Intelejen Taliban

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Pernah dengar ujaran bahwa "Islam adalah Agama Teroris"? Setujukah kita dengan ungkapan itu? Saya termasuk yang tidak setuju! Tapi ketika faktanya pelaku pengeboman adalah pemeluk Islam, bisakah disangkal?

Sama halnya ketika kader NU terjerat Kasus Korupsi. Dalam kasus Kemenpora misalnya. Apakah berarti "Korupsi itu Kultur NU"? Tentu bukan! Nah disinilah kejernihan pikiran kita diuji. Ada apa dibalik fenomena ini.

Salah satu kelebihan orang-orang NU terutama pada Kyainya, dalam menyikapi sesuatu tidak hanya melihat dhahirnya (yang tampak) saja. Itulah kenapa Kyai Sa'id Aqil pernah mengatakan "Semakin panjang jenggotnya, berarti semakin goblok". Apakah berarti beliau menentang Sunnah Rasul? Padahal jelas-jelas terdapat Hadits terkait anjuran memelihara jenggot. Masalahnya, saat ini banyak yang tidak memahami anjuran itu secara kontekstual. Bahwa Hadits itu diturunkan untuk membedakan antara Muslim dan Majusi.

Pertanyaannya, kontekstualkah pembeda ciri fisik seperti di atas untuk saat ini. Malah kini jenggot dan cingkrang bisa dijadikan "alat identifikasi" bagi kelompok yang justru ingin menghancurkan Islam dari dalam. Golongan ini dianggap memahami Islam hanya secara tekstual. Sampai-sampai secara gamblang, Kyai Said mengatakan jenggot semakin panjang, semakin goblok.

Kembali lagi pada Kasus Menpora. Warga NU juga terbelah. Saya termasuk yang memberikan "warning" adanya gejala "kriminalisasi" NU oleh Kelompok Taliban. Sementara teman saya mengatakan tidak ada kaitannya dengan Talibanisasi. Bahkan ia mengatakan bahwa Imam Nahrawi sudah kualat Gus Dur! Celakanya lagi, ke-Gusdurian-an saya mulai ikut diragukan. Dan kita harus turut bersyukur NU dibersihkan dari orang-orang yang korup oleh KPK.

Saya jadi teringat ketika maraknya seruan matikan TOA Masjid. Alasannya yaitu demi semangat toleransi. Saat itu saya malah menentangnya dan tetap menginginkan TOA menyala. Apakah saya melemahkan semangat toleransi yang diajarkan Gus Dur? Tidak! Saya mengatakan dibalik seruan ini ada agenda tersembunyi. Yaitu "Gerakan Merebut Masjid" oleh Kelompok Radikal. Mereka sudah berhasil dan banyak menurunkan Bedug. Masjid yang bedugnya sudah turun, berarti sudah berhasil dilemahkan. Selanjutnya mereka akan menurunkan TOA. Dan ketika TOA sudah turun, pengajian (baca: doktrin) dalam senyap sangat mudah dilakukan. Jika gerakan ini tidak ditangkal, jangan heran suatu saat tiba-tiba separuh lingkungan kita terpapar paham radikal, menjadi sel tidur, dan siap sewaktu-waktu untuk dibangunkan. Alhamdulillah, kini seruan matikan TOA tak segencar dulu karena agenda terselubungnya telah terbaca.

Sama halnya dengan konteks kasus korupsi yang akhir-akhir ini mulai menyeret-nyeret nama NU. Kalau boleh jujur, sebenarnya dimulai saat kasus KH. Fuad Amin (alm). Kini berlanjut ke kasus Rommy yang menyeret-nyeret nama Khofifah, Menag Lukman Hakim sampai bahkan Kyai Asep. Dan terakhir kasus Suap Kemenpora yang mencatut kegiatan Muktamar NU. Apakah terus kemudian saya membela perilaku korupsi? Melemahkan KPK? Tidak!

Patut diwaspadai dan diduga adanya gerakan yang mengidentifikasi "titik lemah" sasaran yang dibidik. Dalam hal ini saya bicara konteks NU. Mereka faham betul dalam kultur NU, menyumbang dana adalah hal yang wajar bahkan dianjurkan. Apalagi kepada Kyai atau Pesantren. Sayangnya, kader NU yang kemudian menduduki jabatan publik, sering "gagap" administrasi dan birokrasi. Lupa atau bahkan tidak bisa melepas bajunya sebagai Kyai atau Santri. Contohnya seperti sosok KH Fuad Amin. Beliau sudah sangat kaya bahkan sejak sebelum KPK berdiri. Tapi ketika menjadi pejabat publik, banyak celah untuk terseret kepada kasus korupsi karena biasnya posisi antara Kyai ataukah Pejabat Publik. Sama halnya dengan orang-orang di Kemenag pada kasus Rommy. Begitu pula dengan kasus di Menpora. Bahkan Imam Nahrawi mengaku tidak tahu menahu adanya aliran dana ke Muktamar NU 2015.

Nah, kultur pesantren ini yang rupanya bisa jadi dianggap sebagai "titik lemah" oleh golongan yang dituding sebagai Kelompok Taliban di KPK ini. Mereka bisa saja memanfaatkan pion semacam Sekjen KONI sebagai rekoset (pantulan peluru). Tidak cukup di situ, masyarakat dan bahkan jamaah NU juga dibuat bingung. Melalui manajemen konflik, isu didesain sedemikian bias. Membentuk dan membenturkan antar kubu pendukung yang berseberangan. PBNU dan Keluarga Gus Dur. Antara Mahasiswa dan Pemerintah. Kelompok Mahasiswa satu dengan Mahasiswa lain. Polri dengan KPK sendiri. Termasuk keterbelahan masyarakat. Goalnya, ini adalah rezim yang tidak mampu menciptakan situasi kondusif dalam bernegara. Dan NU sebagai penjaga NKRI mengalami degradasi moral dimana banyak kadernya yang terjerat Kasus Korupsi. Nah!

Semua desain diatas hanya bisa dilakukan oleh sekelompok orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kalau isu Taliban itu benar adanya, maka bisa dikatakan ini adalah desain "Intelijen Taliban". Dan NU harus segera melakukan Kontra Intelijen untuk menangkal agenda tersebut. Juga yang terpenting, warga NU harus kompak. Ini bukan sekedar masalah Imam Nahrawi yang kualat Gus Dur. Dan biarlah Nahrawi membuktikan di pengadilan kalau memang (merasa) tidak bersalah. Yang perlu diwaspadai yaitu adanya upaya melemahkan NU secara moral. Agar kalian tak lagi bangga menjadi Nahdliyin. Padahal di tangan kalianlah kokoh tidaknya NU sebagai Benteng NKRI. Hubbul Wathan minal Iman! Bukan Khilafah Solusinya!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Saturday, September 21, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: