Integritas

ilustrasi
Oleh : Efron Bayern
Anak lanang saya pernah bertanya, “Pak, apa artinya integritas?” Saya menjawab, “Kalau kamu tetap belajar walau tidak diawasi oleh bapak dan ibu, itu artinya kamu punya integritas.”
Bacaan Injil secara ekumenis untuk Minggu ini diambil dari
Yohanes 1:43-51 yang didahului dengan 1Samuel 3:1-10, (11-20), Mazmur 139:1-6, 13-18, dan 1Korintus 6:12-20.
Bacaan Injil Yohanes 1:43-51 mengisahkan perekrutan murid oleh Yesus. Setelah merekrut tiga orang murid termasuk Andreas dan Simon Petrus, Yesus hendak pergi ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus dan merekrutnya. Filipus meyampaikan berita itu kepada Natanael dan ia datang kepada Yesus. Yesus memuji Natanael sebagai seorang Israel sejati yang tak munafik. “Bagaimana Engkau tahu?” tanya Natanael kepada Yesus. Jawab Yesus, “Sebelum Filipus memanggilmu, Aku tahu kamu duduk di bawah pohon ara.” Natanael kaget dan langsung memuji Yesus. Yesus menyambung, “Aku melihat kamu di bawah pohon ara, kamu percaya. Kamu akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” (ay. 50).
Mengapa Yesus menyebut Natanael sebagai orang yang tak munafik? Ketika Filipus menyampaikan berita tentang Yesus, Natanael berkomentar, “Mungkinkah suatu yang baik datang dari Nazaret?” (ay. 46). Natanael melontarkan apa yang ada di pikiran dan hatinya secara apa adanya. Tidak ditutup-tutupi. Menurut Tesamoko munafik bersinonim dengan bermuka dua, hipokrit, pura-pura, nifak, culas.
Penulis Injil Yohanes tampaknya hendak memuji tokoh Natanael yang tidak munafik menurut Yesus. Munafik berantonim atau berlawan makna dengan integritas. Menurut C.S. Lewis integritas merujuk orang yang melakukan hal-hal yang benar tanpa perlu pengawasan. Dengan kata lain Natanael merupakan orang yang berintegritas. Ia akan mengemban amanat dan ia mengerjakan semua amanat itu dengan benar, walau si pemberi amanat tidak mengawasinya. Menilai seseorang berintegritas bukan dilihat dari apa yang dinyatakannya lewat kata-kata, melainkan dari bukti nyata dari apa yang sudah dikerjakannya.
Beberapa hari lalu diwartakan bahwa Presiden Jokowi merekrut Listyo Sigit Prabowo untuk posisi KAPOLRI. Dengan mengandaikan tidak ada aral-melintang Listyo akan dilantik menjadi KAPOLRI pada akhir bulan ini. Perekrutan Listyo oleh Jokowi tentu saja bukanlah suatu kebetulan. Sudah direncanakan oleh Jokowi sejak hari pertama ia menjadi presiden seperti halnya pengangkatan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Listyo dan Hadi pernah bekerja sama dengan Jokowi di Surakarta ketika Jokowi menjadi walikota. Saya tidak akan mengulas lebih lanjut tentang itu. Saya tertarik menyejajarkan pertanyaan Natanael di atas: “Mungkinkah suatu yang baik datang dari Surakarta?”
Apa dan bagaimana tanggapan gereja? Saban pengumuman kabinet sejak zaman Orde Baru pada umumnya orang Kristen bertanya-tanya dan berharap-harap cemas: ada berapa menteri yang beragama Kristen? Rasa ini manusiawi dan lumrah. Mereka tentu berharap kehadiran mereka bermaslahat bagi gereja. Pertanyaannya apa benar mereka bermaslahat bagi gereja? Apa gereja sudah menggunakan mereka bagi kemaslahatan gereja? Dalam arti sempit gereja memang sudah memanfaatkan mereka, namun belum memaslahatkan mereka. Gereja masih memanfaatkan kuasa mereka bagi gereja. Secara lebih luas gereja tidak memanfaatkan mereka untuk kemasalahatan gereja. Gereja belum menggali potensi mereka untuk memantapkan jatidiri gereja seperti yang sudah diperagakan oleh T.B. Simatupang. Warisan pemikiran beliau menancap kukuh di dalam gereja.
Dalam konteks Indonesia berita dan kehadiran Kerajaan Allah tidak sama dengan kehadiran dan perkembangan gereja. Dalam hubungannya dengan negara gereja mestilah menghadirkan Kerajaan Allah dengan ciri-ciri keadilan, damai sejahtera, dan keterpaduan ciptaan. Berpautan dengan keterlibatan gereja dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik negara, terlebih-lebih yang setahun ini dijejali persoalan Covid19, gereja mesti melakukan apa yang sudah dilakukan oleh para nabi, yaitu menyuarakan ulang kehendak Allah, yaitu keadilan, damai sejahtera, dan keterpaduan ciptaan. Gereja mesti membuka jalan agar produk dan pelaksanaan hukum berdasarkan atas keadilan Allah yang mengarah terciptanya suatu sistem sosial yang menyediakan suatu bagian yang adil bagi lapisan terbawah masyarakat. Akan tetapi apabila gereja tidak beranibersuara, boro-boro melakukannya, maka orang seperti Listyo menjadi hampa tak berguna.
Pada Desember lalu masyarakat dikejutkan dengan penangkapan Mensos Juliari Batubara oleh KPK atas dugaan korupsi Bansos Covid19. Juliari adalah penganut Kristen. Ia berkhianat. Ini tamparan keras bagi gereja agar tidak lagi bersandar pada penguasa. Gereja tidak perlu terpesona pada warga gereja yang menduduki posisi penting di Pemerintahan, tetapi bagaimana gereja menjadi hamba Kerajaan Allah yang berani untuk terus-menerus menyampaikan suara kenabian agar pemegang kuasa tetap berintegritas.
Perekrutan dan penunjukan Listyo memangku jabatan KAPOLRI oleh Presiden Jokowi sepatutnya dipahami seperti perkataan Yesus dalam merekrut Natanael menjadi murid-Nya, “Kamu akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Apakah itu? Indonesia yang berkeadilan, damai sejahtera, dan keterpaduan ciptaan. Perlu tetap diingat dari 12 murid yang direkrut Yesus ada satu murid yang berkhianat. Jangan sampai Listyo menjadi seorang Yudas Iskariot. Insya Allah, ia murid yang berintegritas.
Quote of the day: “A hypocrite is more dangerous than a dishonest man. A dishonest man deceives and cheats, but a hypocrite betrays and swindles.” Chia Thye Poh
Wassalam,
MDS
Sumber : Status Facebook Efron Bayern
Sunday, January 17, 2021 - 11:15
Kategori Rubrik: