Integritas Diri

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan pengampunan, siapa yg diizinkanNya meraih kesempatan itu, maka dia akan menjadi manusia paripurna, dizinkan mengarungi samudra kemaha kasih sayangNya, ampunanNya, ridhoNya atas semua aktifitas kita dalam lingkup kebaikan, karena tanpa izinNya manusia lemah seperti kita tidak akan mampu apa-apa.

Apakah izinNya akan diberi tanpa diminta, tentu tidak, karena semua harus dgn usaha dan keinginan kesana. Kita bergerak, maka Tuhan bergerak. Engkau berjalan, Aku berlari, Engkau mendekat, akan Kudekap, Aku lebih dekat dari urat lehermu, itu kata Allah dalam hadist Qudsy. Niat saja sudah di catatNya, itulah Allah dgn maha kasihnya, tapi kita selalu abai dan kadang lupa denganNya. Padahal daun kering yg jatuh masih dalam urusannya.

 

Integritas, ya integritas, itulah kunci keberhasilan pribadi dalam segala hal. 

Bahkan kepada diri sendiri harus punya integritas, kepada keluarga, pekerjaan, sosial, dst, apalagi kepada Tuhan. Arti dari integritas adalah berpikir, berprilaku, berkata dan bertindak dgn baik dan benar, semua dalam satu kesatuan yg tidak bisa dipilah satu dgn lainnya.

Kondisi kita yg nyaris tanpa kualitas, baik beragama, bersosial, berkeluarga, bekerja, bernegara, dst, karena integritas kita nyaris lepas dari akar yg seharusnya. Apakah dengan demikian kita masih layak disebut manusia, urusannya menjadi lain, karena outputnya akan diterima oleh lingkungannya.

Persoalan dasar kita yg carut marut secara akhlak karena integritas kita kepada Tuhan kacau, kalau dari sumber kebaikan itu kita lepas, maka bagaimana mungkin kita bisa menjalankan yg baik dan benar, kita terseret pada kebiasaan membenarkan yg biasa, bukan membiasakan yg benar.

Ramadhan tahun ini ditutup dgn berbagai model, kebiasaan kita adalah eforia tanpa bs menahan ria. Bahkan dalam kondisi dunia yg sdg mencekam karena wabah corona kita masih menunjukkan prilaku yg membingungkan, upaya pemerintah menanggulanginya direspon bak manusia bisu tuli, semua nyaris tak diindahkan, berkerumun dan lalu lalang, bahkan sekelas, anggota DPRD, Dokter, juga yg diposisikan sbg ulama dan habib, prilakunya seperti orang kesetanan tak mengerti aturan.

Itulah contoh nyata bahwa integritasnya lepas dari dirinya, manusia seperti ini menyerap naluri yg maaf dari makhluk lain yg tidak sama dgn kita, pada titik itulah kita ditanya apakah kita masih golongan manusia atau mungkin hanya tinggal luarnya.

Tidak menghakimi antar kita, tapi menjadi contoh bahwa nilai manusia adalah dari prilakunya bukan dari tampilannya. Tepat pada penutupan Ramadhan teman-teman dari Yayasan Budha Tsu Chi menyerahkan ratusan rumah kepada warga korban bencana alam yll di Palu. Tuhan selalu menghadirkan keluasan hati kepada para relawan, pengurus, pendonor Tzu Chi. Kali ini tepat di bulan penuh berkah kunci rumah bantuan di serahkan.

Apakah Lailatul Qodar turun di Palu. Wallau a'lam. Tapi dimata kita mereka telah melakukan integritas sosial yg tinggi selama ini. Bagaimana kita, integritas kita kepada siapa, kepada apa, dimana, dan kapan kita lakukan, integritas tidak datang dan pergi, karena prosesnya dari kematangan diri, dan tak lekang saat di caci maki.

Bertindaklah, Karena buat apa kita punya dua kaki kalau hanya untuk berdiri. Kita tidak bisa merubah arah angin, tapi kita masih punya layar untuk menyesuaikannya.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, May 26, 2020 - 07:30
Kategori Rubrik: