Isbal, Jidat Hitam, Bukan Muhrim dan Islam Unyu-Unyu Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Fajar Arifin Ahmad

Indonesia patut berbangga dengan kedatangan Raja Salman Bin Abdul Azis Assauud setelah 47 tahun semenjak kedatangannya pertama kali. Kehadiran pemimpin tertinggi Arab Saudi memegang peranan penting bagi negara, tidak hanya soal kuota haji namun kerjasama dibidang ekonomi. Tidak hanya bermanfaat secara negara, kehadiran Raja Salman juga membungkam orang-orang yang selama ini mengaku paling benar dalam menjalankan agama.

Apa pasal? Ada berbagai hal dari Raja Salman yang digembar-gemborkan sekelompok/aliran Islam bahwa perilaku mereka paling Islami justru bertentangan. Padahal apa yang mereka gembar-gemborkan bisa jadi lebih pada perilaku individu artinya tidak memaksakan pada individu lain.

Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah tidak meributkan beberapa hal kecil ini dan menyerahkan pada umatnya. Kedua ormas besar itu mengurusi hal-hal besar yang menyangkut kebangsaan maupun menjaga organisasi mereka. Lantas yang diributkan bahkan dibahas berulang-ulang diberbagai majlis taklim mereka (Islam Unyu-unyu) apa saja?

Pertama, Isbal atau menjulurkan celana melebihi mata kaki. Kelompok Islam unyu-unyu ini secara fisik mudah terlihat diberbagai masjid atau bahkan jalanan. Coba lihat pakaian yang dikenakan Raja, Menteri Arab Saudi, beberapa pangeran, bukan hanya melebihi mata kaki bahkan menyentuh tanah. Berkali-kali Raja harus membenahi pakaiannya ketika berjalan.

Kedua, jidat hitam. Silahkan cek, tidak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad berjidat hitam. Tapi entah mereka mendapatkan kesimpulan itu dari mana. Memang dalam Surat Al Fath 29 yang salah satunya disebut “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka bekas bersujud”. Tanda pada wajah tidak selalu fisik, bisa jadi non fisik. Buktinya Raja Arab Saudi beserta rombongan tidak ada yang berjidat hitam. Apakah kita berani meragukan ibadah mereka?

Ketiga, tidak bersentuhan dengan yang bukan muhrim termasuk bersalaman. Kaum Islam unyu-unyu anti bersalaman kondisi apapun termasuk saat lebaran pada momen Halal Bi Halal. Mereka betul-betul menolak dan menganggap yang bersalaman laki dengan perempuan dosa besar. Apa yang kita lihat? Saat penandatangan kerjasama maupun momentum lain mereka bersalaman. Lihat saja Raja menyalami Puan Maharani. Kemudian Menlu Retno Marsudi, Menkeu Sri Mulyani, MenKP Susi Pudjiastuti bersalaman dengan Menteri dari Arab Saudi.

Keempat, sholat dengan berkaos kaki. Mengapa hal ini saya angkat? Karena saat Presiden Sholat memakai kaos kaki, diprotes kubu Islam unyu-unyu ini. Fitnahnya kejam sekali misalnya Presiden tidak ambil wudlu, presiden tidak faham rukun sholat dan lain sebagainya. Namun ketika rombongan Raja Salman ke Masjid Istiqlal, ada salah satu menteri terlihat Sholat memakai Sepatu! Yang harus difahami, kita tidak boleh menilai cara beragama kita meski sesame muslim. Hanya Allah SWT yang Haq yang bisa menilai keIslaman maupun Ibadah kita.

Kelima, Ikthtilath adalah percampuran antara laki-laki dan wanita. Ikhtilat adalah lawan dari infishal (terpisah). Menurut para unyu-unyu pemisahan ini berlaku umum dalam kondisi apapun, baik dalam kehidupan umum maupun khusus. Jadi bila ada pertemuan maka antara laki-laki dengan perempuan dipisahkan oleh sekat. Namun saat ada pertemuan Raja Salman dengan tokoh agama Islam dan pertemuan dengan tokoh lintas agama semua berada di meja yang sama. Tidak ada sekat dan tempat duduk laki maupun perempuan tidak dipisah tersendiri.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa dikritisi dan dijadikan alat melawan kemutlakan para pengklaim “Islam unyu-unyu” ini. Raja Salman menunjukkan bukti dan menyadarkan kita bahwa beragama itu yang terpenting akhlaknya. Tidak perlu meributkan atau memaksakan keyakinan kita. Secara pribadi, saya percaya Raja menghindari salaman dengan lain jenis cuma karena beliau memahami tradisi di Indonesia beliau tidak mempersoalkan.

Apa yang terurai diatas, dan bagaimana sikap Raja Salman sebenarnya bukan hal yang istimewa. Bagi kita yang mengetahui tradisi Nahdlatul Ulama, hal ini sudah lama terpelihara. Soal salaman misalnya, kyai NU tidak akan menjulurkan tangan dulu pada perempuan melainkan membungkukkan badan. Namun apabila si perempuan menjulurkan tangan maka sang kyai akan menyambutnya.

Itu baru salah satu hal dan menunjukkan betapa tingginya 
akhlak kyai-kyai NU yang saya lihat dan fahami. Jadi sebagai muslim Indonesia, jadilah muslim yang kaffah, yang selalu meributkan substansi. Apa itu? Ya soal bagaimana ibadah kita, akhlak kita, shodaqah kita bukan meributkan akhlaq tetangga apalagi menilai orang lain yang tidak kita kenal sama sekali.

Sumber : Status Facebook Fajar Arifin Ahmad

Wednesday, March 8, 2017 - 15:15
Kategori Rubrik: