Intrik Politik Anies

Ilustrasi

Oleh : Guntur Wahyu

Tgl 1 November 2017, Anies mengeluarkan public statement bahwa ada 10 proyek tol yg tidak ada amdal lalinnya termasuk tol Becakayu.

Tgl 3 November 2017, Jokowi meresmikan pembukaan tol Becakayu. Anies termasuk di antara pejabat yang mendampingi Presiden.

Pertanyaannya ? 
1. Siapakah yang memberikan informasi kepada Anies bahwa 10 proyek tol tidak mengantongi amdal lalin ? 
2. Apakah Anies mengetahui bahwa Jokowi diagendakan meresmikan tol becakayu yang berdasarkan informasi yg diterima, termasuk yg belum memiliki amdal lalin ? 
3. Apabila informasi tersebut A-1, apa saja upaya yg dilakukan Anies untuk meyakinkan Presiden supaya membatalkan peresmian tol becakayu selain melontarkan public statement ?

Menurut saya lontaran statement Anies perlu kita dalami dari sisi motif maupun konsekuensi apabila statement tersebut salah, benar atau sengaja dikabur-kaburkan.

Statement Anies yang hanya terpaut 2 hari dari agenda Jokowi meresmikan tol becakayu terkesan sebagai intrik politik.

Saya berasumsi bahwa Anies sudah mengetahui agenda Jokowi dan informasi yang diterima bisa menjadi amunisi untuk membuyarkan agenda peresmian tol bekayu.

Jadi, sorry teman-teman kalau saya tidak bisa menertawakan Anies dan statement Anies bukanlah statement yang bodoh.

Justru berangkat dari statement Anies, publik perlu meminta klarifikasi apakah informasi tersebut benar atau salah atau ada yang benar dan ada sebagian yanh salah. Sebab saya yakin ada motif-motif tertentu ( udang di balik batu) dari pihak-pihak yang berkepentingan supaya informasi tersebut diucapkan oleh Anies.

Meskipun beberapa kontraktor telah menyatakan bantahannya, belum tentu klaim mereka benar. Maka verifikasi terhadap kepemilikan dokumen amdal lalin harus dilakukan untuk menghindari spekulasi-spekulasi lebih jauh lagi.

Kita semua tahu bahwa proyek pengerjaan tol itu adalah proyek besar layaknya tumpukan gula yang mengundang banyak semut untuk datang. Sialnya dalam kepemimpinan 3 gubernur sebelumnya, banyak perusahaan abal-abal yang dipakai oleh pengusaha-politisi-preman tidak berkutik terhadap aturan main yang makin lama dibuat makin ketat. Hanya perusahaan-perusahaan yang mempunyai rekam jejak dan kredibilitas yang jelaslah yang dapat memenangkan tender2 tersebut.

Jadi, bagi kontraktor yang betul2 amdal lalin proyeknya clear, tentu tidak ada masalah. Namun bagi kontraktor yang amdal lalinnya belum clear (ini yg membuat saya penasaran), maka ini akan menjadi mimpi buruk karena sudah terbayang akan mengeluarkan "biaya lain-lain" supaya proyek tidak mengalami hambatan dan jalan terus sampai selesai. Tidak bisa gagal dan mundur lagi.

Dan serigala serta hyena kelaparan di ibukota pun tersenyum menanti mangsanya.

Sumber : Status Facebook Guntur Wahyu

Sunday, November 5, 2017 - 00:30
Kategori Rubrik: