Introspeksilah Bukan Politisasi Bencana

Ilustrasi

Oleh : Rijal Mumazziq

Ketika daerah A terkena bencana, ada yang tanpa berpikir panjang mengkaitkannya dengan dukungan politik. Selebihnya, dianggap azab karena banyak pengingkar Tuhan. Akhirnya, tanpa ada empati, muncul komentar sadis, itu akibat dia mendukung A, karena kaum B ini suka bermaksiat, karena kubu C menista ulama, bla bla blaaaaaaa.

Ketika daerah si komentator ini tertimpa musibah di kemudian hari, misalnya, kita balik saja logikanya, mungkin daerahmu terkena bencana karena penyebar fitnah seperti dirimu ada di sana. Keluarlah, nyemplung di laut Arafuru saja, biar nggak jadi penyebab bencana. Kita bisa saja seperti itu, tapi urungkan, urungkan kisanak. Kalau kita berpikir seperti itu, apa bedanya kita dengan dia?

Oke, kisanak, bencana alam bertubi-tubi melanda berbagai daerah. Menjaga mulut kita, jemari kita, agar tidak asal njeplak biar tidak melukai perasaan (keluarga) korban itu lebih bijak.

Kalau soal tuduh menuduh, saya pun lebih mahir karena saya dididik intelijen Zimbabwe, salah satu dinas terbaik di dunia dan akherat. Keluargamu tertimpa musibah, misalnya, saya pun bisa mengarang cerita pendek misteri jika buapakmu atau simbokmu kualat karena sering menghina jomblo. Atau ketika hapemu nyemplung di kolam pemancingan dan engkau kelabakan, aku pun bisa berkata dengan pongah di hadapanmu, ".....makanya jangan suka mengintip kucing kawin. Tuh, rasain, diazab tuhan lu!"

Piye perasaanmu?

Salah satu sifat mulia Kanjeng Nabi itu al-hilm, kemampuan mengontrol diri, tidak reaksioner. Dalam istilah Steven R Covey, kemampuan ini disebut dengan istilah response ability, alias kemampuan merespon sesuatu dengan bijak. Menahan diri untuk tidak berkomentar miring yang bisa menyakiti pihak yang sedang kesusahan, dan bisa berempati terhadap mereka yang tertimpa bencana adalah karakteristik al-hilm. Ngerti unggah-ungguh. Ngerti empan papan, kata orang Jawa. Tahu etika, paham situasi-kondisi. Inilah yang dinamakan kecerdasan interpersonal.

Dan, dalam tahun-tahun politik, kecerdasan ini mulai terkikis ketololan yang berkembang biak seperti amuba: membelah diri secara cepat.

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

Thursday, December 27, 2018 - 10:15
Kategori Rubrik: