Insyaf

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

KH. Zaenudin MZ sudah tiada, namun banyak pelajaran yang beliau sampaikan masih berbekas sampai sekarang.

Salah satunya yang paling berbekas buat saya, bukan ceramahnya, tapi pengalaman hidupnya sendiri. Beliau pernah terjun ke dunia politik praktis yang asing dan tidak kenal nurani itu.

Mungkin eforia saat itu membisikkan untuk turun gunung ke pentas politik. Mulai dari ikut partai orang lain sampai akhirnya bikin partai sendiri.

Tapi . . .

Lain ketika jadi penceramah, lain pula ketika jadi politikus. Sewaktu ceramah, beliau dipuja-puja orang dimana-mana, bahkan disediakan helikopter. Beliau dapat gelar da'i sejuta umat, yang orang sirik suka memplesetkan jadi da'i sejuta rupiah. Sejuta untuk tahun 80-an itu mahal banget. Pokoknya kelasnya diundang ke istana oleh pak Harto.

Tapi begitu jadi politikus dan berkampanye, yang dulu jadi pemuja berbalik jadi musuh besar. Dimana-mana habis lah beliau dimaki-maki orang, bahkan diusir disuruh pergi. Politik memang kejam, tidak peduli mau ustadz, kiyai atau pun da'i. Kalau sudah tidak suka, habisi saja.

Partainya pun keok, jeblok tak dapat suara. Singkatnya : kalah!!!

Namun Beliau pandai membaca situasi, tidak ngotot mau menang melulu apapun caranya. Beliau tidak punya potongan berpolitik macam itu. Beliau tidak permah berpikir bahwa politik dan kekuasaan adalah jalan satu-satunya menuju kemenangan.

Islam itu rahmatan lil alamin. Beda partai, beda aliran politik, beda pilihan calon pemimpin, tidak harus jadi musuh. Tidak perlu bawa-bawa ayat hadits untuk masalah beginian.

Yang dilakukan adalah balik kanan grak, kembali ke mode asli, menekuni profesi aslinya sebagai guru, ustadz dan penceramah, yang teduh, damai, berdiri di atas semua kelompok dan golongan. Tidak main politik praktis lagi. Tidak jadi faktor pemecah belah umat. Tidak ada pihak yang merasa beliau kiyai sini atau kiyai sana. Beliau itu kiyai kita semua.

Namanya tetap harum sampai sekarang, meski sudah tidak lagi membersamai kita. Sekelas beliau saja bisa evaluasi diri. Sayang banyak yang lebih junior tapi nggak insyaf-insyaf juga.

Lahul fatihah . . .

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

Friday, April 26, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: