Ironi "Buruh"

Ilustrasi

Oleh : Johan Wahyudi

Jika mendengar kata "buruh", tebersit makna negatif, yakni pekerja kasar dengan pakaian kumal dan upah yang sangat rendah. Itu namanya gejala peyorasi, yakni perubahan makna yang berkesan negatif atau lebih buruk dari makna sebenarnya. Apa makna sebenarnya buruh?

Buruh adalah mereka yang bekerja pada usaha perorangan dan diberikan imbalan secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, baik lisan maupun tertulis yang biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian.

Di kampung, buruh sangat dihargai mahal. Mahal sekali. Buruh tanam, biasanya perempuan, diberikan upah minimal Rp60.000/ hari ditambah makan 2 kali. Buruh lelaki lebih mahal, yakni Rp80.000/ hari dengan 3 kali makan.

Meskipun buruh tani dihargai mahal, banyak warga memilih jadi buruh pabrik. Ada tiga alasan, yakni upah UMR sekitar Rp1,5 juta, tempatnya teduh, dan diberikan fasilitas transportasi, makan, cuti, lembur dan lain-lain.

Kaum buruh saat ini jauh lebih sejahtera. Perhatian pemerintah sangat besar sehingga perusahaan tak bisa sewenang-wenang memperlakukan buruh. Dari tahun ke tahun, UMR selalu dinaikkan sehingga kaum buruh tak lagi ada yang naik onthel alias sepeda. Perhatikan saja tempat parkir perusahaan, motor-motor keluaran terbaru berjejer di sana.

Sekarang, tengoklah nasib guru honorer. Ijazah sarjana, tetapi upahnya tak seberapa. Bahkan honornya sebulan tak sebanding dengan upah buruh sepekan meskipun mereka rerata cuma berijazah SMA. Tidahkkah kausyukuri, Wahai Kawan-kawan buruh....???

*SELAMAT HARI BURUH SEDUNIA*
_1 Mei 2018_

Sumber : Status Facebook Johan Wahyudi

Tuesday, May 1, 2018 - 20:45
Kategori Rubrik: