Intoleransi Sudah Jadi “Tetangga” Kita, Akankah Kita Diam Saja

Oleh : Susilo Silo

Radikalisme adalah sebuah faham fatalistik yang sangat membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Faham ini tumbuh dan berkembang pesat setidaknya sejak Susilo Bambang Yudhoyono. Meski dalam sejarahnya pimpinan FPI yakni Rizieq Shihab saat SBY pernah menjadi narapidana tahun 2008 namun kemudian setelah itu segala tingkah polah FPI tidak menjadi preseden buruk.

Meningkatnya radikalisme dapat ditarik garis lurus dengan peningkatan intoleransi. Jaman orde baru faham ini sulit berkembang karena Negara sangat otoriter bahkan mampu menjangkau ke dalam kehidupan masyarakat hingga lingkungan terkecil yakni rukun tetangga. Negara menakut-nakuti dengan tudingan komunisme. Seiring berjalannya waktu dan peningkatan pemahaman demokrasi, serta perubahan penerapan demokrasi yang sesungguhnya (ditandai dengan runtuhnya rezim orba) gerakan radikalisme mulai tumbuh.

Mereka merasuki dalam nafas agama dan berlindung dibalik itu semua. Ya hanya berbaju agama mayoritas mereka bisa dengan leluasa “mencuci otak” masyarakat yang baru tahap belajar bagaimana demokrasi dengan benar. Terbukanya pintu demokrasi dengan kebebasan berpendapat, berorganisasi, mengemukakan aspirasi benar-benar digunakan oleh kelompok-kelompok radikal dengan dalih mempelajari agama. Ditunjang dengan lemahnya system pendidikan yang tidak membangun daya kritis serta terbukanya arus informasi ditambah kecanggihan teknologi (internet dan gadget) faham radikalisme makin mendapat ruang.

Rakyat yang nir daya kritis menerima begitu saja faham-faham yang anti pancasila, kembali ke Islam, upaya kristenisasi dengan alasan kebebasan berpendapat menjadikan intoleransi sebagai bibit radikalisme mendapat ruang. Padahal saat orde baru khilafiyah Muhammadiyah dan NU sudah selesai. Kini soal-soal khilafiyah dibangkitkan lagi dengan argument kembali pada Islam yang benar. Diakui atau tidak Muhammadiyah dan NU terlena dan menganggap umat mereka dewasa menyikapi hal ini. Faktanya kelompok wahabi dan salafy kemudian bebas menginfiltrasi relung pikiran dan jiwa mereka.

Maraknya aplikasi whatsapp makin menyuburkan intoleransi. Ditambah dengan kepentingan politik, makin membuat pecah masyarakat. Lihat tudingan pencitraan, menista Islam, pro China, kafir dan jargon lain mudah tersebar. Akibatnya group whatsapp malah menjadi ajang atau media penyebaran kebencian baru selain media sosial. Bahkan beberapa diantaranya sudah meyakini pemerintah adalah thogut dan harus dilawan. Para pemilik faham radikalisme mengaleniasi diri dalam lingkungan ekslusif dan massif menguatkan diri mereka. Bagi yang sudah yakin, upaya membunuh polisi, orang berbeda agama, menyerang tempat ibadah orang berbeda agama makin marak.

Kita menjadi merasa asing dengan lingkungan kita, dengan tetangga kita, dengan saudara kita. Berbeda bukan lagi menjadi sunnatullah tapi menjadi musuh yang halal dimusuhi. Berbeda dengan kelompok lain akan mendapat pahala bahkan hadiah surga. Kondisi ini makin diperparah dengan politisi yang seakan-akan selalu melindungi para pelaku bom bunuh diri. Pada kasus terakhir penggrebekan mahasiswa di Riau ditemukan bom dengan daya ledak tinggi. Upaya polisi itu justru ditentang oleh Fachri Hamzah yang nota bene berasal dari partai Islam PKS yang semestinya mengharamkan tindakan pembunuhan.

Para pembela kelompok intoleran dan radikalisme ini terutama dari kalangan politisi sering berdalih bahwa pelaku bom bunuh diri adalah settingan, korban cuci otak, bagian dari intelejen dan lain sebagainya. Mereka menyodorkan fakta-fakta sumir untuk memperkuat alibi mereka. Jadi akankah kita membiarkan faham-faham intoleransi maupun radikalisme terus menyebar dilingkungan kita? Atau kita menunggu jadi korban mereka?

NYANG PENTING MESTI  DI INGAT

#2019BubarkanPKS,

#2019TenggelamkanPKS

#2019JanganPilihPKS

#2019BubarkanFPII,

#AwasBahayaLatenHTI

 Sumber : FB Susilo Silo

Tuesday, June 5, 2018 - 16:15
Kategori Rubrik: