hati, 'Ini cuma siyasat,' pakai istilah 'sarngi'. Padahal untuk tutupi ketakutan. Nantinya jika muncul kesempatan, saat orang telah lupa, akan muncul lagi keberanian. Pakai istilah 'sarngi' lagi secara sembarangan. Kapir, dzalim, maksiyat, haram, toghut . . .

Garang lagi . . .

Keberanian, ketakutan, termasuk keyakinan, naik turun ikuti situasi dan kondisi. Berkilah dalam hati cuma 'siyasat", padahal nyatanya cuma pecundang yang nenteng nama 'tuhan' bawa 'stempel' agama. Riwa-riwi mencari mangsa . . .

Jika bijak dan mau belajar, sejak jadi siswa Sekolah Dasar kita telah diajarkan untuk 'Tidak membanting pintu saat keluar. Siapa tahu satu waktu kita berniat mau kembali'. Ini peribahasa lama . . .

Itu juga bisa berarti, jangan pernah membakar paspor milik negara Repubik Indonesia yang disampulnya ada gambar burung Garuda Pancasila.

Ingat juga dan belajar pada pak Djaja . . .

Wassalam . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, February 15, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: