Insan Ber"Agama"

ilustrasi

Oleh : Aizza Ken Susanti

Ngangsu kawruh di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara sudah pasti membuat saya jadi bagian minoritas di sini. Beberapa teman sering menyangka saya non muslim karena saya tak berjilbab, beberapa dosen dan atau Romo pun sering keliru.
Tapi saya punya kebiasaan yang tak bisa hilang, kalau mengeluh akan berujar, "Ya Allah.... Astaghfirullah...." Dan saat bersin akan berucap, "Alhamdulillah."

Baik di luar kelas maupun di dalam, ujaran itu seperti melekat di bibir saya. Lagipula saya merasa tak perlu menutupi keimanan saya (meskipun sebenarnya itu ucapan sudah jadi refleks, nggak mungkin bisa ditahan).

Kebetulan kemarin malam saat kelas perkuliahan FENOMENOLOGI AGAMA: TUHAN, TUBUH, DAN ALTERITAS, Romo sontak mendengar ucapan saya saat bersin.

Romo sempat melirik ke saya. Lalu beliau melanjutkan kuliahnya. Beliau sedang menjelaskan Scopus, Aquinas, dan selebihnya tebak-tebakan tak berhadiah tentang beberapa pemikiran abad pertengahan. Kemudian sambil melirik saya (atau mungkin hanya perasaan saya saja), Romo berujar.

"Kita tak boleh menutup apresiasi atas jasa cendekiawan muslim di abad ke-9. Yang menerjemahkan Kanon dan kitab penting dari para pemikir Yunani ke bahasa Arab. Sebab karena itulah kita (kaum Kristen) jadi bisa membaca dan menerjemahkannya lagi ke bahasa Latin. Hingga saat ini kita (kaum modern) sanggup membacakan lagi ke dalam bahasa lain dan diulas oleh para pemikir lain hingga bahkan bisa sampai kita ulas saat ini di kelas."

"Dan dua cendekiawan muslim yang banyak menyumbang pemikiran besar kepada Barat adalah Avicenna dan Averos (Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd)."

Memang, baik dalam ilmu pengobatan/kedokteran dan rasionalitas Kebertuhanan, Avicenna tiada tanding. Karya ternamanya; Qanun (Kanon) Al Thib dan Asy Syifa (kitab tentang pengobatan an kedokteran) serta Mantiq Al Masyiqin (Logika).

Sedangkan Averos sendiri mewabah di Barat seperti jamur di musim penghujan. Beberapa pemikirannya adalah rasionalitas atau 'sebab alasan adanya' Tuhan yang nantinya diadopsi Aquinas.
Pemikiran Averos atau Ibnu Rusyd sempat menjadi momok bagi Gereja Katolik Roma. Uskup Paris Etiene mengeluarkan larangan doktrin beberapa ajaran Averos dan Aristoteles.
Tentu saja, Barat mengenal Aristoteles dari buku-buku terjemahan dan tafsir Averos. Pada masa ini para murid skolastik makin banyak karena mulai muncul tantangan untuk memecahkan diskursus dogma dengan cara rasional.

Jangan berpikir Vatikan jahat karena melarang pemikiran Averos. Para ulama Islam di zamannya pun bahkan lebih banyak yang menganggapnya sesat.Puk-puk::
Dante Alighieri bahkan membuat puisi tentangnya, Averos digambarkan duduk di tepian neraka bersama Salahuddin Ayyubi dan beberapa filsuf Islam lainnya.

Abad pertengahan adalah sesi zaman terpanjang, di mana kata dosen kami, sesungguhnya tidak gelap-gelap amat (entah kenapa zaman ini disebut zaman kegelapan). Namun pada faktanya, filsuf pada saat itu masih mengaitkan diri dengan Tuhan. Sedangkan identifikasi Filsuf kontemporer
harus selalu -takberbicara tentang Tuhan-.

Menjadi Islam saat ini lebih sulit ketika justru berada di antara mereka yang merasa diri paling Islam. Itu kesimpulan saya. Sebab sejauh pengalaman saya, saya merasakan atmosfer egaliterian (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi) dengan kawan Kristen/Katolik, dengan kawan yang NU (atau NU wanna be), dan dengan 'abangan'.

Menjadi Islam inklusi itu sebenarnya menenangkan, bertauhid dan beribadah tanpa harus mengkafirkan atau mendeskreditkan "liyan" itu mendamaikan. Justru makin mempertebal iman.
Dosen dan atau Romo di kampus sangat rendah hati jika membicarakan keimanan lain. Kerendah-hatian itu justru memperlihatkan kedalaman imannya yang tak terusik dan tak ingin mengusik "liyan".

Abdul Aziz mestinya bangga, setidaknya jutaan orang ingin membaca karya disertasinya -- meski jutaan pula yang mencaci maki tanpa mengerti apa yang ditulisnya. Memang berat jadi Islam, bung. Apalagi menulis sesuatu yang (dikhawatirkan) menggoncang iman. Tapi masih sangat banyak orang-orang berpikiran terbuka seperti banyak kawan saya dan dosen-dosen saya di STFD. Di luaran sana juga tak berkekurangan orang yang masih terbuka pada Logos dan logis namun nggak egois.

Jakarta, sedang mencari literatur untuk menanggapi pemikiran Aquinas untuk tugas bulan depan. Boleh beri masukan..

Sumber : Status Facebook Aizza Ken Susanti

Saturday, September 7, 2019 - 14:45
Kategori Rubrik: