Irit Atau Pelit?

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Ada iklan di FB, promote alat 'pemeras' tube pasta gigi. Fungsinya agar sisa pasta gigi dalam botolnya bisa seminim mungkin.

Tube dimasukkan ke alat, dijepit lalu diputar. Membentuk 'gulungan' tube, sekaligus dorong isi pasta gigi 'naik' keatas. Mendekati lubang keluar. Makin hari makin panjang gulungan, yang nyaris 'tiris' pasta gigi di dalamnya. Seiring berjalannya waktu. Terus diputar sampek tube jadi 'kering' . . .

Nah, 'action' ini juga termasuk atau sama dengan manajemen ekonomi 'mikro' kami, saya dan Nyonya. Seminimal mungkin atur keluaran, atur jumlah 'pembelian', agar dibanding sisi kiri, arus pemasukan, bisa seimbang, paling ndak bisa 'proporsional'. Sukur2 jadi lebih kecil, dan lebih kecil lagi, dibanding pemasukan . . .

Untuk itulah semua barang konsumsi, dalam segala macam bentuk wadah, kami 'treatment' seperti dengan barang di iklan itu.

Sabun muka yang mau habis, saya gunting 'pantat'nya. Sehingga saya bisa 'nyuwêk' isi tersisa, pakai jari, yang dekat lubang keluar.

Tube odol, kami pijet terus menerus, sampek kurus kering. Tipis. Turas isinya . . .

Botol shampoo kami jungkir biar sisa cairan bisa tuntas terkumpul di ujung. Begitu juga botol Minyak Zaitun, VCO, Madu, . . .

Jadi saat kita buang nyaris tinggal wadahnya yang kering . . .

Pelit ? Atau Irit ?

Nurut kami tergantung obyek dan rasa. Kalau obyeknya orang lain, dalam arti kita minimkan pemberian atau sedekah, itu namanya 'pelit', bakhil, thithil . . .

Kalau obyeknya kita sendiri, ya suka2 kita. Jadi cuma tergantung 'rasa'. Kalau kita merasa 'terpaksa', artinya kita mendzalimi diri kita sendiri. Wong mampu beli ini itu kok 'ngirit-irit'. Ya ndak usah dilakukan.

Tapi kalau kita lakukan dengan 'enjoy', atas dasar apapun, misal kurangi sampah plastik, atau kalau saya ngirit, dana bisa dialihkan ke orang lain yang lebih membutuhkan, ya ndak apa-apa. Suka-suka . . .

Jadi kami ini pelit atau irit ? Kalau nurut saya cuma 'irit', karena kami merasa 'enjoy2' saja . . .

Toh nyatanya, dengan manajemen ekonomi mikro semacam itu, banyak sudah yang kami peroleh dan lakukan.

Idul Adha tempohari, seingat saya, kami keluarkan sepuluh atau sebelas hewan qurban saya lupa. Satu diantaranya sapi . . .

Mesjid kompleks kalau butuh apa2 tinggal telpon kami. 'Pak Harun, mesjid butuh atau ganti karpet, butuh AC atau rusak, . . .' Ndak banyak cincong langsung kami kirim . . .

Beasiswa buat sekitar kantor untuk anak2 usia SD sampai SMA, di Bekasi Utara, masih terus bisa mengalir meski suasana Covid. Termasuk juga bulanan untuk beberapa 'panti-pesantren' yatim- piatu . . 

Zakat Maal tahunan pun masih stabil, mungkin seharga mobil kelas menengah. Bayar Pajak Tahunan ke Pemerintah pun tertib . . .

Meski begitu, kami masih juga mampu sekolahkan kedua Anak Kami keluar negeri. Tidur di kamar ber AC. Rumah berdinding tembok, meski ndak luas dan besar. Ada Wifi.

Masih mampu jalan2 keluar negeri, paling tidak setahun sekali. Piknik dalam negeri, tinggal 'mancal' dan 'gesek' . . .

Keluar rumah ndak perlu bingung aturan ganjil-genap. Tinggal pilih. Semua mobil mulus, baru, dan mengkilat . .

Mungkin bagi sebagian besar orang, Indonesia atau Dunia, 'output' dari lakukan manajemen ekonomi mikro ini, biasa2 saja2. Sak upil.

Tapi bagi kami berdua, saya dan Nyonya, yang 'paribasané', berangkat ke Jakarta dengan cuma modal 'ijasah' dan 'sandal jepit', sudah sangat luar biasa. Dan lagi, 'terasa' makin hari makin bertambah. Baik 'Pengeluaran' maupun 'Pemasukan'. Pertanda ekonomi keluarga tetap 'sehat'.

Jadi, kami ndak perlu malu2 untuk sampaikan cara 'mlintir' tube odol atau 'nuntêk' botol madu . . .

Asyik kok . . .

Tabek . .

Edisi : Jum'atan kepanasan di area parkir. Tapi aseeek, karena 'Imam' penuh pengertian. Baca surat atau ayat2 pendek. Salah satunya dari 'Juz Amma' . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, August 7, 2020 - 21:45
Kategori Rubrik: