Intelektual Monyet

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Akhir-akhir ini, saya memang memakai istilah Intelektual Monyet untuk menyebut para intelektual penghasut kegaduhan pasca Omnibus Law disahkan. Tidak untuk bermaksud merendahkan dalam hal fisik, namun lebih kepada perilakunya yang mirip dengan monyet. Dimana binatang yang satu ini tak akan pernah melepaskan pegangan tangannya sebelum menemukan pegangan dahan lain saat ia bergelantungan kesana kemari.

Kalau bangsa ini mau belajar dan jujur, kegagalan mewujudkan cita-cita Reformasi bisa jadi salah satunya karena ulah para Intelektual Monyet ini. Ketika Orde Baru begitu kuat berkuasa, ia hanya diam membisu dan bersikap ABS (Asal Bapak Senang). Bahkan bisa dikatakan, rezim saat itu adalah "dahan" bagi mereka untuk berpegangan.

Namun ketika kekuasaan Orde Baru dalam titik kritis mengalami krisis ekonomi dan politik, tiba-tiba saja ada Intelektual Monyet yang "mencuri panggung" dan tampil sebagai Bapak Reformasi. Ia begitu cerdas memanfaatkan momentum menjelang kejatuhan rezim. Sementara figur simbol perlawanan yang sesungguhnya justru terpinggirkan dari panggung. Dan Intelektual Monyet inilah yang kemudian tampil sebagai King Maker pasca kejatuhan rezim Orde Baru.

Yang terjadi selanjutnya, Cita-Cita Reformasi ternyata hanya sebatas retorika. Justru malah "Bapak Reformasi" hampir saja membubarkan NKRI dengan usulan Negara Federal untuk Republik ini. Tokoh-tokoh simbol perlawanan atas penindasan, ia usung menjadi Presiden untuk dijatuhkan. Hingga pada akhirnya, hanya dirinya yang merasa satu-satunya menjadi figur penentu nasib Republik ini. Untunglah ia tak pernah terpilih menjadi Presiden meski sampai Kiamat akibat Kualat.

Kini, bibit-bibit penerus Intelektual Monyet mulai bermunculan. Bisa jadi, pas Reformasi 1998 dulu, mereka sebenarnya juga pencuri panggung. Tak pernah merasakan intimidasi, melakukan aksi mogok makan, menjahit mulut sebagai simbol pembungkaman, atau bahkan merasakan dikokang senjata tentara. Mereka kini menjadi penghasut kegaduhan. Mungkin orang-orang ini menganggap Jokowi akan bernasib sama seperti Orde Baru. Makanya skenario ala 98 berusaha mereka jalankan. Ya iyalah, Ilmu dan jurusnya kan mirip dengan Sengkuni itu!

Dengan retorika yang ndakik-ndakik mereka mampu menghipnotis dan memanfaatkan Mahasiswa yang bau kencur dan butuh pansos untuk turun ke jalan. Padahal bedanya jelas! Jokowi sangat dicintai Rakyatnya, sementara Soeharto begitu membungkam dan menindas. Intelektual Monyet kekinian ingin tampil sebagai simbol perubahan. Padahal mereka adalah para cecunguk yang sudah menjadi catatan. Menjadi Catatan Sejarah yang nyaris membuat Negeri ini jadi ajang pertumpahan darah. Catat!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

 
 
Thursday, October 29, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: