Iran, Amerika dan Indonesia

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Iran luncurkan serangan Rudal Balistik ke pangkalan AU Al-Asad Irak. Di sana dipenuhi pasukan dan fasilitas milik Amerika Serikat.

Ini merupakan 'balasan' pertama Iran, atas tewasnya Jendral Qassem Soleimani, komandan grup elit 'Quds' bagian dari Garda Revolusi Iran. Sang Jendral tewas luluh lantak, hanya bisa dikenali dari cincinnya. Mobil yang ditumpangi kena rudal oleh 'drone' Amerika di pangkalan AU. Di Irak juga.

Memang, Irak seperti Suriah, Afganishtan, Lybia, Palestina dan lain-lain sedang 'acakadut'. Ndak jelas lagi siapa yang 'punya' . . .

Negeri2 di seluruh dunia pada cemas jika insiden tewasnya Jendral Qassem, menjadi bola liar yang membesar. Ter-ekskalasi. Kanada pindahkan para prajuritnya dari Irak ke Kuwait. Jepang akan kerahkan kapal perang-nya hanya untuk lindungi kapal2 niaganya.

Hampir semua negara rilis pernyataan agar kedua pihak, Iran dan AS, menahan diri. Yang lain diharap minimal jangan malah 'ngompori'

Maklum presiden Amerika Trump, nyohor ber-tingkah macam koboy. Emosian. Suka nembak, baik dengan kata2 maupun senjata. Sudah dekat Pemilu juga. Dia ingin jaring 'suara' dengan 'tebar pesona'. Pemimpin yang gagah berani.

Iran pun boleh dikatakan satu dari 'sedikit' negara di dunia yang berani 'lawan' Amerika. Selain China. Bahkan mungkin 'satu2nya' negeri 'Islam', yang lain bersikap 'netral'. Negeri 'Islam' yang ada di Timur Tengah, banyak yang malah sukarela cuma menjadi 'kacung'. Ada banyak Pangkalan militer Amerika disana, untuk lindungi harta milik 'bersama', minyak bumi . . .

Yang ndak suka Amerika, tapi juga ndak suka PKI. ingat saja yang 'mbantu' basmi PKI dulu mereka. Waktu Aceh, negeri Serambi Mekah, dihempas Tsunami, mereka juga yang nomer satu bantunya. Negeri yang 'se-Iman' dengan kita justru cuma bantu 'sak uprit' . . .

Yang ndak suka Iran, karena Syiah, ingat dulu kita ikut teriak suka cita ketika 'mahasiswa' Iran sandera Kedubes Amerika. Dan bukannya ketika Mahmoud Ahmadinejad menang Pemilu tahun 2005, kita pun ikut memuji-mujanya. Saat itu kita belum 'dihinggapi' virus khilafah dan wahabi . . .

Saudi, negeri acuan kaum wahabi, lebih suka tanam investasi di China dari pada Indonesia, negeri 'saudara se-iman', yang kirim jemaah haji terbanyak dibanding negeri 'Islam' mana pun di dunia. Padahal di sini, China sering 'dibully' . . .

Apa yang hendak saya katakan dengan tulisan ini. Ndak ada 'teman' abadi, yang ada cuma 'kepentingan' sendiri yang abadi. Ndak ada rukun karena sama dalam 'ideologi', 'agama', satu 'benua', atau faktor yang lain.

Yang ada rukun cuma kayak 'dukun'. Nek onok 'udu' yo 'rukun'. Kalau ada kepentingan dan duit yang layak jadi teman . . .

Jadi ndak usah terlalu nafsu dengan negara lain. Nafsu berteman hingga jadi rela jadi kacung atau sekedar jadi serba sungkan. Nafsu bermusuhan hingga picu atau jadi kompor timbulnya perang. Sedang2 saja lah . . .

Ada banyak pihak di negeri ini yang lagi bingung. Karena seorang 'ngustat' pernah rilis buku dan ceramah, isi dan judulnya Amerika, Yahudi, dan Syiah, 'kong-kalikong', kerjasama untuk hancurkan Islam. Jamaah pada percaya.

Bingung karena mau demo atau posting facebook dan twitter dengan memboyong tagar apa ? #saveAmerika atau #saveIran ? Milih manapun ndak ada yang cocok dengan isi buku dan ceramah si ngustat . . .

Buat yang lain sih, biasa2 saja. Tapi tidak buat 'mereka'. Karena terbiasa 'jualan' #save sambil teriak nyaring pakai TOA, 'Siapkan Infaq yang terbaik' . . .

Bulan lalu ada tema 'mercon' dan 'terompet'. Bulan ini apa ? Mosok pakai #saveUyghur atau #savePalestina ? Kan sudah ndak 'usum', ndak musim sekaligus ndak laku. Nanti dikira gagal fokus . . .

Kita pikir negeri sendiri saja. Kita juga lagi 'berjuang' kejar ketinggalan. Jika kita lihat ada negeri 'tetangga', 'teman', atau negeri 'saudara' sedang dilanda kesusahan, bantu secukupnya. Kirim rasa simpati secukupnya pula. Sedang2 saja . . .

Coba kita contoh perilaku penonton dan pecinta sepakbola kita. Mereka suka dengan MU, Madrid, Bayern, juga suka dengan Belanda, Brasil, Jerman, Inggris, dan lain-lain.

Meski juga geregetan dengan PSSI, di dalam mereka ricuh 'bonek' lawan 'aremania', 'viking' versus 'jakmania', namun jika tim 'merah-putih' dengan lambang 'garuda' nempel di dada, main di GBK, mereka duduk bareng nonton.

Tribun di arah manapun akan kita lihat sang 'Dwi-Warna' berkibar dengan gagah. Teriak beri semangat, bersorak antara percaya diri plus harapan dan kegetiran. Karena tim garuda langganan kalah . . .

Nyatanya kalah2 juga, lagi dan lagi. Tapi jika tim mereka tampil lagi, mereka ndak akan kapok, akan tetap datang ke GBK, tetap saja semangat kibarkan bendera, tetap saja beri semangat pada tim mereka, tetap saja ber-harapan . . .

Indonesia, I love you . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Tuesday, January 14, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: