Inspirasi dari Pak Min si Tukang Parkir

Oleh: Djiang Rahardjo
 

Namanya pak Min.. pekerjaan nya tukang parkir di Waroeng Mbok Marni totogan. Orangnya tinggi tegap dan bersahaja.
Setiap hari selalu siap membantu para pelanggan mbok marni yg datang silih berganti. Macam2 tamu sudah dia temui dari yang ramah, sopan, yang baik sampai yang ga mau bayar parkir, yg bayar parkirnya semau nya sampai yg marah2 tidak jelas.
Semua dia jalani dengan perasaan adem meskipun dia lebih sering dalam keadaan kepanasan krn terik matahari yang menyengat.

 

 

Semboyan nya adalah hidup jujur, nerima apa adanya, rejeki ada di tangan Tuhan begitu tukasnya. Di kala suatu saat ada tamu yg mau nya bayar parkir mobil cuman 700 rupiah, dia cuman tersenyum dan tetap melayani seperti biasa dengan ramah. Bagi dia pekerjaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan sukacita. Saat itu dia hanya berkata "ah nanti kan Tuhan yang ganti".. ternyata sore harinya ada tamu pelanggan di mbok marni yang memberi dia dengan bayaran cara menggenggam tanggan nya dan lgs memintanya memasukkan di sakunya supaya pak Min tdk lgs tau diberi brp.. dia jg tdk langsung membuka nya utk mengecek tp memberikan aba2 seperti biasa dengan sigap dan sopan.. setelah tamu selesai dan pulang, betapa kagetnya dia ketika melihat ternyata tamu tadi memberi dia 1 lembar 100rb yg dilipat. Memang filosopinya benar adanya bahwa rejeki Tuhan ga kemana.

Ada suatu kejadian yang menarik dimana dia menemukan barang milik tamu yg terjatuh di parkiran. Dia tidak tau barang itu milik siapa karena tamu tsb sdh terlanjur pulang. Besoknya dia melihat seorang ibu2 yg kebingungan mencari2 sesuatu. Saat pak Min menegurnya "cari apa bu? " si ibu itu hanya menggeleng dengan lemas. Ndak kok pak. Mungkin karena takut atau malu si ibu itu bergegas pulang. 3 hari kemudian, dia melihat si ibu itu kembali di lokasi parkiran sambil kebingungan dan tetlihat mencari2 sesuatu. Pak Min menegurnya "sudahlah ibu bilang saja, ibu cari apa, siapa tau sy bisa membantu". Lalu si ibu itu menceritakan bahwa dia kemarin kehilangan gelang emas peninggalan dari mertua nya yg sdh meninggal. Dia takut sekali kalau sampai suaminya tau krn barang itu memiliki nilai sentimental yg tdk kalah dengan harganya. Si ibu itu lalu bercerita bahwa gelang emas itu kalau dijual di pasaran nilai nya bisa mencapai 500 juta rupiah. Gelang emas bertahkan berlian yg sangat berharga.

Pak Min dengan santai menanyakan ciri2 dan bentuk dari gelang emas tersebut. Setelah kira2 cocok dengan gelang yg dia temukan dia bilang sama ibu itu " tunggu sebentar ya bu" lalu pak Min bergegas pulang ke rumah dan mengambil gelang tsb. Betapa lega dan terharunya si ibu menemukan kembali gelang nya yg hilang. Dia terduduk menangis haru dan lega dan pak Min pun ikut sumringah melihat kelegaan si ibu tsb. Sbg ungkapan terima kasih kpd pak Min, si ibu ini memberi pak Min 1 juta rupiah, namun pak Min menolak dengan halus. Katanya tidak perlu sebanyak ini.. sy sudah senang bisa membantu katanya. Tapi si ibu itu terus memaksa dan akhirnya pak Min menerima pemberian ibu tsb.

Lalu uang 1 juta itu dipergunakan pak Min utk apa? Ternyata uang tsb tidak digunakan nya utk kesenangan pribadi nya atau utk membeli barang. Uang itu dipergunakan nya untuk membuat atap oning gereja tempat dia beribadah karena belakangan ini sering hujan deras. Kebetulan gereja tempat pak Min beribadah letaknya di dalam kampung dan tidak memiliki banyak dana. Bahkan ternyata uang 1 juta itu masih kurang dan dia pun mengeluarkan beberapa ratus ribu lagi dari simpanannya supaya bisa memperbaiki gereja tersebut.

Saat saya mendengar cerita tersebut, sy begitu mengagumi sosok pak Min yang rendah hati dan luar biasa mulia hati nya ini. Benarlah bahwa kita tidak pernah bisa menilai hati seseorang hanya dari penampilannya saja. Kalau di lihat dari pekerjaan nya yg hanya tukang parkir pasti banyak kebutuhan2 lain yg bisa dia beli kalau saja dia menyimpan gelang emas itu untuk dirinya sendiri. Namun prinsip hidupnya yang lurus menolak rejeki yang bukan miliknya. Dia berkata saya lebih takut kepada Tuhan untuk menyimpan yg bukan miliknya.

Dia lalu menceritakan pula bahwa kedua anaknya lulus dan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Pak Min bercerita kalau biaya kuliah ke dua anak nya bisa puluhan juta rupiah karena masuk di perguruan tinggi yang cukup terkenal di bandung dan jakarta. Namun dia bersyukur bahwa semuanya itu gratis karena anaknya mendapat beasiswa.

Sungguh sy belajar banyak hal ttg kehidupan dari pribadi pak Min ini. Kejujuran, kebaikan, kesederhanaan, keramahan dan masih banyak hal lagi prinsip tentang kehidupan. Kebaikan yg selama ini dia lakukan ternyata berbuah manis bagi keluarga dan anak2nya.

Teman2 semua, kita juga bs belajar tentang makna kehidupan dari kejadian di atas. Pada saat kita berbuat kebaikan percayalah, semua itu akan kembali lagi kepada kita dan anak2 kita.

 

(Sumber: Facebook Djiang Rahardjo)

Monday, May 8, 2017 - 03:45
Kategori Rubrik: