Institut Tarbiyah Bandung?

ilustrasi

Oleh : Prasetyo BoediFrast

Ulang Tahun ke 100 ITB kenapa kalah peringkatnya dengan di bandingkan Nanyang Technological University (NTU) dan National University of Singapore (NUS) memimpin jajaran universitas terbaik di Asia pada 2020 versi QS World University Ranking?

Itu karena ITB di kuasai oleh kader2 Masyumi yang tergabung di HMI --Yang memakai Masjid sebagai pusat kegiatan Religio Politik di bandingkan pengembangan Science.

Kelompok HMI yang aktif di Masjid salman ini berusaha memadukan Rasionalisasi modern, sains dan teknologi dengan doktrin Islam, menurut standar Argumen dari kelompok ini di Bandung penemuan saintifik dengan Doktrin Islam adalah komplementer -- dan ternyata gagal bukan scientist muslim dengan penemuan-penemuan tingkat nabel yang di lahirkan tapi justru melahirkan politisi-politisi yang suka memainkan isyu agama dalam gerakan politiknya

Masjid yang dibangun kakak-adik Ahmad Sadali (pembuat logo HMI) dan Ahmad Noe’man pada 1963 ini, oleh Imaduddin Abdul Rahiem berubah menjadi gerbong dakwah Islam. Bang Imad yang berapi dan Sadali yang teduh membawa Salman ITB mendobrak praktik keberagamaan dalam kampus.

Lewat Bang Imad, mula-mula puluhan anak muda dipanggil dan digembleng di madrasah bernama Latihan Mujahid Dakwah (LMD). Kronik 1974 mencatat tahun itu menjadi tonggak lahirnya dakwah dalam kampus yang sifatnya “sekuler” (di luar IAIN) di masa orde militer Harto. LMD, dengan metode cuci otak dan “membersihkan” akidah mahasiswa, menjadi jalan awal perjuangan dakwah dalam kampus.

Resep Bang Imad itu terbukti manjur menarik minat. Bukan hanya dari kampus ITB, tetapi juga mahasiswa dari kampus lain. Alumni-alumni kader LMD didikan Salman ITB kemudian jadi anak panah hadirnya badan kerohanian di kampus-kampus. Masjid Arief Rahman Hakim di UI Jakarta menjadi basis dakwah dengan kegairahan baru. IPB Bogor melahirkan Badan Kerohanian Islam (BKI). Gairah yang ditabur Salman ITB itu menggeliat pula di Jamaah Salahuddin UGM dan ITS Surabaya.

Tidak berhenti di sana, kader mujahid dakwah Salman ITB itu juga terlibat dalam “pemakmuran” masjid secara umum dengan membentuk Badan Koordinasi Pemuda Masjid (BKPM). Dari lembaga ini lahir generasi takmir masjid dengan napas baru dan wajah segar yang umumnya dipundaki anak-anak muda.

Dari Masjid Salman kemudian lahirlah gerakan2 politik berbasiskan Agama ---- PKS & PAN adalah salah satu hasil karya aktivis masjid Salman di masa lalu.

pada tahun 1974,Imadudin Abdurrohim mendirikan Lembaga Mujahid Dakwah (LMD) sebagai tempat penempaan para aktifis dakwah khususnya di lingkungan mahasiswa. Kegiatan LMD ini meruapah realisasi dari usaha DDII untuk menjadikan
kampus sebagai sasaran dakwah. Pada tahun 1968 DDII menyusun program pelatihan yang diperuntukkan bagi isntruktur universitas yang merupakan alumnus berbagai organisasi pelajar Islam. Kegiatan ini diawali dengan 40 instruktur dari universitas-universitas di daerah Bandung yang digembleng di asrama haji Kwitang Jakarta. Imadudin Abdurrohim adalah salah seorang pesertanya. Pada 1974 DDII mengawali usaha yang lebih sistematik yang berbasis kampus yang disebut Bina Masjid Kampus. Produk terpenting dari program ini adalah apa yang disebut Latihan Mujahid Dakwah yang berbasis di Masjid Salman ITB.

Melaui berbagai kegiatan LMD ini, persentuhan awal para aktifis dakwah kampus dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin terjadi. Melalui Imadudin, mereka berkenalan dengan pokok-pokok pemikiran Ikhwanul Muslimin dan manhaj dakwah organisasi yang lahir di Mesir ini. Imadudin sendiri
bersentuhan dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin ketika ia menjadi bagian dari jaringan aktivis gerakan Islam Internasional. Dalam kapasitasnya sebagai ketua umum PB LDMI, Imadudin terpilih sebagai Sekretaris Jenderal International Islamic Federation of Student Organization (IIFSO), yang mengantarkannya berkenalan dengan tokoh-tokoh dan pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin.

Pertautannya dengan pemikiran-pemikiran gerakan Islam international danketerlibatanya di aktifitas ABIM inilah yang dalam beberapa segi mengentalkan pemikirannya untuk membangun model gerakan Islam yang lebih serius dan sistematis. Selain itu, interaksinya yang cukup intens dengan tokoh Masyumi, sperti Muhammad Natsir, memperjelas visi ke-Islaman-nya. Muhammad Natsir sendiri juga dikenal sebagai tokoh Islam yang sangat sering mengikuti berbagai pertemuan di forum negara2 Islam.

Berkat Pak Natsir dan Bang Imad yang suka main2 ke luar negeri inilah kemudian masuk Ideologi Ikhwanul Muslim juga Hizbut Tahrir --- jadi paham kan kenapa ITB peringkatnya jeblok dan gagal menghasilkan Ilmuwan2 kelas dunia? -- itu adalah kegagalan Gerakan Islam di ITB (oh ya kader Masjid salama antara lain Hatta Rajasa, Din Syamsudin --dan walopun bukan anak ITB Amien Rais juga didikan LDM yg awalnya ada di masjid Salman dan belakangan masuk ke UGM.

Pendirian Masjid Salman telah di rencanakan sangat lama oleh sekumpulan aktivis Islam di dalam kampus ITB sejak tahun 1958. Namun ada hambatan-hambatan baik halangan material maupun Psikologis, terutama tidk ada dukungan dari pihak rektorat yang tidak mendukung ide pembangunan masjid di dalam "benteng Intelektual Sekuler"di ITB. Ini menjadikan Masjid Salman terhambat hingga baru selesai tahun 1972.

Berkah dari pembersihan kampus ITB dari kelompok dosen dan Mahasiswa kiri dan yang Nasionalis pro Soekarno ini yang menjadikan Masjid Salman menjadi eksis selama di awal2 Orde Baru.

Pendirian Masjid-masjid di kampus sekuler terkemuka (UI, ITB dll) kebanyakan muncul di era Orde baru, sebetulnya itu ide dari sosok Imaduddin ini yang kemudian di dukung penuh oleh "GodFather" Masyumi M. Natsir. Masjid2 itu selain untuk tempat ibadah juga menjadi sentral-sentral gerakan Religio-Politik ( berpolitik sambil bawa2 Agama yg merebak sekarang) . Masjid2 itu kemudian menjadi "base Camp" gerakan2 religio-politik dari mahasiswa universitas sekuler tumbuh subur di era Orde baru.

Sumber : Status Facebook Prasetyo BoediFrast

Thursday, August 13, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: