ISIS Di Balik Prabowo

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Maaf saya harus menulis, karena sejak sore viral video Prabowo marah-marah dari sunrooaf alphard. Saya juga ikut mengupload video itu, yang belakangan diklarifikasi Prabowo marah kepada ajudan yg melarang fansnya yg mau bersalaman. Tapi stigma Prabowo tempramental sudah melekat kuat, marah kepada siapa saja ada tempatnya, jangan semua orang dianggap kacungnya.

Dari video itu Allah membuka tabir lain, Alphard yang dikenderai Prabowo ternyata milik Chep Hermawan Ketua Umum Gerakan Reformis Islam / GARIS Cianjur, yang juga donatur 156 anggota ISIS yang bergerak di Irak dan sekitarnya ( Tempo, 15 Maret 2015 ). Dan bertepatan dengan informasi diatas, telah terjadi ledakan bom di Sibolga, Sumut. Ditengarai ini adalah gerakan JAD yang berafiliasi dengan ISIS, dan sekarang 1 orang sudah tertangkap. Apakah ini ada benang merahnya dengan yang lainnya, polisi masih mendalaminya.

 

 

Mengamati langkah Prabowo sejak kekalahannya pada tahun 2014, ada catatan-catatan yang harus dicermati, bukan sekedar diamati. Diluar yang sudah menjadi stigma bahwa barisannya adalah dapur hoax paling produktif akhir-akhir ini, partai dan koalisinya jelas-jelas mendukung HTI dalam proses pembubarannya. Kita tau kemana arahnya, isu yang mengatakan ada +/- 2juta anggota HTI di Indonesia belum lagi ditambah simpatisan pendukung faham radikal, maka ini menjadi pasar yang menjanjikan untuk berkontribusi menyumbang suara. Prabowo lupa bahwa HTI statusnya sudah sama dengan PKI, sehingga akan kontra produktif kalau koloninya teriak PKI kepada Jokowi, sementara mereka berafiliasi dengan HTI, ini yang membuat kita mau ketawa tapi takut dosa. Bekas Jendral, bekas Ketua MPR, Doktor, dan orang-orang hebat, kok pikiran sesatnya bisa sama, seragam mendukung barang haram.

Kecurigaan kita Prabowo akan memakai tangan kaum radikal dalam proses merebut kekuasaan makin meyakinkan. Kehadirannya dirumah Chep Hermawan, dan sekaligus menaiki mobil mewah alphard milik ybs, adalah bukan hanya dipandang sebagai kedekatan biasa, disana pasti ada pembicaraan dan deal politik yang saangat " menggelitik ", gak tanggung-tanngung dia ketemu, dijamu, diberi sarana dari seorang yang punya potensi menjadi musuh dan penghancur negara, mereka akan meremukkan Pancasila.

Ada hal yang menarik dari kejadian yang sedang berjalan ini. Prabowo berfikir dia akan memanfaatkan kelompok ini untuk mendulang suara, sementara sang calon alat juga menghitung dapat apa sebagai imbalannya. Licinnya Prabowo mengerjai Demokrat dan PKS, mungkin saja akan dijalankan juga kepada ex HTI dan kaum radikal yang akan dipakai sebagai tumbal. Hitungannya, kalau di menang, dia akan berkelit, bahwa pancasila akan sulit untuk diganti, namun demikian dia harus memberi ruang pengganti, apakah kementerian atau kebebasan menghidupkaan HTI lagi, atau ganti nama dengan ruh yang sama, cita-cita negara dgn konsep khilafah, atau ada design baru, khilafah pancasila, atau pancasila berkhilafah, hahaha, mana bisa pancasila dikhilafahkan, atau khilafah dipancasilakan. Dan kita sudah final memilih pancasila sebagai ideologi bangsa, karena NKRI harga mati, sehingga nadinya harus pancasila, jangan coba berkhayal mengggantinya.

Kalau hal ini dianggap Prabowo sebagai strategi, dia terlalu berani mempertaruhkan NKRI, dia grusa grusu hanya karena nafsu, sementara menjaga rakyat yang 267 juta jumlahnya, hanya dihitung dengan kalah menang. Prabowo lupa, menjadi presiden harus seorang negarawan yang " sepi ing pamrih ", bukan penuh pamrih yang bisa membuat rakyat perih.

Menarik benang merah dan sejarah seorang Prabowo, begitu lugas untuk diulas. Tidak bisa di pungkiri bahwa ayahnya adalah kelompok pemberontak, bekas mertuanya adalah perusak negara dan kelangsungan sebuah bangsa, dia sendiri mencatatkan reputasi yang cacat dalam kasus penculikan, serta catatan keburukan dalam bidang kemiliteran, hal ini disampaikan secara gamblang oleh Agum Gumelar, Fachrul Rozi dan banyak lagi.

Hadirnya Prabowo bersama Chep Hermawan, menandakan kondisi kita tambah rawan. Bagaimana kesannya seorang capres berakrab ria dengan tokoh teroris, belum lagi hubungan mesranya dengan sang imam yang mulutnya kotor, memaki-maki bangsa Indonesia dari mulai Soekarno, NU, Gusdur, sampai Jokowi, manusia rendah akhlak diakrabi Prabowo, termasuk BPN yang diisi orang-orang bermulut keji, kesimpulannya memang Prabowo, sulit membedakan caci maki dengan akal budi, antara membentak, menggertak dengan akhlak. Ini berbahaya untuk kelangsungan sebuah bangsa dalam republik yang terjaga, menjadi tidak ada jaminan, kalau presidennya cuma mikirin kekuasaan, rakyatnya bisa ditelantarkan ditengah gempuran pasukan yang mengaku wakil Tuhan, tapi berkelakuan setan.

Pertanyaannya, apakah Prabowo mampu digaris depan, atau rakyatnya yang dijadikan umpan, karena dia telah bersama G4RIS andalan, dan sedang bermimpi merebut kekuasaan.

Kita harus mewaspadai siapa saja yang mencoba mengacaukan negara, kita lawan mereka. Pak Moeldoko sudah menyampaikan, bahwa ada usaha penggagalan pemilu, namun TNI dan Polri sudah siap menanti. Namun jujur kita berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, karena senang, susah, kita sebadan untuk menjaga NKRI agar bertahan sepanjang zaman dan sepanjang peradaban.

#MARIJOKOWILAGI

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, March 13, 2019 - 16:00
Kategori Rubrik: