Iriana, Njawani

ilustrasi

Oleh : Nur Chafsah

Zaman dahulu kala saya juga suka berga(j)ul dengan anak-anak mahasiswa dan aktivis. Termasuk dengan pendekar gender.

Saya ketularan mengkritik semua tentang laki-laki. Tanpa kecuali.

Sampai saya punya pacar. Laki-laki.

Dan punya anak. Laki-laki.

Perjalanan memang selalu menguji keyakinan-keyakinan. Sebagian di antaranya menguat. Sebagian lagi merontok.

Jadi ketika seorang teman mengirim SS berisi kritikan atas peran Iriana sebagai ibu negara, saya nyengir saja.

SS-nya mengkritik Ibu Iriana yang digambarkan “tampil seperlunya, berkomentar seperlunya, tidak mencampuri pemikiran suami”.

Bahkan dukungan terbesarnya pun hanya berbentuk “menciptakan suasana tenang agar suami berpikir dan bekerja jernih”.

Segitu doang gituh peran istri? Alangkah sia-sianya perempuan kuliah S3 sampai ke kutub utara hanya agar dapat menciptakan suasana tenang di rumah?

Hik hik… Saya bisa saja berargumen ini itu. Bahwa sang SS bisa jadi tertumpang tindih posisi antara perempuan dan istri.

Perempuan ya perempuan. Mau mengurusi negara atau mengubah dunia, ya monggo. Peran, kesempatan, hak, dan kewajibannya sama dengan laki-laki. Tinggal disesuaikan kapasitas masing-masing.

Sementara istri, dan suami, adalah dua individu yang sepakat dalam sebuah komitmen yang bisa sangat pribadi. Komitmen yang hanya mengikat mereka berdua. Termasuk tentang pembagian tugas, peran, posisi, blablabla. Orang lain mau komeng dari kutub utara (pake mulut) dan selatan (pake ….), kagak ngefek.

Saya juga bisa saja mengkritik kritiknya yang menyamakan peran Ibu Iriana dengan ibuisme orba. Ah elah Mbak, emang maunya istri presiden itu mencampuri pikiran suami, apa? Lalu keputusan-keputusan negara dibahas di ranjang, sekaligus bagi-bagi proyek dan BUMN buat anak-anak sendiri gitu? Si Mbak mengkritik orba tapi pengen ibu negara pegang kendali atas suami kayak zaman itu, hihihi….

Wes bakalan panjang mengular-ular perdebatannya. Jadi saya ga komen apa-apa. Kecuali tanya, “Desye menikah?”

Jawabannya: belum.

Aka tidak.

Saya ngikik

Nikah dulu deh.

Sama lelaki baik. Jangan yang brengsek.

Baru balik lagi ke sini bahas tentang peran istri dan suami dalam pernikahan.

Bukan berarti yang sudah nikah lalu expert tentang pernikahan ya. Tapi teori sampe ke ujung langit ga bakal bikin burung tahu rasanya berenang. Dan ia mengkritik ikan.

You don’t know what you’re talking about.

Ga tau juga kalo desye lebih suka negara ga beribu. Eh.

#AkuIriana170419TDH

Sumber : Status Facebook Nur Hafsah

Wednesday, February 13, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: